
بسم الله الرحمن الرحيم
.......
.......
.......
...Selamat membaca...
.......
.......
.......
Aku terbangun saat mendengar racauan seseorang, menoleh kesamping kanan menemukan wajahnya yang berkeringat dingin dia meracau dengan suara serak yang panic.
“tidak.. tidak.. tidak…” teriaknya dalam tidur, aku masih menatapnya.
“bukan aku.. yang membunuhnya.. bukan aku… tidak.. bukan aku bukan.. aku... dia membunuh dirinya sendiri.. bukan aku.” Racau tambah ngawur dan panic. Dia mempererat pelukan dipinggangku saat kepanikan mulai mempengaruhi racauan penuh luka itu belum berhenti. Aku mengusap kepalanya lembut, sesekali mendaratkan ciuman di dahinya.
“bukan kamu yang membunuhnya bukan kamu.. hanya mimpi… tenang lah.. dan bangun” ucapku lembut tepat di telinganya. Kubacakan shalawat hingga ia merasa tenang lagi dalam tidurnya. Pelukan itu sedikit melonggar lalu hembusa nafasnya yang memburu kembali normal.
Kutepuk pelan lengan atasnya agar ia kembali nyenyak dalam tidurnya, kutatap wajahnya yang menyimpan teka-teki yang harus aku pecahkan sendiri. Dan menjadi PR untukku, bertekad dalam hati merubahnya menjadi lebih dekat dengan tuhan. ‘bantu hamba yarabb’do’aku dalam hati dengan tekad kuat tak peduli nanti aku juga akan terseret dalam lukanya, yang terpenting suamiku kembali pada tujuan ia diciptakan oleh allah.
‘Aku tiak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaku.’(QS ADZ DZARIYAT : 56)
...---------------------------...
Waktu berjalan begitu cepat, ujian akhir semester ini sudah selesai. Dan tak terasa juga pernikahanku dengan Mr. Suamiku itu, sudah berjalan 2 bulan. Sedikit banyak aku mengetahui tentang dirinya. Tentang dia posesif padaku dimana saat itu aku pulang malam karna tugas membludak dari kampus, dan mata elangnya menatapku tajam karna tidak mengabarinya membuat dia menunggu dengan gelisah, marah memang tapi dia tidak meluap-luapkannya dan aku baru tau jika dia sedang marah tak lagi melampiaskannya padaku melainkan dengan melukai dirinya sendiri. Seperti waktu itu saat dia menyakitiku. Bibi Maggie bilang ia meninju tembok hingga tanganya terluka, dan hal itu sama ia lakukan membuatku merasa bersalah dan terkejut tentu saja. Lalu ia membelikanku ponsel mahal yag terkenal sekarang, bahkan membayangkan memilikinya saja tidak pernah. Ituloh logo apel digigit dengan kamera 4 dibelakangnya.
Tentang dia yang insomnia dan terbangun ditengah malam akibat mimpinya yang aku tau. Dia akan meneguk wine merah maupun putih terkadang juga bir ditambah obat tidur, membuatku kawatir akan keadaannya dan saat ia sedang dalam keadaan seperti itu ia tidak kembali kekamar kami dan memilih tidur diruang kerjanya. Alasannya baru aku tau dari bibi Maggie juga, suamiku itu tak lagi ingin menyakitiku lagi dalam keadaan kacau dan mabuk seperti itu. Huft… sepertinya teka-teki yang harus kupecahkan tak semudah dan sesederhana itu.
__ADS_1
Lalu tentang dia pemaksa, bemulut pedas serasa boncabe, dan titahnya yang harus dituruti, yap dengan sikap datar dingin beku bak tembok es itu masih tetap sama. Di usia pernikahan terbilang muda ini dia juga cukup berubah, saat ia ingin melakukan hal ‘itu’ dia selalu memintanya padaku, jangan harap akan ada ucapan romantic bak film, dia mintanya seakan sedang rapat. Ya dia suamiku yang kini tengah mentapku dan melangkah mendekatiku yang duduk di kursi taman belakang rumah kita yang asri. Ia hendak menciumku namun aku memalingkan wajah.
“bau rokok aku gak suka. Kamu tega membuatku ikutan sakit akibat nikotin itu” ucapku lembut, membuat dia menghela nafas berat dan memilih duduk disampingku. Dan satu hal lagi kebiasaannya dalam hubungan kita yang membaik ini. Dia selalu menciumku tiba-tiba dan tanpa permisi. Aku menatapnya sebentar lalu merebahkan kepalaku didadanyan dan dia mendekapku hangat dengan kepalanya bertumpu diatas kepalaku.
“aku tidak suka” ucapku memprotes
“apanya?’ tanyanya tak mengerti.
“aku gak suka kamu merokok, minum obat tidur dan mabuk” jelasku
mempertegas.
“aku sudah terbiasa” jawabnya santai dan tenang.
“aku siap menjadi pelampiasnmu, tapi tidak lagi dengan kebiasaan burukmu, rokok,obat tidur, dan mabuk, 3 hal yang akan berakibat buruk seiring bertambahnya umurmu” ucapku, menatap matanya serius, begitupun sebaliknya.
“aku tidak bisa melakukan itu. Menyakitimu lagi seperti dulu adalah satu hal yang sangat aku sesali seumur hidupku. Dan juga semuanya tidak semudah itu dan tidak hanya tentang pelampiasan nafsu sexs.. kamu tidak akan mengerti”
“maka dari itu jelaskan padaku, agar aku mengerti!” tuntutku, dia hanya diam tak menanggapi lalu menatap kedepan meng acuhkanku. Ya seperti biasa aku meelan kecewa lagi, usahaku sia-sia, tapi tenang saja aku tidak akan menyerah untuk hal ini, untuknya dan demikebaikannya, diriku dan juga rumah tangga kita.
“aku ingin kamu sehat, menimang buah hati kita dengan tubuhmu yang kuat, melatihnya menaiki sepeda dan me…”
__ADS_1
“pemikiranmu terlalu jauh” potongnya dengan raut wajah tegang dan terlihat keberatan.
“loh tidakkok.. bukankah setiap keluarga lengkap dengan adanya anak, apalagi aku.. aku ingin menjadi ibu dari anak-anak kita.. pasti lucu.” Ucapku dengan menghayal sedikit tetang masa depan memiliki bayi pasti sangat lucu, apalagi aku membayangkan wajahnya mirip suaiku yang datar ini tapi tampan loh ya.. he..he.. hingga aku terasadarakan matanya yang menatapku tajam.
“jangan pernah membahas hal ini denganku !” peringatnya marah lalu pergi meninggalkanku. Dia kenapa, kenapa marah dia melakukan itu padaku tapi tak ingin mempunyai anak. Lantas kenapa dia melakukannya dengan rutin, bisa jadi dia akan tumbuh diperutku tapi kenapa dia tidak mau aku memikirkan ini. Kenapa?”
Satu teka-teki lagi yang harus aku pecahkan, kepalaku pusing entahlah padahal teka-teki tentang kehiupannya belum aku selesaikan.
TBC
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
....Jazakumullah Khair...
...Jangan lupa dukungan kalian sobat........
__ADS_1
...With Love...