BLACK PEARL

BLACK PEARL
BAB 54


__ADS_3

بسم الله الرحمن الرحيم


Kejadian itu berlalu bagai angin, dikantorpun tidak beredar kabar apapun, semua berjalan seperti biasa. Hari ini akan ada rapat bulanan bersama para atasan termasuk CEO dan Direktur perusahaan. Rapat berjalan denga khidmad tanpa kendala, sesekali Alardo meanatp Hanna yang tengah sibuk mencatat apa yang sedang dibahas begitu cekatan dan ini kali pertama ia meliaht istrinya begitu serius dan menurutnya begitu menawan.


“jangan terlalu kentara lo!” tegur Daniel. “lagian terang-terangan tuh lebih enak dari pada sembunyi-sembunyi. Lo gak sadar sikaplo begini itu seakan Hanna istri sah berasa simpanan.” ucap Daniel tajam dan Alardo menatapnya berang, moodnya berubah buruk seketika, keduanya saling bersitegang membuat paman Anthony yang memang terbiasa melihat mereka begitu hanya menggelengkan kepala.



“ada yang ingin ditambahi pak?” Tanya salah satu perwakilan yang mempresentasikan tadi.



“aku ingin tau catatan dari Ms. Hanna.” jawab Alrdo dingin.


Daniel berdeham keras ia kesal dengan Alardo kenapa dia tidak jujur saja ada semua orang, karna Alardo tidak tau saja jika Hanan kerab kali jadi perbincangan hagat dikantor ini. Jikasaja ia tidak pergi kepatri sendiri saat itu ia tidak akan tau jika Hanna dijadikan gossip oleh para karyawan bermulut ringan. Ia pendam sendiri biarkan saja Alardo tau sendiri.


“tenang Niel!” tegur Paman Anthony pasalnya dia juga tau.



“bagus. Catatanmu aku bawa karna ini lebih rinci dan mencakup semuanya. Rapat berakhir, silahkan beristirahat!” ujarnya lalu pergi darisana, mengantongi buku kecil Hanna didalam saku jas dibagian dalamnya.



Saat diruangan Danielmasih memprotes tindakan Alardo itu.


“mau lo apa sih?” geram Alardo.



“lo gak tau.. aja.. istri lo yang seakan simpanan itu dibicarakan oleh orang-orang kantor, dan gue denger sendiri kalo ternyata Hanna tidak sebaik yang mereka kira, dia tega merayu bosnya dengan dibuktikan lo nyuruh dia keluar masuk ruangan lo tanpa mau lo tau konkuensi dari  tindakan lo ini.” ujar Daniel tak kalah geram.


“jika memang lo ingin menyembunyikannya yaudah lo gak usah lagi nyuruh-nyuruh Hanna keluar masuk ruangan lo dengan jangak waktu yang sering. Kalo bisa jangan lagi.” Alardo diam ia menatapAnthony mencari kebenaran dari kata-kata Daniel dan paman Anthony mengangguk serius.


“ada gue sama paman Anthon yang bakal lindungi Hanna, bantuin lo buat jaga dia, karna bagaimanapun dia juga keluarga kita Al.”



“yang dikatakan Daniel bener nak.. Hanna sudah paman anggapa putri sendiri, begitupun kalian.. jika memang kamu tidak ingin mengenalkan Hanna pada dunia karna ancaman itu berarti kamu yang harus jaga sikap” jelas paman Anthony. Alardo menghela nafas, lalu ia menatap keduanya.



“baiklah.. aku akan menjaga sikap.” Daniel dan paman Anthony bernafas lega, namun juga kecewa dengan keputusan Alardo. Tapi mereka mengerti jika semuanya tak mudah bagi Alardo, kehilangan itu membuatnya jadi over protective dan memikirkan kemungkinan yang belum tentu terjadi.



