
بسم الله الرحمن الرحيم
...Selamat membaca...
Aku sebal padanya, si es tembok, si mulut boncabe yang terlihat biasa saja tentang kelulusanku. Bayangan dia akan memelukku hangat dengan ucapan selamat yang manis, hanya sebuah angan yang tidak mungkin dilakukan oleh sikaku itu.
Astagfirullah aku terlalu banyak menjelek-jelekkan suamiku hari ini. Huft.. harus terima Han.. dari pada tak punya suamikan.. syukuri.. kamu sudah terbiasa dengan sikapnya yang seperti itu jadi sudah tak masalah okey' semangatku pada diri sendiri.
Aku mencari Mr. suamiku itu karna tak melihatnya dalam perkumpulan keluarga, perayaan kecil-kecilan tentang kelulusanku yang diadakan di taman belakang rumah Mr. Husband. Hingga aku menemukannya yang duduk sendiri dibawah pohon dan cukup berjarak dengan kita. Aku tak peduli, walau sejujurnya hatiku meronta untuk menghampirinya. Tapi kali ini ego lebih mendominasi. Dan berkata untuk tidak mendekatinya dan membiarkan dia kesepain dulu. Okey.. Hanna kamu pasti bisa cuekin dia sedikit, batinku.
Perayaan berakhir, aku berjalan menuju taman belakang dimana aku melihat kak Daniel yang duduk sendiri disana. Dan mataku melotot tajam saat kak Daniel dengan santainya menyesap minuman haram itu.
‘dapat dari mana dia.. padahal persedian dirumah sudah aku buang semua?’ gumamku.
Lalu menghampirinya yang kini tersenyum padaku, sedangkan aku menatapnya kesa sekaligus gemes. aku mengambil piring kotor, karna sejatinya aku kemari hendak membersihkan meja taman bekas perayaan tadi. dan dengan sengaja aku menyenggol gelasnya hingga jatuh mengenaskan ditanah. ‘ rasain ya minuman’ ledekku.
"Aduh maaf kak” ucapku dengan penyesalan penuh tipu daya.
“it’s okay” jawabnya santai. Akupun berbalik hendak pergi namun urung dan memilih duduk didepannya, membuat dia menatapku tak mengerti.
“kakak!” panggilku dia mejawab dengan gumaman namun matanya menatapku penasaran.
__ADS_1
“boleh tidak jika aku meminta sesuatu, eum sebagai hadiah mungkin” cicitku dan tak disangka jawabannya membuatku berbunga.
“apa?” tanyanya dengan nada bersahabat.
“boleh jika kakak berhenti meminum, minuman itu dan merokok?” tanyaku lembut, dan menatapnya dalam, dia terkejut akan permintaanku.
“apa urusanmu?” tanyanya dingin.
“jadi tak perlu mengursiku!” ujarnya dia sepertinya tersinggung. Itu yang aku tangkap dari nada bicaranya.
“memang bukan urusanku. Hanya saja aku tidak membiarkan orang yang adalah keluargaku, orang yang aku sayangi terluka, suamiku menganggap kakak adalah saudaranya. Orang yang dia anggap penting juga. Begitupun aku, karna aku menyayangi kakak sebagai seorang adik.. tentu saja tidak ingin kakaknya terluka apalagi sakit. Kakak taukan didunia ini aku hanya sendiri. Tapi allah memberikan aku pengganti kakek dengan keluarga yang begitu banyak, dan hal itu berasal dari Kak Rys, Kak Daniel, dan paman Anthon.”
“kalian adalah orang pertama yang aku sayangi setelah kakeku, karna lewat kalian aku memiliki sebuah keluarga yang lengkap. Allah berikan aku seorang suami, seorang kakak yag tidak pernah aku punya, seorang paman yang hangat. Dan orang tua yang bahkan melihat wajah mereka (ayah dan ibu Hanna) secara langsung saja aku tidak pernah. Jadi karna kakak adalah kakaku.. adikmu ini tidak ingin kakaknya terluka. Tidak ingin kakaknya sakit, aku ingin menjaga kakak dan berdoa agar allah selalu memberikan kakak hidayah serta kesehatan dan kebahagian. Keinginan seorang adik hanya sederhana itu.” Jelasku tulus, aku sangat menyayanginya.
__ADS_1
Dia memang kaku tapi tindakannya selalu perhatian padaku. Masa lalunya juga hampir sama seperti Kak Rys, kita sama-sama tak memiliki orang tua. Dan bedanya mereka masih memiliki keluarga didunia ini, dan aku mendapatkannya dari mereka.
“jangan menangis!” ucapnya lirih. Tapi mata abu-abunya itu malah ikutan berkaca-kaca, aku terkekeh.
“nyuruh aku jangan nangis malah sendirinya tuh yang mau nangis.” Ledekku, dan cepat cepat ia mengusap wajahnya. Dia kembali menatapku dan aku kembali menatapnya.
“ menghentikan sebuah kebiasaa itu memang tidak mudah. Namun secara perlahan kebiasaan itu akan berubah jika kita memang mau berubah. Lagi pula ini hanya sebuah permintaan bukan paksaan. Jika kakak tidak bisa atau belum bisa tidak apa-apa kok. Adikmu ini yang mengaku-ngaku jadi adikmu..tidak memaksa” ucapku lembut seraya bercanda.
“aku pergi dulu deh.. entar ummi nyariin lagi” pamitku, namun baru dua langkah kakiku berhenti.
“adikku.. kau memang adikku!” ucapnya tegas namun nadanya cukup bergetar, membuat aku tak bisa berlama-lama disana dan memilih pergi, jujur saja ku memang mudah sekali menangis, dan lihat air mata ini begitu mudahnya keluar.
Malu dong sama kak Daniel kaku itu, lebih tepatnya aku memang selalu menyimpan tangisku sendiri. Huh emosiku terkuras saat ini batinku tapi entah kenapa aku merasa senang, sekarang allah berikan aku kakak, betapa maha pengasihnya bukan. Allah subahanhu wata’ala memberiku teman dibumi.
... Perempaman sebuah batu, jika air yang menerpa ia akan terkikis sedikit-demi sedikit namun pasti akan habis tak tersisa. Namun jika kita membenturkan dua batu itu dengan keras, maka keduanya akan hancur, sekalipun kita memukulnya dengan alat pemukul batu tetap saja akhirnya malah menyakiti batu. Begitupun dengan hati seseorang yang keras, dia tidak butuh hati yang keras juga melainkan hati yang lembut untuk sedikit melembutkan hatinya dengan cara berkata lembut dan setulus hati kasih sayang dan sebuah pengertian....
...TBS...
...Tetap jadikan Al -qur'an sebagai bacaan utama ya sobat....
__ADS_1