BLACK PEARL

BLACK PEARL
BAB 71


__ADS_3

...Bismillahirrahmanirrahiim...


.......


.......


...Maaf baru update...


...Selamat membaca...


Aku mengerjapkan mata pelan, tanganku terasa kebas seakan tertimpa beban berat, sedangkan tangan kiriku juga sulit aku gerakkan. Mungkin aku terlalu lama tertidur kuusahakan dengan pelan menggerakkan tanganku dan aku mendesah saat usaha itu tidak sia-sia walau aku hanya mampu mengangkat sedikit. lalu beralih ketangan kananku yang terasa sangat berat, hingga beban itu tak lagi menindih tanganku. Aku yang semula menutup mata, kini terbuka dan pandanganku jatuh pada dua bocah dengan wajah yang sama dan aku sulit membedakan mereka dan yang membuat aku tersenyum mereka sama-sama menatapku dengan tangan bertopang dagu. Kedua matanya berbinar lucu ‘ subahnallah ciptaan allah’ melihat senyum mereka, jika saja tubuhku tidak kaku sudah aku cubit gemas habis pipinya. Hingga suara lucu mereka membuat hatiku meronta-ronta ingin memeluk mereka.


“mata bunda cantik ya dek” katanya, bunda, siapa? Pikirku.



“ia kak walnanya cokkat… bener kayak difoto itu.” sambung sang adik dan sekarang aku mengerti si adek duduk disamping kakanya yang sejajar dengan lengan atasku sedangkan sang adik dilengan bawah. Aku meminta mereka membuka maskerku, dengan susah payah karna mereka tidak mengerti, hingga aku berhasil menggerakkan tanganku dan membuka maskerku sendiri dengan susah payah..



“loh..loh.. angan bunda belgelak bang..” pekiknya kecil, membuat sang Abang mengangguk antusias.



“ini bunda udah bangun apa masih tidur sih” ucapnya bingung aku tersenyum.. ‘apakah mereka putraku… anak yang akulahirkan.. sudah sebesar ini.. yaallah berapa lama aku tertidur.. lalu dimana putra ketigaku’ batinku.



“itu matanya terbuka bang.. bangun pasti” jawab sang adik. “tapi adik juga bingung bang bunda diam aja gak bicala, biasanya kita kalo bangunkan suka cerewetin ayah” sambungnya membuat mataku berkaca-kaca ‘yallah putraku sudah sebesar ini.



“ia.. sih.. eum, adek kalo tidur matanya kebuka atau ketutup?” tanyanya.



“tutuplah abang… kalo kebuka ya kayak sekalang ini loh.” jawabnya setengah sebal sepertinya.



“lah ia.. berarti bunda udah bangun dong” sungut abangnya membuat senyumku makin lebar padahal hatiku sudah tertawa. Mereka lucu sekali.



“hah. Bangun” kedua berujar spontan dan bersamaan membuat aku tersenyum lagi sebenarnya aku ingin tertawa tapi bibirku juga kaku tenggorokanku juga kering.



“bunda.. kami kangen bunda..” ucap mereka serempak lalu memelukku, si abang didadaku dan siadek diperutku. Bismillah…’ doaku semoga tanganku bergerak untuk merengkuh mereka, dan Alhamdulillah walau lemas dan untung saja tepat saat aku sudah merengkuh mereka “ouh yaallah terimakasih atas kesempatan untukku bisa memeluk kedua jagoanku, aku menangis, dan si abang berkata.



“bunda juga kangen kita ya?” tanyanya dan aku mengangguk kuat.



“kita juga kangen bunda hiks.. hiks.. abang sama adek sering bacain bunda al-qur’an loh.. surah Ar-rahman kata ayah surah itu menjelaskan betapa allah itu maha pengasih” ucapnya membuatku menangis haru. Tangan mungil mereka mengusap air mataku siabang di kanan dan si adek di kiri.mereka peka, batinku.



“bunda mau adek cium gak?”


tanyanya dengan sesenggukan, aku mengangguk kuat dia malah naik ketas perutku, awalnya aku terkejut namun aku menyukainya dan dia mencium wajahku rakus membuatku terkekeh, uh akhirnya bibirku tidak kaku lagi.


“abang juga mau” pintanya, sang adik turun dan bergantian sang kakak aku menyukai ini sangat menyukainya.



“a…i..r” ucapku susah payah setelah menerima demoa ciuman manis dari putraku tercinta.