Hingga suara ketukan pintu mengintrupi mereka yang sama-sama terdiam, Daniel berteriak menyuruh orag itu masuk, saat melihat orang didepannya dimana ada Rendi disana yang mengantarkan lelaki paruh baya yang terlihat asing, mereka tidak kenal lelaki itu.


__ADS_1


“dia seorang pengacara Mr.” beritahu Rendi lalu pamit pergi dari sana. Paman Anthony bangun dan mempersilahkan tamu itu untuk duduk disofa diikuti dirinya.



“Daniel pesankan minuman!” titah paman Anthony yang diangguki Daniel.



Alardo dan Daniel juga ikut duduk, dimana Daniel duduk bersama paman Anthony sedangkan Alardo duduk di sofa single.



“perkenalkan pak.. saya Aditya Robert” ujarnya lalu mengulurkan tangan mengajak Alardo berjaat tangan, Alardo menerima uluran itu begitupun dengan yang lainnya. Ob datang membawa 3 teh susu hangat untuk mereka, kemudian pergi dari sana.



“silahkan diminum!” Anthony mempersilahkan tamunya.



“terimakasih.” Aditya meminum teh menyesapnya lalu meletakkannya kembali.



“ada perlu apa?” Tanya Alardo to the point, pengacara itu tersenyum.




“bagaimana bisa, setau kami Hanna cucu dari seorang kakek yang memiliki kebun dan berjualan dipasar.” ucap Daniel, setelah dia mencerna perkataan pengacara itu.



“memang, lebih tepatnya tuan Fatah menyemunyikan kebenarannya dari nona Hanna. Dia adalah pemilik perusahaan minyak di Qatar yang masih terus berjalan dan berkembang saat ini, tempat dimana nona Hanna dilahirkan di kota Doha yang juga kota kelahirannAlmarhum tuan Fatah.”



“kami belum mengerti, jika anda tidak keberatan bisa anda menceritakannya pada kami?” Tanya paman Anthony ramah. Aditya tersenyum ramah dan mengangguk.



“tentu, ini juga sebagian amanah dari tuan Fatah.” Dia menyesap tehnya sejenak sebelum bercerita.


++++++++++++


20 tahun lalu Fatah begitu semangat bekerja karna ia akan mendapatkan seorang cucu dari anak lelaki satu-satunya cucu yang akan menemaninya dimasa tua. Apalagi Raveendra putranya dia tak kalah semangat dari ayahya untuk bekerja, sebisa mungkin pekerjaannya selesai jadi saat istrinya Hanna melahirkan dia akan siap siaga berada disampingnya.


Saat itu musim dingin tepat Dray Winter di Qatar. Fatah dalam perjalanan pulang, perasaannya tidak nyaman sedari tadi pagi dia kepikiran akan menantunya padahal saat dia baru saja tiba ia langsung menelfon menantunya yang menertawakannya karna terlalu kawatir. Jadi ia memilih pulang cepat hari ini.

__ADS_1


Sesampainya dirumah, keadaan rumah begitu sepi, ia berjalan tergesa menaiki tangga untuk melihat keadaan menantunya yang sedang hamil besar. Dan matanya terbelalak, jantungnya berpacu begitu cepat saat melihat menantunya terduduk dilantai dengan darah bersimbah dari bawah tubuhnya, Hanna menatap Fatah dengan berurai air mata namun senyum indah itu tersungging padanya. Fatah mengusap kasar air matanya lalu membawa Hanna dalam gendongannya.


“jika terjadi sesuatu  nanti selamatkan putriku ya abah.” pintanya dengan suara lirih.



“kalian akan selamat Hanna.. kita akan membesarkan little princess kita sama-sama, melihat dia menangis saat popoknya basah, melihat dia tertawa karna kita membuatnya tertawa, melihat dia tengkurap, merangkak dan berjalan hingga melihat dia mengenakan toga kelulusan baik saat sekolah dasar sampai lulus kuliah.. kita…”



“abah..” intrupsi Hanna lalu mengusap air mata ayahnya, yang begitu mencintainya walau hanay seorang menantu. Begitu menerimanya saat orang tuanya saja tidak mau kepadanya karna dirinya yang memeluk agama yang mereka benci.



