
بسم الله الرحمن الرحيم
...Selamat membaca...
...
...
...
...
Hari ini Hanna diperbolehkan pulang, dia sudah kembali sehat begitupun Lena, dia sudah kembali kerumah orang tuanya di kampung, paman Anthony yang mengatarkannya.
Dalam perjalanan Hanna menikmati pemandangan diluar membuat Alardo mendengus sebal, ia menarik istrinya kedalam pelukan dari belakang. Membuat Hanna menahan nafas dan mencoba mengendalikan dirinya sendiri agar membuang ingatan tentang lelaki itu. Ia menarik nafas dalam lalu menghembuskannya sebagai pengedalian diri. Alardo yang mengerti mencium pucuk kepala Hanna dan bergumam.
“maaf.” Ucapnya, lalu ia membawa tubuh Hanna kedalam pelukannya lebih lembut, ia tidak ingin perlakuan tiba-tibanya malah membuat istrinya mengingat hal yang sama sekali menjadi mimpi buruk istrinya. Hanna tersenyum, ia menyandarkan tubuhnya kedada bidang suaminya dan memejamkan mata, ia mulai rilexs.
“aku yang minta maaf, karna terlalu berlebihan menanggapi.”
“bukan berlebihan… karna trauma tak bisa hilang secepat itu.” Ucap Alardo, sesekali ia mencium pucuk kepala istrinya membuat Hanna merasa tenang.
Hatinya terus berdzikir agar tidak menjadi keras tidak bisa berdamai dengan kejadian itu dan dendam dengan tidak memberi maaf. Hanna tidak ingin menjadi seperti itu, bukan haknya untuk tidak memberikan maaf. Biarlah itu semua menjadi tanggung jawab allah. Allah yang lebih berhak membalas segala perbuatan hambanya.
Hanna merasa aneh saat suaminya menariknya masuk kedalam lift, ia menatap suaminya dan Daniel yang memunggunginya.
“ini dimana?” tanyaya.
“penthaouse suamimu Han.” jawab Daniel.
“kok disini gak pulang kerumah kita aja?” Tanya Hanna, merasa aneh. Ummi dan abi sudah kembali keDubai bersama Alina karna besok Alina mulai kembali sekolah. Urusan abi juga sudah selesai di Indonesia.
“kita akan tinggal disini untuk sementara waktu.!” beritahu Alardo, Alardo menuntun tangan Hanna erat setelah keluardari lift menuju lantai paling atas.
“kalo kita tinggal disini, kasian bibi maggi, dan pelayan yang lain.. terus paman Anthony bagaimana Mr Husband? Tanyanya kawatir. “ dia akan tinggal dengan siapa?” sambungnya.
“tinggal denganku adik kecil.” jawab Daniel merasa jengkel. Orang –orang yang Hanna sebutin tadi sudah besar bisa menjaga diri sendiri. Lapar tinggal masak, minum tinggal minum. Mereka mandiri sesuai umur.
“ya tapikan nanti Hanna kesepian disini, gak ada teman bermain saat Ka Rys kerja” keluhnya. Namun setelah pintu terbuka dengan terpampang jelas keadaan ruangan megah nan mewah itu.
__ADS_1
“masyaallah indah banget.” ucapnya berseru girang, lalu berlari mendekati kaca besar ia melihat betapa indahnya melihat pemandangan padatnya kota dengan bangunan menjulang tinggi.
“lihat-lihat aku bisa dengan jelas melihat burung terbang.. wah…” senangnya.
Membuat Alardo dan Daniel menggeleng takjub. Walau tingkah Hanna sedikit kentara jika dia berasaal dari desa, mereka tidak keberatan namun merasa lucu.
