
...Assalamu'alaikum......
.......
.......
.......
...Happy reading...
.......
... ...
Aku mengepalkan tangan, menahan amarah, akan ucapannya mengenai anak. Bayi.. no.. aku tidak ingin ada bayi. Bukan tidak tapi huh… aku kesal akan hal ini. Aku hanya ingin hidup berdua dengannya. Tidak dengan adanya bayi.. maksudku.. ah entahlah aku mengerang frutasi tak tau dan bingung akan apa yang tengah aku pikirkan.
Aku pergi dari rumah, untuk sementara aku mengihindar dulu darinya. Mendapati dirinya dengan wajah penuh Tanya yang mana jawabannya tidak bisa aku ucapkan karna aku sendiripun bingung. Tentang memiliki anak ataupun bayi yang sama sekali tidak ada dalam pikiranku.
Tengah malam aku kembali, suasana rumah tampak sepi dan aku yakin Hanna sudah tidur, memeriksanya dikamar kami dan benar dia sudah terlelap. Aku ikut berbaring bersamanya dan hendak membawanya dalam dekapan. Namun tangannya menahan pergerakanku, matanya terbuka dan salah satu tangannya menutup hidungnya.
“aku tidak suka suamiku memelukku dengan aroma menyengat alcohol dan rokok.” ucapnya lembut.
“ mandi dulu ya.. aku akan menyiapkan baju untukmu.!” lanjutnya dan bangun dari tempat tidur. Kebiasaannya dimana segala perhatiannya dari memenuhi semua kebutuhanku, melayaniku dengan baik bahkan memasakkan makanan untukku. Dia keluar dari kamar mandi dengan senyum masih menghiasi wajahnya.
“airnya sudah siap. Mandilah tapi jangan lama-lama entar setannya minat sama kamu.” candanya, membuatku tersenyum kecil.
Turun dari ranjang lalu menciumnya kilat dan berjalan cepat menuju kamar mandi sebelum mendengar dumelannya dimana ia memang benar-benar tidak suka berdekatan denganku dengan keadaan aku yang seperti ini. Jika hanya pulang kerja lelah dia sama sekali tidak keberatan aku peluk aku cium dan aku apa-apakan. Tapi jika aku berbau rokok dan alcohol dia akan sangat anti aku dekati.
Keluar dari kamar mandi, aku tidak mendapatinya dikamar namun aku melihat baju tidur yang sudah ia siapkan. Aku memakaianya cepat hendak mencarinya. Namun dia sudah datang dengan membawa nampan berisi makanan dan teh hijau hangat.
“masak?” tanyaku datar.
“heum.. hanya sebentar kok.. ayo makan dulu!” ajaknya menarikku paksa dan duduk bersebelahan di sofa. Menyerahkan secangkir teh hangat yang begitu nyaman dalam kerogkongan.
“belum makan?” tanyaku padanya.
“heum.. gimana bisa makan, sedangkan suaminya pergi dan pulang larut seperti ini tanpa memberi tau dia dimana membuat istrinya kawatir. Menurutmu apakah aku bisa makan enak?” jawabnya retoris.
Aku bungkam terdiam dan tertohok akan perkataannya. Jadia dia mengkawatirkanku sedalam ini. Aku memang mengusahakan pulag cepat, dan paling lambat pulang jam 8 malam, itupun termasuk sangat malam. Sejak menikah aku tak pernah lagi pulang selarut ini, tapi karna kegelisahan dihati dan kekacauan pikiran aku pulang selarut ini tanpa berfikir dia akan menungguku.
“makan dong.. kak.. gak suka mau aku masakkan yang lain?” tanyanya. Dan aku menggeleng dan mulai makan.
__ADS_1
Selesai kami makan, duduk sejenak untuk memberi ruang pada lambung mencerna makanan kami. Duduk diam didepan tv yang menyala yang berada didalam kamar kami. Lalu tanpa sengaja kami saling bertatapan lama. Memangkas jarak antara aku dan dia lalu menciumnya rakus meluapkan rasa asing yang sekarang tak coba kutampik dan membiarkannya saja, karna jika aku menolak aku akan tersiksa sendiri.
“aku mau…” menatapnya dengan sayu dan menuntut. Dia mengangguk malu-malu, dengan cepat aku membawanya dalam gendongan dan menidurkannya dikasur, saat tanganku hendak membuka kancing bajunya, kedua tanganya menakup tangaku, membuat gerakanku berhenti dan aku menatapnya.
“tentang itu.. kebiasaanmu.. aku mohon kakak mempertimbangkannya, demi aku.. demi kamu dan demi kita.. aku mohon!” pintanya memohon, membuatku frutasi dan menciummnya meluapkan rasa frustasiku akan permohonannya yang tulus, aku akan memikirkannya nanti pasti tapi sekarang ini yang terpenting’ batinku.
