BLACK PEARL

BLACK PEARL
BAB 57


__ADS_3

بسم الله الرحمن الرحيم


Hari ini aku sangat sibuk, sepulang dari kantor tak ada waktu untuk beristirahat karna aku harus menyiapkan kue dirumah, aku ijin masuk setengah hari dan Alhamdulillah diijinkan lebih tepatnya aku dan Aisyah. Aisyah dan juga bibi Maggie dengan baik hati membantuku didapur. Aku bukannya tidak memiliki ART, Alardo menyewanya walau aku sempat menolak, jadi aku berkompromi dengannya agar ARTnya hanya akan mencuci dan menyetrika dan sesekali membantuku. Dia hanya akan datang 1 minggu 3 kali dan Mr. suami yang tidak bisa dibantah itupun menurut. Sedagkan Lena aku suruh pasangkan lampu LED karna dia jago soal seperti itu.


“ini balonnya mau ditempel dimana Han?” taya Aisyah balon dengan tulisan itu sudah Aisyah bereskan.


Aku menunjuk dinding disisi kanan meja makan dan Aisyah mulai menempelkannya. Awalnya aku ingin perayaan ini dilakukan berdua diatas balkon kamar kita. Tapi mengundang keluarga itu juga lebih baik. Karna seperti tahun sebelumnya, kita merayakannya bersama tepat resepsi pernikahan dimana para anak yatim piatujuga datang. Jadi hari ini acara bersama keluarga terlebih dahulu, lebihnya tasyakuran besok baru mengajak Mr. suami kerumah panti yang biasa kita datangi.


“pudingnya juga sudah selesai dan bibi taruh dikulkas, selebihnya untuk buah tangan besok ke panti bukan” ucap bibi dan aku mengangguk karna aku masih sibuk menghias cakeku.


Cake dengan krim berwara hitam dentuk bergelombang teratur dan aksen terakhir mutiar hitam yang tentunya bisa dimakan karna aku membuatnya dengan coklat yang sudah aku bekukan dan mutiara putih saling bersisian. Tak lupa coklat angka 2 setelah itu baru diletakkan di etalase kecil yang memang khusus menympan cake, cake yang aku buat.


Sekarang kalian bisa menebak bukan ini acara apa. Hussttt kita harus rahasiakan ini dari Mr. suami yang masih dikantor. Yang seperti tak punya istri sampai hati tidak memberiku kabar. Hehe.. bercanda dia marah karna aku tidak mau mengantarkan makan siang untuknya, jadi dia merajuk.


Ba’da magrib kami shalat berjamaah, lalu kembal kedapur dimana hiasan sederhana karna Aisyah sudah selesai. Sst.. dia calon pengantin. 1 bulan lagi bakalan menikah lihat wajahnya berseri-seri bukan. Oh ya satu lagi dia tidakpernah bisa aku dengan kak Daniel.. ada aja yang diperdebatkan oleh mereka. Tak ada hari tanpa cekcok jika keduanya berada disatu tempat yang sama. Semua lampu dimatikan saat suara mesin mobil mendekat. Kami bersembunyi ditempat yang tidak akan ketahuan. CCTV sudah dimatikan sejak aku pulang dari kantor.



Kami mendengar kak Rys mendumel karna paman Anthony yang sedang mengecek meteran listrik begitu lama aku terkikik bersama bibi dan Aisyah. Hingga lampu yang LED warna warni yang diaplikasikan dengan remot aku hidupkan, mereka hidup bergantian hingga semua lampu Led yang terpasang menyala seperti pelangi.



“lo buat acara? Tanya Daniel padan Alardo yang menghendikkan bahu acuh. Hingga sebuah kertas yag menggantug didepannya, talinya terbuka dan menunjukkan sebuah petunjuk disana.



“gak usah mendumel ya Mr. Husband..ikuti tanda panah itu aja oke” isi dari lembaran kertas itu. Dan sampailah mereka di dapur. Listri menyala dan semuanya menyala, aku ,Aisyah ,kak Lena dan bibi kompak meniup peluit kertas yang bisa memanjang dan berbunyi jika kita tiup lalu aku mengucapkan dengan ceria.



“happy Annyversery sayang.. selamat dua tahun pernikahan dan tanpa sadar waktu yang kita lalui, moment yang kita buat sudah menginjak 2 tahun..” , dia tersenyum tipis dan mengangguk, yah memang aku mau seperti apa dia akan menangis haru lalu berkata ‘yaampun sayang makasih banget kejutannya aku terharu’ aku bergidik ngeri membayangkan suamiku yang super kaku akan berlaku seperti itu. Itu akan menajdi aneh jika dia begitu.



“ayo duduk.. kita nikmati hidangan yang sudah kita buat.” ajak Bibi Maggie.



“yang dekor dan meletakkan semuanya siapa? Tanya kak Daniel, sepertinya dia mulai mau mencari perkara. Aisyah diam malahan dia meminum jus strawberry kesukaan kita.

__ADS_1



“Hanna yang buat kak..” jawabku.



“aku yakin bukan kamu cil.. pasti kerjaan diakan” cibirnya remeh pada bibir ang ia juihkan pada Aisyah. Yang duduk tenang, dia tak terusik, sepertinya pengendalian dirinya baik namun akhirnya dia buka suara juga.



“huh.. kalo saja bukan dipesta Hanna.. dan kalo saja aku gak mau nikah dan mengharuskan aku tahan emosi biarnanti saat nikah aura cantiknya terlihat sudah habis tuh mulut aku jotos” sindirnya pada kak Daniel.