“itu istri lokan.. yang tadi cerewet karna takut kesepian kenapa malah segirang ini.. tadi yang cerewet kawatiran orang ini malah asik sendiri.” komentar Daniel, sedangkan Alardo terkekeh melihat tingkah istrinya takjub, ia dia tak lagi ragu menampilkan berbagai macam ekpresi akan emosi yang dia lakukan, beitu juga dengan Daniel walau tingkat kekentalan datar dingin dan kaku mereka masih sekental susu frisen flag.
“hey.. Mr Suami.. kemari” panggil Hanna tanpa menolah pada Alardo, Alardo datang mendekati Hanna dan berdiri diebalakangnya.
“kita foto yuk.. pemandangannya indah” ucapnya penuh kagum.
Alardo hanya mengangguk saja. Mereka berbalik memunggungi kaca dan menyuruh Daniel mengambil gambar, sedangkan yang disuruh merasa amat keberatan apalagi pose mereka membuat dia mendengus sebal. Jika menimpuk orang tidak dosa sudah dia timpuk tuh Hanna dan Alardo yang malah beromansa ria dan dia nelangsa menjadi sang fotografer mendadak untuk dua sejoli itu.
“nanti cetak ya Niel.. sekalian beliin album plus bingkai yang bagus. Pilih salah satu foto yang paling bagus untuk di bingkai” pesan Alardo dan malah pergibersama Hanna tanpa peduli perasaannya.
“dasar akar tanah.” ucapnya melihat Alardo yang meninggalkannya dan memberi titah tanpa beban, dia tidak mengerti seberapa irinya dia melihat dua pasangan kasmaran yang pengen dia umpankan kekandang buaya.
--------------------------
Hanna sudah siap dengan kebaya dengan model tunik berwarna Navy serta bawahan kain batik yang indah berwarna abu-abu. Ia mengenakan pasmina dengan sebelah sisinya yang panjang dibiarkan begitu saja berwana abu-abu beserta cadarnya. Hari ini ia akan diwisuda, menjadi sarjana diusianya ke 19 tahun mendekati 20. Ia selesai bersiap, lalu berbalik menatap suaminya yang bersandar pada dinding yang sepertinya sejak tadi mengamatinya dalam diam..
“gak kelihatan!” ucapnya datar, ‘cantik’ batinnya jujur, sedangkan Hanna hanya bisa tersenyum sebal saat mendengar ucapan yang memang tidak pernah mau bermanis ria dengannya.
“karna manisnya bukan dari ucapan, tapi saat bibir kita saling menyatu.” ucapnya gamblang, ia seakan mengetahui dumelan hati Hanna. Membuat Hanna spontan memukul perut kaku itu, tak hanya ekpresinya yang kaku sak tubuhnyapun kaku’ batin Hanna.
“kebiasaan ya!” kesalnya. Lalu berjalan menuju walk in closet mengambil kemeja berwarna Navy yang sudah dia setrika tadi pagi. Ia kembali keluar dengan membawa kemeja suaminya. Hanna memasangkannya pada Alardo dan mengkancingnya dengan telaten.
“sudah rapi saatnya pergi!” Ajaknya, Alardo menggenggam tangannya keluar dari kamar dan sudah mendapati Daniel dan paman Anthony yag juga sudah rapi dengan pakaian formal mereka.
“nona sangat cantik” puji Anthony membuat Hanna tersipu malu.
“heum.. terimakasih paman.. paman juga ganteng.” baliknya memuji.
“cantik apanya lah hanya terlihat mata doang tuh.” ujarnya spontan Alardo, membuat Hanna yang tadinya senang malah sebal ia memukul gemas lengan kekar suaminya itu.
__ADS_1
Kalo gak cinta udah aku kotakin terus paketin ke orang yeng membutuhkan dumelnya dalam hati. Alardo yang melihat tinggakh istrinya terseyum tipis, ia senang mengerjai istrinya itu.