“aku yakin putriku akan menjadi gadis yang luar biasa karna begitu dicintai oleh kakek, dan juga ayahnya. Titip salam sayang dan cium untuknya nanti.” pesannya sebelum mata indah itu tertutupmembuat Fatah mengguncang bahu putrainya cukup kencang. Dan dokter membawa Hanna masuk keruang operasi untuk segera ditangani.



Beberapa jam menunggu tangisan dari bayi mungil yang begitu dinanti-nantikan terdengar dari telingan lelaki paruh baya itu. Raveendra datang dengan nafas memburu karna berlari.



“suami dari nyonya Hanna” suster keluar dan mencari suaminya. Kakek menyuruh Raveendra masuk. Mata Raveendra menatap kagum pada pemandangan indah didepannya. Istranyayang setenagh berbaring dan putri kecilnya yang berambut tebal dan coklat seperti istrinya tengah mengesap nutrisi darisang istri. Air mata haru keluar dari pelupuk matanya. Lantas ia mendekat dan mendekap 2 malaikat cantik yang akan ia jaga seumur hidupnya.



“adzankan dulu!” suruh Hanna pada Raveendra yang masih takjub dan tak percaya putrinya kini berada dalam dekapan. Iapun mengadzakan bayinya dengan suara lembut dan merdu membuat putri kecilnya itu membuka mata, wajahnya begitu mengcopy dirinya, dari mata, alis hidung bahkan bibir membuatnya berkali lipat merasa takjub. Namun bayitu tak sengaja tersenyum hingga ia menemukan lesung pipi seperti milik istrinya.



“Hanna kecilku yang manis.” gumamnya lirih lalu mencium penuh cinta putrinya. Hingga suara pekikan dokter mengatakan jika Hanna istrinya mengalami pendarahan lagi dan dia diminta keluar. Dengan linglung dia membawa Hanna bersamanya, saat dia berada diluar kakek tersenyum haru melihat cucu yang dinantinya kini ia lihat dengan jelas didepan mata.



“kakek ingin mengadzaninya juga.” pinta Fatah pada putranya yang mengangguk ia tersenyum walau hatinya sedang gelisah. Hingga beberapa jam menunggu sedangkan bayinya sudah berada didalam ruangan bayi. Kabar yang membuat dua lelaki beda usia itu begitu terluka seakan dunia berhenti detik itu juga. Kabar atas kematian Hanna Alexander Lazuardi membuat dua lelaki itu seakan berhenti bernafas.



Hingga 1 minggu setelah kematian Hanna, Ravendra mencoba untuk bangkit dia masih memiliki seorang malaikat kecil yang membutuhkan kasih sayangnya, dia tidak boleh egois menelantarkan putri tercintanya buah cintanya dengan sang istri, yang semasa hamil istrinya itu tidak pernah absen untuk tidak membacakan ayat-ayat allah bergantian dengannya.



“kenapa menangis Hanna kecil baba” ujar Raveendra dengan lembut saat nani(pengasuh) tidak bisa menenangkan bayi berumur 1 minggu itu dan malangnya tidak bisa menikmati pangkuan dan belaian sayang sang ibu lagi. Ia membawa putrinya dalam gendongan dan menggendognya dengan sayang. Dan ajaib baby Hanna itu berhenti menangis malah terliaht begitu nyaman dalam gendongan Raveendra membuat Raveendra terkekeh takjub. Ia merasa bersalah karna sudah mengabaikan malaikat titipan tuhan yang seharusnya ia jaga.


...TBS...


...Part Ini alurnya mundur ya sobat...


...Jangan lupa vote dan komennya...

__ADS_1


...Jazakumullah khair...


__ADS_2