
بسم الله الرحمن الرحيم
.......
.......
.......
.......
.......
...Selamat membaca...
.......
Aku tak menerima akan perkataannya yang terakhir tadi. aku marah pada diriku sendiri dan dirinya. Terlebih aku marah karna aku kembali membuatnya menangis. Aku keluar dari rumah melarang paman Anthony ikut karna istriku sedang ada dirumah aku ingin ia menjaganya selagi aku pergi. Aku menelfon Daniel yang mengumpat karna aku menggangu istirahatnya.
📲
Daniel : heh.. batu.. gue lagi tidur.. dan lo dengan gak pakek otaknya nelfonin gue..
Aku : dimana? Tak mengehiraukan pertanyaan dengan ada marah itu.
Daniel : kalo gue tidur dimana setan?”
Aku : jawab’’ amukku.
Daniel : apartemen’ akurnya.
Kumatikan telfon dan melajukan motorku dengan kecepatan penuh, bahkan ada beberapa pengendara motor mengumpatiku dan aku tak peduli sangat tak peduli. Dengan begini aku merasa terbang, kejadian itu seakan pergi sementara dari pikiran. Hingga dengan cepat pula aku sudah berada di basemant apartemen Daniel. Lift begitu lambat mebawaku kesana, sebuah penthouse tepatnya dimana Daniel tinggal. Kutekan belnyatak sabaran.
“sabar setan!” umpatnya marah, dengan tak ikhlas membukakan ku pintu. Tanpa ijin aku nyelonong masuk dan duduk disofa.
“berikan gue vodka!” pintaku, minuman dirumah sudah aku buang karna aku sangat menghargai perjanjian dengan Hanna, tapi kali ini aku butuh itu sangat butuh. Dia mendemul namun tetap melangkah mengambil vodka untuku. Dengan dua gelas kaca yang sudah terisi vodka dingin.
Nih” ucapnya, menyodorkan minuman berwarna emas itu, saat aku hendak menyesapnya, bayangan wajah bahagianya saat aku menyetujui janji itu untuk tidak lagi menyentuh minuman ini, aku menggeram frutasi dan melemparkan gelas kaca itu pada dinding.
__ADS_1
"Sialan” umpatku. Mengacak kasar rambutku.
“lo gak mau olah raga?” tanyaku padanya dengan mata kosong.
“emang lo mau apa? Tanyanya penasaran dan sengan santainya menyesap minuman itu. Tak peduli dengan apa yang aku lakukan tadi.
“jadikan gue samsak lo!"
"Ngajakin gulat atau lo beneran jadi samsak? Tanyanya tertarik dengan ajakanku.
“jadi samsak dan gue hanya diam.” jawabku serius dan menatapnya. Dia mengangguk dengan seringai kemenangan, tentu saja dia selalu kalah jika bergulat denganku. Dan ini sebuah kemenangan baginya, menjadikan aku boneka pelampiasannya.
“oke.” Serunya semangat, ia berlari tak sabaran menuju kamardan berganti menggunakan kaos tanpa lengan dan celana khusus gym.
“ayo!” ajaknya dari lantai dua menuju ruang gym. Aku bangun dari dudukku dan mengikuti langkahnya.
“pikirkan baik-baik.. aku tidak akan berhenti sebelum kau pingsan” aku hanya mengangguk dan mengangkut bahu tak acuh.
Daniel memulai memukul wajahku, dengan sekuat tenaga yap jiwa penganiyayaannya mulai keluar, dan aku tak peduli dan tak merasakan sakit saat bayangan wajah terlukanya memenuhi pelupuk mata, tangisan kepiluannya memenuhi pikiranku. Dan saat pengakuan cintanya untuk kali pertama selama 6 bulan pernikahan ini dia mengatakannya dengan tulus. Tapi lagi aku mengecewakannya. Tanpa sadar pipiku basah, aku menangis bukan karna sakitnya pukulan Daniel tapi karna hatiku terlaku karna membuatnya terluka.
"Nangis lo.. kenapa..? Dan ini kali kedua setelah 17 tahun lalu.” Ucapnya. Aku mendongak dan aku melihat paman Anthony berada disana, mendekatiku lalu ikut duduk diepan ku seperti Daniel duduk bersila.
