
...بسم الله الرحمن الرحيم...
...Selamat membaca...
.........
Ba’da ashar, Aisyah datang bersama kedua orang tuanya membawa parsel buah sebagai buah tangan.
“masyaallah, kenapa repot-repot… pak bu.. kalian datang saja sudah lebih dari cukup.”
“gak papa nak, buat cemilan kamu jaga kakek disini!” ucap Zahra ibu Aisyah dengan lembut.
“ini abi aku Han, namanya Ali” jawabnya. Hanna menakupkan kedua tangan didada sebagai salam antara lelaki non mahram dan perempuan non mahram.
“oh ya ketiga lelaki disana, saudara kamu juga nak?” Tanya Zahra ibu Aisyah,membuat Hanna bingun hendak menjawab apa.
“oh itu mi.. mereka itu yang nolongi kakek Fatah dari para rentenir kurang ajar itu” ucapnya penuh dendam.
“ngomongnya sayang” tegur Ali ayah Aisyah.
“kata Aisyah kalian satu kelas kok gak main kerumah nak?” Tanya Abi
“eh…?” Hanna mendadak bingung untuk menjawab pertanyaan Abi Aisyah.
“is abi sudah bilang kemarin!” Sungutnya sebal.
“yang sabar ya kalo sahabatan sama putri abi yang masyaallah ini!” candanya. Hanna tersenyum seraya mengangguk.
“loh.. tangan kakek kamu bergerak nak!.” beritahu Zahra membuat semua orang tertuju pada kakek Fatah, mata itu juga mengedip pelan hingga terbuka. Hanna terharu bahagia matanya berkaca-kaca.
Alrado mengambil tindakan cepat menekan bel, hingga beberapa menit kemudian dokter dan dua suster datang. Memeriksa keadaan kakek sementara yang lain menunggu diluar. Dokter keluar dengan menatap semua orang.
“ Mr. Zach.. tuan Fatah ingin berbicara berdua dengan anda.” Beritahunya.
Alardo mengernyit heran, dia memang sering berkunjung dan dia berbincang dengan kakek Hanna tanpa sepengetahua Hanna, dan sepertinya kakek Fatah juga tidak menceritakan tentang hal itu padanya. Karna jika hal itu terjadi Hanna pasti sudah bertanya tentang alasan ia selalu datang kerumahny.
Alardo masuk ke ruangan kakek, menatap wajah kuyuh dan lemah kakek Fatah yang masker oksigennya di telah dibuka.
Sedangkan diluar berbagai pertanyaan bersarah diotak dan dibenak Hanna, bagaimana sang kakek bias mengenal es batu tak berperasaan itu. Hingga pintu kamar terbuka.
“kamu dipanggil kakekmu!” ucapnya lalu kembali duduk dengan santai. Aisyah menatapnya menyelidik. Yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Alardo.
Kakek..!” panggil Hanna seraya menggenggam tangan kakeknya yang lemah.
“nak.. gak usah kawatir.. kakek sebentar lagi gak akan sakit lagi.. cuman kakek kawatir sama kamu. Boleh tidak kakek minta satu hal sama cucu kakek satu-satunya ini?” tanyanya dengan wajah berharap.
__ADS_1
“apa aja asalkan kakek seneng.. asalkan kakek sembuh dan gak sakit lagi! Insyaallah Hanna bakal wujudin jika Hanna mampu.”
“mau tidak Hanna menikah.? dengan nak Alardo, untuk jaga kamu didunia inib” pintanya dengan wajah penuh harap. Hanna terkejut tentu saja. Sangat terkejut akan permintaan kakekny, ia saja sama sekali tidak terlalu mengenal Alardo, bagaiman kepribadiannya, agamanya.
“tapi kakek..!?”
“mau ya nak?” dengan ragu Hanna mengangguk.
“panggil semua orang dan minta salah satu dokter untuk menjadi saksi, minta orang lain memanggil penghulu!” suruhnya dengan nada lemah. Dengan sedikit kesadaran masih berada dalam dirinya Hanna keluar, namun ia tercengang saat semua sudah siap.
Dari mahar yang dibungkus rapi dalam box kaca dengan alas berwarna hitam isinya berupa al-qur’an berukuran sedang dan Hanna menatap box itu terkejut saat Daniel memberi tahu.
“ada 50 al-qur’an” beritahunya.
“dan seperangkat alat shalat.” sambung pak Anthony yang memegang mahar kedua. Ali, Zahra dan Aisyah menatapnya sendu namun ada kebahagian dimata mereka, mungkin mereka tak menyangka jika dia akan menikah dirumah sakit.
“eum.. sejak kapan menyiapkan semua ini dan penghulunya?” tanyanya.