“unda aus?” Tanya sang adek dan aku mengangguk, mereka turun berebut untuk mengambikan aku air minum yang ada dimeja, aku ingin menegur namun mereka pintar dan tidak berebut lagi ‘ masyallah kak Alardo hebat … ayah yang hebat’ batinku haru. Mereka membawa dua gelas dengan isi air separuh.



“biar adil ya bunda. Air punya kakak bunda minum lalu air punya adik bunda minum juga” aku mengangguk, cuman sekarang aku bingung bagaimana caranya untuk aku minum. Aku terkesiap saat si abang menuangkan airnya dan tumpah mengenai bajuku, dia menangis mungkin karna merasa bersalah.



“aduh bunda basah abang” ucap adek yang juga ikutan menangis.


__ADS_1


“hua…” tangisan mereka begitu kencang membuatku yang kesusahan untuk bangun jangankan bangun menggerakkan badanku saja tidak bisa, aku merasa tidak berguna jika begini. Hingga pintu dibuka kasar dan sedikit meimbulkan bunyi decitan.



“sayangnya ayah kenapa menangis heum..” suara itu,.. suara yang amat sangat aku rindukan, kini tengah duduk didepan kedua putraku yang masih menangis mencoba menenangkannya.



“bunda tadi haus ayah.. adek dan abang ambilin air.. terus abang gak sengaja numpahin airnya kebaju bunda dan lihat tuh bunda basah” ceritanya si abang pada sang ayah lalu menunjukku.



“bunda gak perlu minum sayang.. karna bunda sudah dapet minum dari…..” dia terpaku, mata kami saling menatap satu sama lain. Mata biru itu terlihat lebih indah dan tidak sepekat dulu, seakan bebannya telah hilang tidak ada dendam disana, mata itu begitu damai dan tenang.



“h..hanna” lirihnya, aku menangis saat dia menyebut namaku.



“ia ayah bunda udah bangun.”



“heum.. makanya kita ambil alih.” sambung sang adik. Sedangkan lelakiku.. lelaki dewasaku ini melepaspelukan dari putra kami dan menubrukku dengan kepala berada diceruk leherku dan tangannya mendekapku hangat.



“aku.. ouh tuhan.. terimakasih.. terimakasih masih mau membuka matamu sayang… terimakasih” ucapnya dia menangis aku merasakannya saat air matanya menetes dileherku.



“peluk terus.. kita juga mau dipeluk loh ayah” protes si abang , membuat suamiku terkekeh geli dia masih tetap tak bergeming sepertinya senang sekali menjaili anaknya.



“hooh.. kita dulu yang nemun budan bangun kok ayah main lebut sih” ucap si adek tak terima. Kompak keduanya menarikpaksa bahu ayahnya yang bahkan tidak bergeming.



“Chio kita itu pecemburu berat tau gak… kalo aku peluk kamu lama mereka akan protese seharian dan mendumel…’ bisiknya, aku terkekeh ia bangun lalu menatapku.



“ini nyata saat aku mampu melihat senyummu lagi.”.




“ais ayahkan juga kangen boys” jawabnya tak mau kalah.



“ayah sama kita lebih besar siapa?” Tanya si abang.



“ya ayah dong” jawab kak Rys.



“makanya ayah harus ngalah” jawab sang adek, membuatku terkekeh.



“lihat sayang.. bunda cantikkan saat tertawa.” ucapnya membuat kedua anakku mengangguk.



“heum.. macam kite orang.” jawabnya meniru logat kartun yang berasal dari Malaysia itu.



“a..i.. r” ucapku, tenggorokanku benar-benar kering.



“mai minum??” Tanya suamiku dan aku mengangguk. dia membantuku bangun dengan bantal yang disusun sedemikian rupa agar aku nyaman saat bersandar.



“abang mau cuap bunda ayah” pintanya dengan wajah imut , yaallah akugemas’ batinku

__ADS_1



“adek juga mau” pintanya tak mau kalah.



“lihatkan sayang.. jika sudah memasang jurus andalan mereka tuh, bikin aku tidak pernah bisa menolak kemauan mereka” jelasnya seraya terkekeh. Lalu memberikan gelas itu pada abang, dan menyuapkan air dibibirku bergantian adek dan aku mendesah lega saat tenggorokanku dingin dan nyaman. Sisa dari airnya diminum kedua putraku.



“kata ayah tidak boleh buang-buang rezekijadi kita habiskan, yakan dek” sia dek mengangguk setuju. Aku terkekeh gemas melihat mereka.



