
بسم الله الرحمن الرحيم
...Selamat Membaca...
...
...
Saat aku membuka mata. Aku merasa asing dengan ruangan ini. Ruangan serba putih dengan aroma lavender yang menyegarkan, menatap langit-langit kamar yang juga berwarna putih. Dan melihat kesisi kiriku, terdapat tiang infuse, yang ternyata selangnya berada dipunggung tanganku, dan sekarag aku tau jika aku tengah berada dirumah sakit.
Sedikit meringis karna rasa pening di kepala. Lalu akumenoleh kekanan, dan terkejut menemukan wajah familir yag teramat aku rindukan. Ia tidur dengan berbantalkan tanganku dengan posisi duduk dan badan bersandar pada bed.
“pasti sangat tidak nyaman tidur begitu.” gumamku, tidak ingin membuatnya terbangun.
Aku mengusap kepalanya pelan, dengan badan aku miringkan menghadapnya. Menatap wajahnya yang damai saat tertidur tapi kerutan didahinya kentara terlihat. Hingga matanya mengerjap dan 3 detik dia sudah membuka matanya, menatapku yang masih setengah sadar, lalu saat dia sepenuhnya sadar ia langsung duduk tegak dan menatapku cemas.
“ada yang sakit? Butuh sesuatu? Heum..” beruntunnya. Bukannya menjawab aku malah membuatnya semakin cemas, dengan tangisanku.
“kenapa Hanna?” tanyanya kawatir ia bahkan membungkuk mendekat.
“aku.. aku.. rindu sama kak rys.” bisikku, dan dia menghela nafas lega. Dan tanpa diduga ia naik keatas bed dan tidur bersamaku disana, memelukku dengan lembut mungkin dia takut aku akan merasakan sakit dipunggung.
“maafin Hanna yang..
“bukan salah Hanna okey.. lupakan kejadian itu..! Lupakan hal yang menyakitimu..! jangan ingat lagi.. janga takut lagi! Ada aku.. ada aku yang akan membantumu melupakan hal yang menyakitimu itu.” ungkapnya, dan aku menangis didada bidangnya dengan memeluknya erat. Hingga aku tiba-tia berhenti saat mengingat kak Lena dan Alana.
“kak Rys.. kak Lena dan Alana bagaimana mereka? Tayaku cemas.
“Alana sudah sembuh, sebentar lagi dia pasti kemari. Sedangkan Lena juga sudah siuman, dia berada diruangan sebelah kamu dirawat.”
__ADS_1
“dia tidak terluka seriuskan? Tanyaku sangsi jika kak Lena kenapa-napa, pasalnya lelaki itu memukulinya tanpa ampun.
“eum.. dia mengalami keretakan pada rusuknya tapi sudah baik-baik saja” jawab kak Rys aku menekup mulutku tak percaya ada lelaki yang tega melakukan itu pada seorang perempuan.
“yaallah.. ini gara-gara lindungin aku.” ucapku.. sesenggukan. Ka Rys mencoba menenangkaku degan tindakannya dan perkataannya.
“ssst.. sudah dibilang bukan salah kamu, sudah ya. Jangan dipikirkan lagi.. istirahat lagi ayo ”
“gak aku capek istirahat terus” jawabku. “aku butuh kekakamar mandi.” ucapku dan dia mengangguk. Dalam pikiran aku akan berjalan sendiri kekamar mandi, namun salah dia malah menggendongku dan mendudukkannya di closet.
“kok masih disini?” tanyaku heran.
“emang aku harus kemana?” tanyanya.
“yah tapikan Hanna mau mandi kak. masa ia kakak disini.. keluar ih!”
“aku takut kamu jatuh makanya aku disini biar aku yang mandikan.”
“gak!” bantahnya keras kepala, aku pengin nangis tau gak sih.. malu dong aku mandi dan ada dia disini. Dan benar saja aku nangis.
“loh kok malah nangis?” tanyanya panik.
“kesel.. tau gak.. Hanna itu mau mandi gak mau lari.. keluar ya.”. rayuku dengan wajah memelas dan jangan lupakan air mata buaya tapi aku beneran nangis karna kesal padanya. Dia menghela nafas dan menurutiku pergi dari sini.
“pintunya jangan dikunci!” peringatnya, aku hanya mengangguk patuh apalagi ekspresinya yang tidak bersahabat.