Acara berlangsung dengan khidmat dan semua wakil mahasiswa tengah merasakan kebahagian penuh bangga pada anak-anaknya yang kini resmi menyandang gelar sarjana. Acara terakhir yaitu berfoto bersama seangkatan bersama para dosen dan tenaga pengajar. Tak terkecuali Hanna ia berusaha menahan tangis karna merasa terharu dan juga sedih karna tidak ada kakeknya disini. Dan hal itu tak lepas dari tatapan Alardo yang mengerti perasaan istrinya itu. Ia juga bangga pada Hanna yang menjadi lulusan terbaik dengan ipk paling tinggi mengalahkan ipk. Maha siswa sebelumnya.
Setelah acara selesai Hanna mengampiri suami, kak Daniel dan paman Anthon. Dimana ketiganya tengah memberikan sebuah buket yang berbeda. Jika Daniel memberikan bunga beserta boneka kecil dengan topi wisuda diatasnya. Paman Anthony memberikan buket makanan ringan dan ia sangat suka setidaknya ia diberikan teman membaca buku atau sekedar bersantai. Lalu Alardo memberikan buket bunga yang lebih besar dari kak Daniel juga ada boke berukuran
sedang dengan atribut wisuda juga.
“Han foto dulu ayo!” Aisyah tiba-tiba datang dan menarik Hanna menjauh dari ketiga lelaki yang sudah Hanna terima hadiahnya jadi tangannya penuh.
Sedangkan dari kejauhan ada yang menatap mereka dengan tatapan memastikan hingga keempat orang itu mendekati mereka dan tersenyum senang.
“wah tidak menyangka kita akan bertemu disini Mr.Zach.” sapa Saylendra sopan.
“oh hai.. Mr. Zach dan Mr. Robins” sapa Seira.
Daniel dan Alardo yang sebenarnya malas menanggapi terpaksa mengangguk sebagai kesopanan.
“oh hai juga tuan Saylendra dan nona Saylendra.. anda wisuda sekarang juga? Tanya Anthony.
“ya setelah satu kali mengambil cuti karna pekerjaan waktu itu makanya saya sedikit terlambat. Seharusnya sudah tahun lalu saya lulus” jelasnya tanpa diminta.
Anthony mengangguk, karna tanpa dijelaskanpun dia sudah tau. Siapa orang didepannya ini, bermulut manis namun ternyata pahit sepahit obat. Namun pahitnya obat karna mengobati orang sakit, sedangkan mereka seperti menyiram luka dengan pasir tambah parah.
“oh.. sedang apa Mr. Zach dan kalian disini?, eum apa karna hari ini kelulusanku kalian datang?” tanyanya kepedean.. hingga sebuah suara mengintrupi mereka.
“kak Daniel.. kak Al.. paman ayo pulang…!” panggilnya dari jarak sepuluh langkah. Mereka semua menoleh pada sosok Aisyah yang memanggil mereka, sedangkan Hanna masih bicara dengan seorang teman dan tubuhnya juga terhalangi oleh teman mereka yang memiliki badan tinggi dan cukup berisi.
“kami permisi dulu pak..harus pulang.” pamit Anthony sedangkan dua lelaki muda itu pergi tanpa permisi seperti kebiasaan mereka.
“dia teman sekelasmukan?” Tanya tua Saylendra pada putrinya yang menatap penuh tanya pada Aisyah dan ketiga lelaki yang menuruti ucapan Aisyah.
“ya.” jawabnya dengan terus memandang mereka., apalagi Serin berfikir yang rangkul mesra oleh Serin adalah Aisyah ‘ada hubungan apa mereka?’.
“mereka menjalin hubungan?” Tanya tuan Saylendra.
... “aku tidak tau.. dan aku rasa dia hanya mainan Alardo.. karna walaupun itu benar aku tidak akan membiarkannya Pi.. aku sudah jatuh cinta padanya.” ucapnya ‘dia akan menjadi lading uang buat aku, menjadi nyonyanya dengan dikenal dunia. dan aku akan hidup enak tanpa memikirkan uang akan habis.’ Batin Seira licik....
__ADS_1
...Jazakumullah khair...