Setelah makan malam selesai, kami mengerjkan shalat isya’ dulu baru berkumpul lagi diruang tengah. Tiba-tiba kak rys memanggilku dengan nada serius, tangannya menggenggamku dan sedikit meremasnya. Suasana tiba-tiba hening seketika, masih belum bicara membuat jantungku berdegup aneh.



“ekhem.. terimakasih atas kejutannya. Aku suka… dan selamat atas pernikahan 2 tahun juga untuk kamu, untuk kita” ujarnya, aku mengangguk dan tersenyum dibalik cadarku.



“aku ingin menceritakan sebuah kisah, dan kamu tidak boleh memotong ataupun bertanya, karna sesi bertanya akan diperbolehkan setelah aku selesai bercerita” ujarnya serius, entah kenapa jantungku makin berdegup tak karuan.


Tentang semua rahasia yang kakek simpan begitu apik sampai-sampai aku tidak menyedarinya. Dan aku begitu terpukul saat mendengar ceritanya betapa sayangnya dan cintanya ayahku yang tidak pernah aku tau seperti apa sosoknya, karna kakek selalu mengalihkan pembicaraan jika ku bertanya soal itu. Tentang ibu yang begitu menyayangiku sejak aku tumbuh dalam rahimnya tentang kakek yang begitu menati aku lahir kedunia.  Tentang cinta yang salah dan rasa iri pamanku yang tega menghancurkan keluarganya sendiri.


“sayang..” bisiknya membuat aku tersadar dari lamunanku, dia membawaku kedalam pelukannya yang hangat, pelukan yang selalu membuatku nyaman dan tak ragu untuk bersandar padanya.



“aku juga mencintai mereka..aku sayang mereka kak” luahku.



“ia.. ia.. aku tau.. begitupun mereka. Kamu adalah malaikat kecil yang mereka nantikan…menangislah … jangan dipendam menangis jika itu melegakan” ujarnya menenangkanku dan aku semakin jadi menangis.



Hingga tau tau aku terbangun dikasur, seingatku aku masih menangis dalam pelukannya, suamiku tidak ada disampingku, sepertinya sedang kekamar mandi. Melirik jam digital diatas nakas masih jam 12 malam. Lalu aku menatap lurus kedepan dan terpaku pada sebuah bingkai dimana sebuah keluarga yang sedang tersenyum begitu bahagia, lelaki itu sedang merangkul sayang bahu istrinya dan tangannya yang lain mengusap perut pasangannya yang besar, foto kedua seorang lelaki berlutut dihadapan istrinya dan mencium perut buncit itu. Dan foto ketiga kedua lelaki sedang berebutan ingin mengusap perut istrinya dan istrinya tersenyum begitu cerah disana. Aku mendekati foto itu, disana foto terakhir, foto kakek dan seorang lelaki menggendong anak kecil yang begitu montok menggemaskan dengan gaun bayi yang lucu. Hingga sebuah lengan kekar memelukku dari belakang. Meletakkan dagunya di bahuku dan pipinya menempel dipipiku. Dan dia mulai bicara.

__ADS_1



“ini baba Hanna.. ayahmu, dan dia kakek Fatah.. heum.. masih belum berkeriput.” candanya membuatku terkekeh namun mataku menangis, entahlah aku bahagia meliaht jelas foto itu foto yang menampilkan wajahnya yang tersenyum begitu tampan.



“mataku turunan darinya.” gumamku.



“heum.. kamu separuh bule arab separuh bule amerika.” ujarnya lagi membuatku tersenyum, lalu ia mulai menjealskan foto yang ketiga.



“dia ummah.. ibumu cantik bukan.. dia juga bercadar sama sepertimu, karna ini fotomaternity untuk koleksi pribadi dia tidak mengenakan cadar.” jelasnya dan aku mengangguk. foto malaikat terhebat yang sudah berjuang agar aku tetap terlahir, tidak tau sebarapa kuatnya dia menahan sakit saat dia mencoba menahan obat yang ingin membunuhkan dan tetap bertahan melindungiku. Ouh.. ummahku yang cantik’ gumamku.



“heum.. sangat cantik.. bahkan lekungan kecil ini..” dia menunjuk pipiku yang memiliki lesung pipit kecil dibagian kanan. “diwariskan darinya.. bahkan aku kagum akan kecantikannya hingga menghasilkan putri yang cantik yang sekarang menjadi istriku ini.” Udah manisnya aku sampai menggeleng kepala tak percaya akan ucapannya barusan.



“habis kepentok apa itu kepalanya sampai bisa berkata manis begitu.” ledekku.



“sepertinya sudah lama aku tidak memberimu hukuman” ucapnya.



“sorry Mr.. istrimu sedang datang bulan.. jadi hukumanya dibatalkan wle….” Ledekku lantas berlari kekasur dan menutup seluruh tubuhku dengan selimut. Dia terbahak dan ikut berbaring dan memelukku erat. Pelukan yang membuatku selalu nyaman.



“terimakasih sudah mau menceritakannya.” Ucapku.



“tentu saja itu tidak grastis…” tanpa menungguku menjawab dia sudah melakukan aksi heroic yang memang selalu menjadi candunya, dan aku terbuai. Tapi dia tau jika tak boleh melakukan lebih, maka dari itu dia segera berhenti dan memilih memelukku untuk menyambung tidur kami.

__ADS_1


TBS


Jazakallah Khairan


__ADS_2