Saat aku menanggalkan pakaian, terlihat dicermin ruam punggungku yang mulai menghilang, namun ingatan dimana dia melakukan itu tanpa ampun, dan hampir melecehkanku membuatku merasa sakit, dan aku kembali memangis dengan menutup mulut agar Kak Rys tidak mendengarnya dan membuat dia kawatir. Aku mencoba melupakan dengan menyalakan shower yang mengalirkan air hangat dari kepalaku membuatku merasa nyaman. Biarlah luka ini sembuh seiring berjalannya waktu, walau aku sendiri tak yakin. Namun jika bukan aku yang merubahnya dan tidak berusaha untuk sembuh. Maka akuakan selalu dihantui rasa takut yang tentunya akan merugikanku dan suamikuyang akan sealu cemas.
Selesai dari kamar mandi,aku merasa sangat lega, badanku tidak lengket lagi, terasa lebih segar.
“aku bisa jalan sendiri loh.” ucapku namun dia tidak mendengarkanku malah membawaku dalam gendongannya.
__ADS_1
“eum.. kak.. sudah berapa hari Hanna disini?” tanyaku, setelah aku berbaring diatas kasur.
“2 hari.” jawabnya. Hingga pintu diketuk dari luar, Kak Rys bangun ternyata seorang dokter dan suster untuk memeriksaku kembali.
“sudah lebih baik, ruamnya juga sudah mulai pudar. Saya juga akan memberikan salep penghilag bekas jadi nanti lebamnya gak akan berbekas.” jelas dokter.
“kapan saya boleh pulang dok? Tanyaku.
“besok, nona.. besok anda sudah boleh pulang.”jawabnya. Kemudian dia pergi dari sana.
Suasana siang dirumah sakit Nampak ramai, ada Alina yang mulai bercerita idolanya didrakor yang dia lihat, sesekali Aisyah menimpali karna keduanya memang suka sama drama korea itu. Aku hanya menjadi pendengar yang bingung karna aku memang tidak tau siapa yang mereka ceritakan, karna jujur saja aku tidak pernah melihat hal yang seperti itu. Ummi dan abi juga ada namun mereka jadi lebih pendiam dari biasanya. Saat semua orang pergi kemushalla untuk shalat ashar, ummi menemaniku dia mengerjakan shalat disini bersamaku.
"Ummi..” panggilku, ummi lantas segera endekat dan menggenggam tangannku yang terlihat sedikit ragu. Aku menakup tangannya dan kami saling menatap.
“Jangan merasa bersalah, hal ini bukan kesalahan ummi. Memag buat Hanna ini mengejutkan dan mengguncang perasaan. Tapi Hanna yakin ada hikmah akan kejadian ini,jangan merasa bersalah, Hanna jadi merasa aneh jika ummi menjauh sama Hanna.” Ucapku lembut. Dan ummi membawaku dalam pelukannya dia menangis dan aku menenangkannya degan mengusap punggungnya lembut.
“maafin ummi yasayang.. seharusnya ummi ngajak kamu waktu.. itu.. ummi merasa sangat bersalah melihat putrid ummi yang ceria jadi seperti ini.. maafin ummi..”
“bukan. Ummi bukan salah ummi bukan juga salah abi. Bukan salah siapapun, mungkin ini bentuk ujian dari allah ke Hanna yang mungkin tanpa sadar Hanna lalai dalam menjaga diri. Hanna lalai dalam menjadi taat padanya. Sudah ya… jangan merasa bersalah lagi” pintaku dan ummi mengangguk, ummi kembali seperti ummi biasanya walau tidak 100% karna semuanya memang butuh proses.
Malam harinya. Aku meminta kak Rys mengantarkanku keruangan kak Lena, saat aku datang dia tersenyum padaku, karakternya mirip dengan Aisyah sangat jutek dan dingin tapi jika dengan orang terdekat akan berubah menjadi cerewet dan hangat.
"Kakak..!” ucapku kawatir, “maafin aku ya.. gara-gara aku.. perut kakak disayat sama pisau” lanjutku, dan dia malah tertawa.
“aku gak papa nona, jadi tenanglah!” ucapnya yap jikaada kak Rys disekitar kita Kak Lena akan memanggilku nona membuatku jengkel.
Pokoknya nanti setelah sembuh jangan bekerja dulu,.. ya Mr. suami.. kasian kak Lena biar dia istirahat dulu boleh ya” pintaku, dia mengangguk setuju.
“tidak aku akan langsung bekerja.!” tolak kak Lena keras, sedangkan suamiku sudah menatapnya tajam. Dia melarang dan aku senang, dia manusia benda mati tanpa rasa, dia juga bisa merasa lelah dan butuh istirahat.
...TBS...
__ADS_1
...Jazakumullah khair...