“apakah dia sudah tidur? Tanyaku padanya.
"Kata Maggie dia tertidur karna lelahnya dia menangis, bahkan matanya membengkak.” jawabnya lirih. Aku tertunduk, aku menangis untuk kali pertama setelah 17 tahun lalu. Paman Anthony membawaku dalam pelukan dan aku mulai meracau.
“aku menyakitinya.. lagi.. lagi dan lagi.”
“jelaskan Al!” ucap Daniel
"Masalahnya lebih komplek Dan” jawabku setelah mengehentikan tangisan. Aku menceritakan kepadanya tentag aku yang tak ingin memiliki bayi tapi maksudku.. aku bingung sendiri. Dan tiba-tiba dia menamparku.
"Gila.. kalo lo gak mau punya anak ngapaian nikah.. brengsek.. lo gak tau aja gimana lucunya anak kecil, walau gua gak suka, tapi melihat ponakan gue, anak kak Darren yang lucu dan nakalnya luar biasa bisa ngehibur kita. Gak punya otak lo” hinanya sadis, belum cukup pipi kanan yang sudah ia tampar beralih kepipi kiri padahal pipiku sudah ruam dan lebam. Hingga paman Anthony menggeplak kepalanya.
“sudah cukup..! Ayo Zach pulang!” ajaknya dan aku mengangguk.
"Sok aja lo gak diusir sama Hanna” sindirinya.
__ADS_1
“panggil nona ucapku tajam, dia malah menjungkit bahu tak acuh dan pergi dariku. Dan kalian tau itu kali pertama sepanjang sejarah Daniel mengeluarkan kata-kata sepanjang itu.
--------------------
Aku memilih masuk keruangan pribadiku. Menekan tombol bola hitam yang berada dirak buku terlihat memang haya sebuah bola hias namun bola itu memeliki alat sensor dimana hanya aku, Hanna dan paman Anthony yang bisa membukanya. Bagaimana bisa Hanna karna aku sudah menginstal ulang alat canggih ini. Telihat ruangan gelap aku menghidupkan scalar lampu proyektor planeta rium terlihat indah dilangit-langit kamar. Ruangan ini memang sedikit lebih kecil karna harus berbagi ruang dengan perpustakaan menyatu dengan ruang kerja. Terdapat kulkas kecil berisi air minum dan kasur king size masih begitu rapi namun ukuranya juga lebih kecil dari kasur dikamar kami. Terdapat juga kamar mandi minimalis. Dan dindingnya yang dengan cat berwarna tanah tertempel foto berharga yang dicetak besar sesuai bingkai.
Disisi kiri terdapat foto keluarga yang begitu harmonis, dimana aku masih berumur 17 tahun, aku berdiri dibelakang kursi dimana kedua rang tuaku duduk dengan senyuman lebarnya dan aku merangkul sayang mereka dari belakang. Sebelahnya foto keluarga keduaku setelah masa kelam itu. Paman dan bibi, dimana paman adik ayahku bibi memangku Alina sibungsu dan dibelakang kursi mereka ada aku dan sisulung Alan. Lalu di sebalah kanan terdapat foto dia… fotoperempuan pertama yang mampu mengusik penderian hatiku dia istri Hanna, fotonya lebih besar dari pada yag lain. Begitu cantik dan manis, foto dia dimasa sekarang yang aku ambil candid. Disebelah foto itu terdapat bingkai lebih kecil dari bingkai pertama dan terpampang foto masa kecilnya yang begitu indah dan imut. Aku merasa lelah, aku menaiki kasur dan berbaring dengan menatapfoto Hanna disana. Kupejamkan mataku mencoba untuk terpejam dan mungkin karna lelah kegelapan menghampiriku, membawaku kealam bawah sadarku.
...TBS...
.......
.......
.......
.......
....Alhamdulillah...
...Jazakallah khair...
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...Jangan lupa dukungan berharga kalian ya sobat untuk kemajuan cerita ini he..he.....
...With love....
__ADS_1