BLACK PEARL

BLACK PEARL
BAB 18


__ADS_3

بسم الله الرحمن الرحيم


.......


.......


.......


.......


...Selamat membaca dan semoga suka...


.......


.......


.......


.......


.......


“aku membalaskan perlakuannya yang melecehkanmu,, lelaki biadab ini..” Ujarnya marah. Marah dan penuh dendam pada Randu.



“ia.. aku tau dia memang kurang ajar.. tapi tidak dengan menyiksanya seperti ini.. Rys..” mohonnya “ sudah cukupp aku mohon!” pintanya memelas dengan mata berkaca-kaca.


Alardo diam tak menanggapi. Lalu Hanna beralih pada Daniel yang begitu menikmati.


“kak Daniel..!!” pekiknya lalu mendorong bahu Daniel agar menjauh.


“sudah kak cukup.. sudah cukup.. ya.. biarkan dia menjadi urusan polisi!” pinta Hanna, Daniel terpaku, bukan karna larangan Hanna tapi panggilan Hanna untuknya. Kak..?' seumur  hidup dia tidak ada yang memaggilnya seperti itu.



“ayo pulang.. paman ayo.. kita pulang!” ajak Hanna dengan tangan bergetar, jiwanya terguncang.

__ADS_1


Bagaimana tidak dua anak manusia yang tanpa  beban menyayat daging manusia yang masih bernafas tanpa bius penghilang rasa sakit, begitu menikmati tanpa beban. Seumur hidup, ia sekali melihat film pembunuhan dan itupun berbekas hingga sekarang apalagi saat melihat didunia nyata. Ini sungguh mengguncang hatinya.


Bruk…


Tubuh mungil itu ambruk dalam rengkuhan Alardo yang memang sigap menangkap tubuh Hanna sehingga tidak terkapar ditanah.



“seharusnya kalian menahan diri dan tidak melakukannya disini, apalagi tepat didepan matanya!” ucap Anthony geram.


Lalu melangkah didepan disusul dua lelaki yang hatinya diliputi rasa cemas dan tidak tenang, kali pertama keduanya merasakan seperti ini, biasanya Daniel maupun Alardo santai-santai saja setelah melakukan hal seperti itu. Apalagi Daniel yang memang lebih berdarah dingin dari pada Alardo. Tadi itu hanya pembukaan, biasanya ia akan menyayat seluruh tubuh mangsanya bagai urung elang yang mencabik-cabik induk ayam. Keduanya dilanda gelisah melihat Hanna yang tak sadarkan diri.


“kalian bias mengontrolnya sebentar!  lihat kalian membuatnya ketakutan hingga pingsan” marah Paman Anthony membuat kedua pria berusia 25 tahun itu diam tak bersuara tak mencoba melawan atau membantah karna mereka sadar mereka salah.



Alardo menatap Hanna yang berada dalam pangkuannya. Ia masih belum sadarkan diri membuat dia cemas. Menatap kedua mata istrinya yang masih tertutup rapat, membuat kemarahan itu semakin bersarang, bukan pada siapapun tapi pada dirinya sendiri.



“sial” desisnya kesal, lalu membuang muka keluar jendela.




“kenapa degan nona Mr.?” tanyanya cemas, Alardo berlalu begitu saja menaiki lantai dua karna tanpa menghiraukan Maggie.



“Anthon!” panggil Maggie menuntut penjelasan, Anthony mengangguk dan mengajaknya kebelakang. Sedangkan Daniel sudah masuk kekamartamu, ia akan bermalam disini, ia tidak bisa kembali ke apartement karna dia masih lelah baik jiwa maupun raganya.



Sedangkan dikamar Alardo membuka cadar istrinya menatap wajah tenang yang tak sadarkan diri itu dengan sayu, mata yang memancarkan aura tajam itu meredup. Tangannya terulur mengusap pipi tembam milik istrinya tak tahan ia sedikit mencubitnya karna gemas. Ia memeriksa tangan Hanna dengan menyingkap kain lengannya. Dan benar saja pergelangan tangan itu memerah dan dia yakin akibat yang dilakukan dua keparat itu. Ia memejamkan matanya meredam emosi dan umpatan yang akan keluar memilih berteriak memanggil Maggie, yang datang dengan nafas memburu karna berlari.


__ADS_1


“ada apa tuan?” tanyanya.



“bawakan aku kompres es batu, serta bawakan obat P3K untuk mengobati lebamnya” titahnya dengan nada dingin. Mata yang semula meredup kembali berkobar . tak lama kemudian bibi kembali dengan membawa permintaan tuannya. Tak lupa P3K ia ambil di kamar mandi tuannya itu.



“butuh bantuan?” tawar bibi Maggie karna tuannya itu mana pernah mau merepotkan diri melakukan hal seperti ini.



“tidak perlu, keluarlah dan jangan lupa tutup pintunya!”suruhnya  dan Maggie mengangguk patuh. Dengan telaten Alardo mengompres lebam itu, lalu mengoleskan lebamnya dengan salep khusus luka lebam.



Alardo terus menatap wajah Hanna yang tertidur dengan damai, ia tidak berani membuka hijab Hanna walaupun ia berhak akan hal itu. Ia ingin menghargai Hanna. Ia mendekatkan wajahnya dan mencium kenignya lama. Kegelisahan dan kemarahan yang besarang dihati berubah menjadi tenang. Lalu kembali menatap Hanna dan benar saja kegelisahan itu seakan sirna. Ia membuka sepatunya, biasanya dia paling anti tidur dengan pakaian kerja apalagi tidak mandi, namun kali ini pengecualian. Ia mengabaikan hal itu, tidur disisi Hanna dan membawanya dalam pelukan. Sekejap setelahnya ia terlelap dengan damai.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...Jazakillah khair...


...Jangan lupa dukungan kalian ya sobat........

__ADS_1


...Withlove...


__ADS_2