“tak ada waktu menjelaskan sekarang kita kedalam dan memulai semuanya!” tekan Alardo, ia masuk lebih dahulu. Hanna masuk paling belakang, ia cukup berat akan semua ini namun melihat wajah kakeknya yang kuyuh tersenyum hangat ,dengan terpaksa ia ikut tersenyum. Ia duduk disamping Alardo yang sudah duduk disamping kakeknya. Kakek menjabat tangan Alardo begitupun Alardo.
“saya terima nikah dan kawinnya………
Sah..
Pikirannya melayang mengingat pesan kakeknya yang begitu tersirat dan penuh makna saat kemarin tepat dihalte bus.
“nak.. ada ataupun gak ada kakek kamu harus tetap menjadi Hannanya kakek yang kuat, tetap jaga iman dan ketaatan kamu pada rabmu, tetap menjaga izzah dan iffahmu ya.. jangan pernah buka kain diwajahmu itu kecuali pada seseorang yang nanti akan jadi suami dan keluargamu.”
Aku bangun dari nyamannya bersandar pada bahunya yng kokoh saat mendengar perkataan kakek, lalu menatap mata kakek yang waranyapun sama dengan mataku.
“kakek mohon jangan pernah tukarkan akhiratmu yang telah kau tabung didunia hanya karna kepalsuan dunia ini. Jadilah Hannanya kakek yang ceria, dan jangan pernah menyalahkan takdir akan suatu hal kejadian yang mungkin tidak kau senangi karna sesungguhnya allah lebih tau apa yang tidak kita ketahui dan dalam al-qur’an allah sudah tegaskan.”
‘Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi( pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk untukmu. Allah mengeathui sedangkan kamu tidak;QS AL-BAQARAH : 216)
‘Dan jadilah wanita seperti matahari yang sinar keindahannya membuat semua orang tak mampu menatap karcahayanya yang silau, begitu juga kamu yang sinar kecantikannya tersilaukan oleh kesilauan agama dimana orang lain tidak mampu memandangmu dengan menghina tapi dengan hormat. Kecantikan bukan berasal dari wajahmu tapi dari hatimu yang mencerimkan nilai islam seperti apa yang diajarkan rasulullah sallallahu ’alahi wasallam.’
“Hanna.. Hann!” tegur Aisyah yang melihat sahabatnya hanya melamun.
“eh.. ya.. kenapa?” jawabnya spontan.
“itu.. kamu diminta salam suamikamu Han” beritahu Aisyah.
__ADS_1
Ia menatap Alardo dalam menatap dua mata biru yang baru ia sadari, begitu indah dan menyimpan begitu banyak hal perasaan emosi didalam sana.
“nakb” tegur kakek saat melihat Hanna hanya terdiam. Ia tergagap dan dengan ragu ia menggenggam uluran tangan Alardo yang membalas genggamannya cukup erat. Ia menyalaminya dengan takdzim dan berbisik dalam hati.
‘lelaki ini yang kini akan menjadi bagian dari hidupku, meskipun rasa tentang cinta itu belum ada namun allah sudah mengamanahkan dia padaku untuk melabuhkan cintaku padanya maka hamba mohon padamu sang pemilik hati. Tanamkan cinta dihati hamba pada lelaki yang kini halal untuk hamba cintai. Meskipun hamba tidak mengenalnya namun satu hal yang harus aku tau.. bahwa semua yang terjadi pasti atas kehendakmu. Dan lembutkan lah hati hamba menerima semua ini yarab. Dia yang akan menjadi teman hidupku selamanya.’ Setelah berjabat tangan ia Alardo mencium keningnya membuat matanya membulat terkejut dan spontan mendorong kuat dada Alardo.
“kamu kenapa cium aku!" marahnya bahkan Hanna mencuibit pipi Alardo hingga ia mengaduh, sedangkan yang lainnya tertawa akan aksi Hanna.
“nak..! sudah halal.” peringat sang kakek yang terkekeh geli akan tingkah cucunya
“astagfriullah maaf pak suami eh.. maaf Mr. Zach” ucapnya penuh sesal. Alardo mengangguk saja. Entah kenapa hatinya merasakan getaran hangat saat Hanna terpeleset kata memanggilnya pak Suami.
Tak menyangka ia akan menikah. Dimana pemikiran tentang hal itu tak pernah sekalipun terbesit dalam pikirannya. Hingga Kakek Fatah terbatuk kuat dan sesak nafas membuat semua orang panic, Daniel menekan bel setelah ikutan panic beberapa saat. Dokter datang dan meminta semua orang keluar agar ia lebih leluasa memeriksa.
...TBC...
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...Jazakillah khair...
...Jangan lupa tinggalin jejak ya... Dukungan kalian adalah semangat untuk kami......
...With love.......
__ADS_1