
بسم الله الرحمن الرحيم
... Selamat membaca...
..........
Awalnya memang tidak sengaja, karna aku menyusul Hanna kedapur hanya untuk memenuhi permintaan ummi untuk memanggilnya. Namun aku yang terlanjur penasaran apa yang dilakukan mereka berdua disina. Memilih menguping satu hal yang tidak pernah aku lakukan, tapi sekarang aku lakukan dan menguping pembicaraan mereka. Aku tidak marah akan apa yang ia ucapkan pada Daniel, sama sekali tidak. Malah aku senang istriku peduli pada sahabatku yang memang memiliki kepribadian yang hampir sama sepertiku.
Saat Hanna mulai pergi dari sini, aku keluar dari persembunyianku dan hendak pergi juga. Namun ucapan Daniel membuatku berbalik dan menatapnya.
“kau menikahi perempuan yang luar biasa.”
Aku mengangguk setuju akan hal itu. Hannaku memang luar biasa. Mutiara putihku yang indah.
“memang.. dan dia adalah mutiara putihku yang berharga.” ucapku lalu pergi dari sana. Saat didapur ummi mulai protes padaku.
“disuruh manggil Hanna, kok jadi kamu yang lama disana.”
“ada apa?” tanyaku singkat, seperti biasa ummi menedengus sebal.
“sebel ummi sama kamu. Sana masuk aja kekamar, takut keblasbalasan keselnya!” usirnya. Dan aku pergi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Malam harinya setelah istriku selesai ibadah biasanya dia langsung tidur, tapi aku memintanya berpakain yang baik, dan dia tak berhenti bertanya tentang pakaian apa yang harus ia pakai, jadi dengan geram aku mengambil gamis pilihanku yang satu set dengan cadar dan kerudungnya. Lalu menyerahkannya padanya.
“terimakasih.” ucapnya dengan manis.
“cepetan!” bentaku kesal, perempuan ternyata sangat lama jika bersiap-siap.
“sabar dong suami.” ucapnya. Lalu masuk kekamar mandi untuk berganti pakaian.
“udah cantik gak?” tanyanya.
__ADS_1
“gak kelihatan!” jawabku seadanya, dan dia memutar bola mata jengah.
“memangnya mau kemana sih kak?” tanyanya.
“mau bertemu kolegaku.” jawabku datar, dia terkejut dan mulai panic, sepertinya aku salah memilih jawaban, tapi memang benar bukan.
“aduh.. bajunya cocok gak.. ini pertemuan formalkan.. dan aku gak malu-maluin kamu gak kak..? Terus-terus nanti.. kamu gak bakalan malu ya ngajak aku ketemu kolega kamu. Atau aku dirumah aja ya.. apalagi aku takut buat kamu malu, inikan kali pertama aku ikut ketemu kolega kamu.. jadi…” beruntunnya. Dan aku benar-benar kesal apalagi perkataannya. Malu.. jika saja aku tidak keberatan menunjukkan wajahnya dari balik cadarnya itu sudah aku lakukan.
“memilih terus bicara dan aku cium kamu disini sampai bibir kamu yang mungil itu bengkak dan kita gak pergi. Atau memilih ikut tapi diam!?” ucapku geram dengan nada dingin membuat dia berhenti berkata.
Lalu aku menarik tangannya dan menuntun langkahnya dengan aku berjalan didepan. Membukakan pintu untuknya, lalu bergantian aku yang masuk kedalam mobil. Dan dibelakang mobilku seperti biasa. Mobil Paman Anthony dan Daniel mengikuti dibelakang sebagai penjagaan.
Sesampainya ditempat janji. Disebuah lestoran mewah yang sudah aku pesan. Ruangan private. Dan pelayan itu menunjukkan tempatnya. Ruangan diatap dimana atapnya bisa dibuka sehingga pemadangan langit malam itu terpampang jelas. Dia menatap takjub kearah langit dengan mata indahnya yang berbinar. Hingga ia terkejut dengan makanan yang sudah terhidang dan cukup memenuhi meja.
“woa.. sejak kapan makanannya datang? Tanyanya.
“sejak kau sibuk memperhatikan langit” jawabku datar.
Tanganku sibuk memotong chiken katsu dengan saus kare dipinggirnya. Sedangkan Hanna terlihat bingung dan mencari sesuatu.
“koleganya mana?
“tak jadi datang” ucapku, lalu menyuguhkan chiken katsu yang sudah aku potong-potong dan mengambil miliknya yang masih belum terjamah. Aku bangun dan berdiri didepannya,, tanganku terulur menyibak cadarnya membuat dia spontan menutupu sebagian wajahnya.
“kakak!” protesnya.
“ruangan ini privasi, bahkan pintunya terkunci otomatis, jadi orang mengetuk pintu dulu sebelum masuk jelasku. Lalu kembali duduk ditempat, dia mengangguk dan mendesah lega.
“makanlah” suruhku,, dia mengangguk, tanganya tengadah kelangit kepalanya menunduk dengan mata terpejam. Dia sedang berdoa, dan diam-diam aku mengikutinya walau aku tidak tau apa yang dia baca. Aku segera menyudahinya dan makan lebih dulu.
“enak banget. Masyaallah… pengen belajar masak, biar bisa masakin yang enak-enak buat suami.” ucapnya.
“akan aku carikan guru Chef yang hebat.” jawabku
__ADS_1
“ih hanya bercanda kok.. aku bisa belajar dari youtube.” jawabnya
“heum” gumamku.
Kami sedang menikmati dessert, Hanna begitu lahap memakannya membuatku senang. Aku mengambil sebuah buket bunga yang berukurab besar ini yang terangkai indah.
“selamat atas kelulusannya Mrs. Zachcary’ ucapku seraya tersenyum tipis. Sedangkan Hannaku menatapku dan bunga itu bergantian dengan tatapan tak percaya.
“buat aku?” tanyanya.
“istriku siapa?” aku balik bertanya.
“ih Hanna. HANNA MAHVEEN SHEZAN RAVENDRA ZACHCARY. Dan hanya aku!” ucapnya tegas lalu mengambil buket bunga itu dari tanganku, tersenyum dengan indah degan mencium harumnya bunga indah itu. Diam-diam aku memotretnya.
“fotoin dong Mr. husband ” pintanya. Dan aku mengangguk.
“nanti kirim ya Mr. Husband!” ucapnya lagi dan aku mengangguk.
“uh senengnya dapat bunga dari suami tercinta.” ucapnya terdengar tulus, dan kini posisia dia sedang memelukku erat..
“terimakasih.. dan aku sangat yakin tak ada janjikan dengan kolega kak Rys. Karna sebenarnya kakak ingin membuat kejutan ini untukku? Tebakan yang tepat sasaran dan akhirnya aku mengangguk mengaku.
“maaf ya sudah egois dan bersikap kekanankan tadi.” ucapnya merasa bersalah. Dan jujur saja melihatnya seperti tadi sore itu menyenangkan, sedikit bermain-main dengannya itu menyenangkan.
“tak masalah!”
“terimakasih.” ucapnya lagi sudah berapa kali terimakasih yang dia ucapkan.
“ selamat atas kelulusannya.” Ujarku, lalu memeluknya hangat, pelukan yang aku rindukan, karna saat dia merajuk selalu menghindari jika akan kupeluk.
Bonus ilustrasi tempat kencan Mr. Zachary dan Mrs. Zachary
__ADS_1
...TBS...