...👇👇👇...
Aku duduk menunggunya selesai mengerjakan shalat dhuha setelah selesai aku mendekatinya duduk berjongkok disampingnya.
“akan aku pikirkan tentang permintaanmu” ucapku dan lihat mata itu bersinar cerah merasa sangat senangkah dia, padahal jawabanku belum tentu sesuai dengan ekspektasinya.
“aku senang kak Rys mau memikirkan tentang hal itu, aku akan melakukan apapun yang kak Rys mau. Asalkan tidak menyuruhku melepaskan agamaku.”
“tidak, aku sama sekali tidak mengusik tentang hal itu, dan tawaran ini akan aku pikirkan.” Ucapku, lalu mengulurkan tangan membuka mukenahnya. Dia sudah siap dengan gamis dan hijabnya dia akan kekampus.
Mencium keningnya lama dan seperti kebiasannya dia mencium tanganku, lalu aku harus segara pergi karna pembahasan tetang proyek bersama anak pak Saylendra yang diwakilkan putrinya Seira Saylendra.
Sesampainya dikantor Anggun memberitahuku jika putri Saylendra itu sudah berada didalam ruangannya menungguku. Daniel direktur perusahaan ini dan aku mengajaknya masuk, tak ingin terjadi sesuatu gadis itu binal dan nakal. Yang aku tau dia sekelas dengan istriku. Namun dia tak tahu jika Hanna adalah istriku. Kemampuannya jauh dari Hanna tentu saja jika saja dia datang sendiri tanpa sekertarisnya yang pandai, mungkin aku sudah menghentikan kerja sama ini. Tapi ia memiliki sekertaris yang pandai dalam bidang bisnis membuatku mempertimbangkannya.
“oh hai Mr. Zach.. dan Mr. Robinson” sapanya dengan senyum lebar pada bibirnya yang merah seakan ia habis makan tikus hidup-hidup membuatku bergidik ngeri. Dan Daniel dia bahkan sama sekali tidak menatap Seira.
Selesai membicarakan proyek, waktunya beristirahat. Dia tersenyum pada kami yang menanggapinya jengah.
“bagaimana jika kita makan siang bersama. Aku ingin makan stik iga, dan dilestoran X ini stiknya terkenal enak… ayo” ajaknya antusias.
“yang ingin makan siapa?” tanya Daniel.
__ADS_1
“aku dan aku mengajak kalian, karna makan sendiri itu tidak enak.”
“dan aku merasa sangat amat terganggu jika makan bersamamu” jawab Daniel telak.
“yasudah aku tak makan denganmu aku makan dengan Mr.Zach saja ayob” ajaknya seraya tersenyum manis yang pahit itu.’masih lebih mais istriku’ batinku
“aku lebih suka makan dengan banci dari pada denganmu.!” jawabku Sarkasme dan pergi meniggalkannya kekamar mandi, aku tak peduli lagi tentanganya. Serasa dia sudah pergi aku keluar dimana Daniel dan paman Anthony sedang menata makanan dimeja.
“aku membawa bekal’ jawabku lalu membawa bekalku berkumpul bersama mereka. Bekal masakan yang Hanna selalu wajibkan harus aku bawa dia juga membawa bekal dengan menu sama, karna aku tidak mau berbeda dengannya.
“jika sudah beristri beda yah paman.” ujar Daniel antara takjub dan tak percaya, Anthony terkekeh seraya menikmati makan siangnya begitupun aku melahap masakan istriku yang lezat dan megacuhkan Daniel. Hingga aku teringat sesuatu dan menelfon bibi Maggie.
📲
‘dia meminum obatnyakan tadi?” tanyaku padanya tanpa basa basi.
‘ia tuan seperti biasa, dan obatnya hampir habis” beritahunya.
📱
Aku mematikan ponsel da mengirim pesan pada dokter Tari, agar mengirim obat kontrasepsi itu kerumah. Hanna tidak mengetahuinya, karna aku membeli tempat obat yang lain agar ia mengira dia hanya meminum Vitamin seperti yang sudah aku katakan.
...TBS...
...Alhamdulillah...
...Jazakallah khair...
...Jangan lupa dukungan kalian ya sobat.....
...Selamat beraktivitas di hari senin pagi ini.....
...Semoga allah memberkahi setiap langkah kaki kalian dalam aktivitas produktiv yang tiada henti menyebut namanya. Dan tiada henti bershalawat atas manusia mulia yaitu Rasulullah....
...Dan bagi kalian yang menjalankan ibadah puasa semoga allah mudahkan puasanya hingga berbuka nanti....
...Aamiin.....
^^^Wassalamu'alaikum......^^^
^^^LUV kalian...^^^
__ADS_1