“baju bunda basah, ayah ambilin baju ganti buat bunda dulu.. kalin tunggu disini ya” ujarnya lalu turun dari kasur, namun sebelum itu bibirnya masih sempat-sempatnya mencium keningku ‘tunggu sebentar ya’ bisiknya.



Aku sudah berganti pakaian, dengan hijab dan cadar melekat di wajahku, setelah dokter selesai memeriksa dan melepas semua alat ditubuhku. Setelah itu semua orang bergantian memelukku dan menangis haru. Taukah kalian dua jagoanku itu duduk disisi kiri dan kananku bagaikan bodigat.



“seneng pasti bunda bangun yah.” ucap Alana, matanay sembab dia menangis tadi dibahuku, apalagi sicalon ibu baru kak Lena dan Aisyah mereka kompak hamilnya, hanya beda satu bulan. Cuman aku bingung siapa suamikak Lena tapi nanti aku akan tanyakan suamiku ini.



“ia dong.” jawab kedua jagoanku kompak lalu memeluk lenganku yang masih lemas,, aku tersenyum dibalik cadarku.



“ya tapi gak lama sama kalian.. karna bunda akan mami bawa keDubai.” godanya membuat mereka memelukku posesif.



“godain mulu ya.” ujar kak Alan menjentik kening Alana, membuat sikembar yang hampir menangis malah terkekeh. Ummi datang memelukku erat dan mengucap syukur karna allah masih memberikan aku kesempatan untuk hidup. Kehangatan keluarga yang akurindukan, senyum mereka, tawa mereka, cerita mereka yang lama tidak aku dengar. Bibi Maggie juga memelukku erat,ya diaseperti ibuku..begitu baik dan selalu meladeni masa ngidamku.


++++++++++++


Malam harinya, kedua jagoanku tengah terlelap disisi kanan dan kiriku, aku tak percaya aku mereka sudah sebesar ini, banyak sekali moment yang aku lewati bersama mereka, bahkan aku tidak tau kapan dan umur berapa mereka mulai bisa bicara, bisa berjalan, dan mengenal tuhan hingga menghafalkan ayat-ayatnya. Hingga aku merasa pergerakan disisi ranjang kosong, dia suamiku tersenyum padaku begitu lembut matanya berkaca-kaca dan mulai memeluk kami.



“aku masih belum percaya jika kamu kembali membuka mata dan bersama kami” ungkapnya.



“akupun Mr.suami… aku bahkan melewatkan masa-masa emas putra-putra kita. Maaf tidur selama itu.” ucapku dan memandangan mata biru yang tenang itu. Dia membelai lembut pipiku.



“bukan salahmu sayang… aku bisa belajar sabar dengan mengasuh buah cinta kita seperti kamu dimana hanya kamu yang merasakan gimana rasanya bawa tiga bayi kita, dan sekarang giliran aku seakan allah menunjukkan keadilannya padaku. Dan itu luar biasa menakjubkan.”



“maaf gak bisa jaga baby Chio.”



“bukan salahmu.. dia sudah tenang disana sayang.. bersama para bidadari.” Ujarnya, ya suamiku berubah, dia menjadi lebih sabar, lebih terbuka dan tidak lagi diliputi dendam dan amarah. Kata-katanya begitu lembut tidak sedingin dulu, walau aku tidak tau jika dia berbicara dengan orang lain nanti.



"Loh mau dikemanain?” tanyaku saat dia memindahkan kedua putraku dalam satu gendongan.



“memindahkan rivalku… gantian saatnya Quetime ayah bunda.” jawabnya seraya mengerling genit.. yaampun suamiku tidak pernah begitu’ batinku. Setelah memindahkan duo jagoan dia yang berganti bermanja ria bersamaku.



“besok kita akan terapi agar tubuhmu kembali kesemula!”



“dan aku merepotkamu lagi…” bisikku lirih. Hingga tiba-tiba dia menciumku lembut.



“sepertinya istriku ini merindukan hukuman yang aku beri” ujarnya dan menatapku tegas, ya dia masih belum berubah tidak suka jika aku berkata merepotkan, menyusahkan. Aku tertawa dan menatapnya dalam.



“aku mencintaimu suamiku… mencintaimu karnanya” ucapku tulus.

__ADS_1



“begitupun aku sayang…” balasanya lalu kembali menciumku setelahnya kami menikmati moment berdua yang sudah lama tidak lagi dilakukan karna keadaanku.


__ADS_2