BLACK PEARL

BLACK PEARL
BAB 4


__ADS_3

... بسم الله الرحمن الرحيم...


...Selamat Membaca...


Malam harinya bibi Maggie dan aku memasak, kataya sebentar lagi tuan si pemilik rumah akan pulang. Aku sedang menumis capcay spesial untuk si penolongku yang sudah berbaik hati membawaku dan menampungku dirumahnya. Saat asik mengaduk masakan, aku menatap heran bibi Maggie dan para pelaya yang entah sejak kapan berkumpul, memunggungi ku dengan badan sedikit membungkuk. Aku mendekati Maggie dan berbisik.


“bibi ngapain?” tanyaku penasaran dengan tubuh tetap menghadapkompor tentu saja aku takut masakanku gosong.



“jangan ada yang berbisik !” suara baritone seseorang menggema diseluruh penjuru dapur. Suara yang tegas dan dingin. Aku mematikan kompor dan berbalik, kuangkat kepala ingin tau siapa pemilik suara dengan nada penuh titah itu. Hingga aku terperanjat kaget dan tanpa sadar mengacungkan spatula pada lelaki berbalut setelan resmi yang pas ditubuhnya.



“kamu.. penculik itukan.. kamu ngapain disini?” pekikku tidak terlalu keras, wajahnya terkejut mungkin akan tindakanku yang menodongkan spatula padanya. Bahkan semua orang menatapku dengan tatapan terkejut.



“bibi.. dia penculik itu bi.. kenapa dia kemari. bibi jangan takut ada aku !” ucapku menenangkan bibi Maggie yang menatapku melotot aku pikir dia pasti ketakutan dengan lekaki yang kini mulai bersikap tenang namun mata elangnya menatapku tajam jadi aku tak boleh menatap mata itu terlalu lama.



“tampang ganteng tapi kok jadi penculik sih.. mending kamu kerja lain aja deh.. jagan jadi penculik dosa!” ceramahku, dia mengangkat satu alisnya dan mulai melangkahkan kaki, aku mulai siaga.



“jangan mendekat.. atau spatula ini akan melayang tepat diwajah tampanmu itu !” ancamku. Hanya sekedar ancaman karna sejatinya mana tega tuh mukul orang.



“coba saja!” kali ini ia mulai bicara dan terus melangkah mendekatiku.



“aku bilang jangan men…” aku terkesiap saat ia sudah berada tepat didepanku bahkan jaraknyapun mungkin sebatas jari telunjuk.



“ka..kamu mau apa?” tanyaku gugup dia sungguh tinggi bahkan tinggiku hanya sebatas dadanya, dan membuat jantungku berdetak diluar nalar dia membungkukkan badan hingga wajahnya sejajar denganku, aku tersenyum dibalikcadar.

__ADS_1



“katamu spatula itu akan melayang kewajah tampanku tapi mana?” tanyanya dengan remeh.



“ya wajah tuan tampan tapi bohong…” ledekku aku yakin semua orang tertawa namun ditahan. Aku menyeringai hingga mataku menyipit dan.



Tukk.



“akh..” pekik lelaki itu seraya menggosok kepalanya.



“makanya jangan remehkan aku tuan penculik !” ucapku angkuh, bibi Maggie menatapku tak percaya,sedangkan paman yang datang bersamanya tadi membekap mulutnya menahan tawa.




“paman.. yang menolong saya.. ya.. terimakasih banyak paman.. terimakasih.. sudah membawa saya kemari dan dengan baik hatinya menampung saya disini” ucapku tulus jujur saja aku juga jarus mendongak, kalian tau lelaki ini seperti raksasa dan aku sigadis mungil.



“eh maaf nona..”



“tidak-tidak jangan meminta maaf paman.. aku berterimakasih banyak, tanpa bantuan darimu mungkin.” Aku bergidik ngeri membayangkannya.



“sungguh aku tidak tau harus membalas paman dengan apa.. namun jika paman membutuhkan sesuatu atau bantuan saya siap membantu.”


__ADS_1


“tapi nona..”



“jagan panggil nona..! Panggil saja Hanna, nama saya Hanna paman.” perkenalku seraya terseyum diapun terseyum ramah..



“saya ingi bicara dan saya harap nona tidak memotong perkataan saya! bisa?” aku menggaruk tanganku malu karna sudah beberapa kali aku memotong perkataannya. Aku mengangguk.



“perkenalkan saya Anthony, pengawal sekaligus asisten pribadi Mr.Zacharry, dan yang menolong anda bukan saya nona, tapi Mr. Zach yang ada disana.” aku mengkitu arah yang ia tunjuk, entah kenapa aku menatap pemuda yang berlipat dada angkuh itu membuat aku kecewa.



“kok dia sih.” keluhku



“maksudnya nona?” tanya paman Anthony aku menggelengkan kepala.



“oh terimakasih tuan pen.. eh tun Zach, oh ya.. aku sudah memasak untuk anda Tuan pen.. eh tuan Zach sebagai rasa terimakasih.”


“asal tak kau racun saja pasti aku makan.” jawabnya dingin lalu duduk dikursi meja makan.


“tenang saja.. aku hanya menuangkan bubuk sianida sebagai pelengkap masakanya, kemudian racun di goxin, yang jika masuk kealiran darah maka jantung akan berhenti berdetak.” jelasku lalu meletakkan capcay dan ayam goreng krispy terhidang didepannya.


Aku mengisi nasi dipiringnya lalu menyguhkan pada tuan Zach. Aku ikut duduk didepannya tanpa sungkan, menanti reaksinya akan masakaknku tapai ternyata dia hanya diam dan menatapku seakan aku adalah hama yang mengangganggu.


“kau itu bodoh, \*\*\*\*\* atau tak punya otak?” tanyanya tajam ‘sepertinya perdebatan ini tidak akan berakhir.


......



......

__ADS_1


__ADS_2