
بسم الله الرحمن الرحيم
...
...
“Cari tau semua tentang gadis itu tanpa kekurangan apapun!” titahku pada paman Anthony yang mengangguk patuh.
“baik tuan.. dan nona Hanna sudah berada dibawah, menunggu anda.” beritahu Anthony pada Mr. Zachary.
Aku melangkah menuju ruang keluarga, dimana dia sudah duduk disana dengan tenang. Saat kulangkahkan kaki menuju dirinya, dia tersadar dan menatapku dalam diamnya. Duduk disofa single di sisi ujung sedangkan dirinya berada di sisi kana dikursi bad didepannya ada tv lebar LED.
“ceritakan apa yang terjadi!” suruhku tegas tanpa menatapnya.
“jadi singkatnya ada masalah keluarga yang tidak mungkin saya ceritakan pada anda, dan malam itu puncakmasalahnya, kakek menyuruh saya kabur dari anak buah sirentenir terkaya didesa, intinya seseorang melakukan kesalahan dan kesalahan itu ditimpakan pada saya dan kakek saya yang tidak tau apa-apa”. Jelasnya, walau kurang puas tapi aku suka dengan cara ia menyampaikan tak bertele-tele.
“lalu jika kamu kembali apakah kamu yakin disana sudah aman?”
“insyaallah.. aku memiliki seorang kakek yang kuat untuk apa aku takut, lagi pula membiarkan kakekku tinggal sendirian didesa itu tidak baik untukku dan untuknya.”
“oke.. besok kembalilah kedesamu!”
“benarkah?” tanyanya, matanya yang indah itu berbinar senang. Aku mengangguk yakin lalu kualihkan pandanganku pada guci yang diam.
“oke.. istirahatlah!” akupun pergi meninggalkannya sendiri, menuju keruang kerja pribadaku, disana sudah ada Daniel sang pencri informasi terpercaya.
“sudah kau dapatkan?” tanyaku padanya dan dia mengangguk.
“sudah Sir..”
“baiklah kau boleh pergi.”
Setelah Daniel tak terlihat aku membuka berkas berisi pfofile lengkap gadis itu.
__ADS_1
“HANNA MAHVEEN SHEZAN RAVENDRA , umur 19 tahun.”
“sangat amat muda, and nama yang cantik.” pujiku dan memang benar namanya cantik aku tak menampik, setelah itu keluar dari ruang kerja menuju kamar untuk mengistirahatkan tubuhku yang lelah.
+++++++++
Author POV'
Keeskokan paginya Hanna dengan semangat ia sudah berada didapur ia ingin meninggalkan kesan baik pada sipenolongnya itu.
Ia memasak nasi goreng spesial yang dimana jika ia memasak ini kakeknya akan selalu nambah, tiba-tiba bulir bening memasahi pipinya tanpa ia sadari juga sedikit melamun membuat dia tidak sadar semua pelayan sudah tidaka ada disana dan hanay ada satu orang yang menatapnya datar.
“jika sebelum pergi kau ingin membakar dapurku, maka sebelum hal itu terjadi aku akan membakarmu lebih dulu!” tegurnya dengan ada mengancam membuat Hanna tersadar dalam lamunan. Apalagi ia double terkejut saat Alardo berada disampingnya mematikan kompor.
“eh tuan” gagapnya gelagapan.
Aldaro sama sekali tidak menggubris Hanna dan memilih duduk tenang di kursi meja makan, membuka majalah bisnis yang sepertinya Maggie sudah sediakan. Hanna yang melihat hal itu berinisiatif membuat kopi.
“rasanya tidak terlalu manis dan teksturnya tidak terlalu cair ataupun terlalu kental!” jelasnya tanpa tendeng aling, dan Hanna mengerti akan apa yang diucapkan tuan Zach yang super ambigu.
Selesai dengan kopi ia menyuguhkannya pada Alardo lalu kembali berkutat dengan masakannya. Masakan sudah matang beberapa pelayan yang memang bertugas memasak menghidangkan dimeja makan, dibantu Hanna.
Gamis dengan model abaya kali pertama yang ia punya dan terlihat dari bahannya yang benar-benar nyaman dan lembut dan harganya pasti mahal' taksir Hanna. Lalu setelahnya ia kembali turun menuju ruang makan.
“kamu tidak sarapan?” tanya Alardo pada Hanna, Hanna menggeleng yang ia pikirkan hari ini adalah cepat pulang ia merindukan kakeknya dan kuliahnya yang sudah ia tinggalkan selama 4 hari.
“eum…” Hanna terdengar ragu untuk menyampaikan sesuatu membuat Alardo menatapnya penuh.
“apa yang ingin kau katakan?”
“aku.. ingin pulang.. bisakah aku pulang sekarang?” tanyanya. Alardo menangguk sebagai tanggapan.
“paman Anthon!” panggilnya. Hingga yang dipanggil sudah berada disana.
“periksa apa yang dia bawa, aku tak ingin barang berhargaku berada disana.” Titahnya, membuat Hanna tercengang begitupun paman Anthon.
‘yap … orang kaya dengan segala kesombongannya’ batin Hanna, ia memberikan plastik berisi pakaiannya pada paman Anthony, menekan semua rasa tersinggungnya itu dalam hati lagi pula aku tidak seperti yang ia tuduhkan lantas kenapa aku harus mempermasalahkannya’ batin Hanna walau tak apik ia sakit hati juga.
“tidak ada barang apapun didalam sana, hanya barang milik nona.”
__ADS_1
“baguslah.. bilang pada John.. untuk mengantarkannya pul…”
“maaf tuang Zach yang amat sangat terhormat, saya bisa pulang sediri kerumah saya tanpa harus diantar, terimakasih sudah menyelamatkan saya dari para rentenir itu. Dan terimakasih juga sudah memperbolehkan saya tinggal disini, saya tidak ingin memiliki urusan apapun lagi dengan anda, dan saya tidak ingin memiliki hutang karna anda tau sendiri saya gadis MISKIN tak akan sanggup membayar akan kebesaran hati anda tuan.”
Salah satu bibir Alardo tertarik angkuh, ia menatap mata Hanna yang indah.
“aku tak butuh uang, kamu bisa membayarnya dengan tubuhmu” ucapnya dingin.
Tangan Hanna mengepal menahan emosi, matanya berkaca-kaca ia merasa terlecehkan jika nanti ia tidak bisa makan sekalipun, menjaga izzah dan inffahya adalah kewajibannya karna iman, bentuk ketaatannya pada tuhan hingga nanti akan ada seseorang yang menghalalkannya menjadikan dia seorang istri.
“baiklah saya permisi” ujar Hana, ia merebut plastik dari tangan Anthony dan pergi dari sana dengan tergesa-gesa. Sekepergian Hanna Alardo terdiam, ia merasa ada yang salah tapi keangkuhan dalam hatinya berbisik bahwa tak ada yang salah dan mulut pedasnya memang sudah terbiasa berata kasar.
“aku rasa kau keterlaluan Mr. dia bukan para \*\*\*\*\*\* koleksimu!”
“heh.. jangan tertipu dengan covernya paman, biasa saja dia lebih \*\*\*\*\*\* dari yang kita pikirkan” tuduhnya.
“ya terlebih lagi pikiranmulah yang terlalu kotor, hingga mutiara putih kau anggap mutira hitam sepertimu.” ujarnya lalu pergi dari sana, membuat Alardo terdiam dalam sunyi ia sendirian tak ada siapapun disana. Ucapan tadi adalah spontanitas tanpa ia pikirkan.
“kenapa harus memikirkan hal itu” gumamnya, ia bangun dari sana lalu pergi kekamar untuk bersiap-siap melakukan aktivitas paginya dengan setumpuk pekerjaan yang selalu ada.
...TBC...
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
... Jangan lupa vote dan koment ya sobat.....
^^^Terimakasih...😉😉^^^
__ADS_1