BLACK PEARL

BLACK PEARL
BAB 3


__ADS_3

...بسم الله الرحمن الرحيم...


... Selamat Membaca...


Aku menggeliat kecil dalam tidurku kukerjapkan mata menyesuaikan sinar matahari yang menyilaukan. Saat aku membuka mataku sepenuhnya aku terperanjat kaget saat aku menyisir ruangan ini dengan lekat yang cukup asing terlihat. Tidak ada satupun yang kukenali pada kamar ini. Semuanya mewah, kasur empauk perabot dan interior yang rapi dan terlihat mahal. Aku mencoba untuk bangun secara perlahan kuraba wajahku yang sudah tidak tertutup cadar aku panik tentu saja. Aku tertidur disebuah kamar tentuya disebuah rumah yang sama sekali tidak aku ketahui. Namun aku bernafas lega saat jilbab masih terpasang di kepalaku.


“oh alhamdulillah” ucapku penuh rasa syukur.


Kusibak selimut tebal dan lembut itu dan bersyukur lagi kupanjatkan pada rabbku yang menjagaku tetap dengan pakaian muslimah yang melekat dibadan. Hingga aku tersadar jika aku melalaikan kewajibanku menunaikan sholat subuh. Lantas aku berlari menuju sebuah pintu yang aku tebak sebuah kamar mandi. Saat aku membukanya benar kamar mandi mewah yang kali pertama aku rasakan, oh tidak dua kali saat tour kampus yang memberikan aku kesan pertama mengiap di hotel. Kampuangan ya.. yap memang.


Selesai membersihkan diri membuat aku merasa kembali hidup dengan kesegaran air dan sabun mandi yang begitu menyegarkan tubuh. Harum bunga sakura yang segar. Niat hati ingin sholat ternyata aku datang bulan.


Aku ambil cadar yang ternyata berada diatas nakas samping tempat tidur. Aku takut ada seseorag yang masuk kedalam kamar ini. Setelah kubereskan kasur yang aku pakai tadi hingga rapi. Lalu dengan mengucap bismillah dan kuberanikan diri membuka kamar. Melihat kiri kanan dan keluar. Berjalan seperti maling yang takut tertangkap basah. Menuruni anak tangga disetiap undakannya hingga sebuah suara membuat aku terperanjat kaget.


“nona sudah bangun.” sapa seseorang dengan sopan padaku membuat aku mengernyit alis bingung. Aku nona?” gumamku dalam hati.



“maaf saya?” menunjuk diri sendiri.



“ya anda nona.. ingin sarapan apa? Tadi tuan berpesan jika anda sudah bangun untuk menanyakan apa yang anda butuhkan. Mari ikuti saya!” ajaknya. Walau ragu aku mengikutiya dari belakang hingga sampailah kami didapur bersih dan aku sungguh takjub dengan dapurnyam “jika begini dapurya jelas saja aku akan banyak menghabiskan waktu disini’ batinku.



“silahkan duduk nona!”


__ADS_1


“eh maaf saya sungguh tidak nyaman dengan panggilan itu, panggil saja saya Hanna” pintanya sopan.



“tapi nona..”



“saya sama seperti kalian.. sungguh saya merasa tidak nyaman.” Pintaku memelas, aku sungguh risih dengan panggilan itu.



“baiklah.. no.. eh Hanna. Ingin makan apa? akan saya hidangkan.”



“eh.. biar sayamakan roti ini saja” ucapku sungguh sungkan bagaimana bisa aku seenaknya menyuruh orang padahal aku juga orang yang sering disuruh seperti mereka.




“eum.. saya lebih suka memakanya tanpa selai” wajahya terkejut saat aku menjawabnya seperti itu. Lantas ia segara pergi dari hadapanku membuat aku merasa kesepian lagi, namun tak lama kemudian dia datang dengan segelas jus avokado yang begitu segar.



“saya harap anda tidak menolaknya!” tukasnya membuatku mengangguk patuh, mana tega apalagi dia membuatkannya untukku, aku tidak ingin membat usahanya sia-sia, dia begitu ramah dan sorot matanya terlihat begitu baik.


__ADS_1


“oh ya kenalkan nama saya Maggie semua orang disini terasuk mr. Zach memanggil saya dengan sebutan Maggie aku maid senior disini umurku sekitar 45 tahun, sejak Mr. Zach berumur 18 tahun aku sudah bekerja disini” ujarnya memperkenalkan diri dia duduk tepat didepanku dengan terhalang meja.



“eh ngomong-ngomong saya disini masih seharikan?” tanyaku ragu



“tidak anda disini sudah 3 hari nak.” jawabnya tentu saja aku terkejut.



‘selama itu?’ tanyaku gusar.



“ia nak.. kenapa?”



“boleh saya pulang saya mengkawatirkan kakek saya, dia hanya tingal sediri dirumah, saya kawatir paman akan melukainya” jelasku yang sungguh demi apa aku tak menyangka tak sadarkan diri selama itu. Bagaimana dengan super heroku dirumah.



“maaf Mr Zach berpesan agar tidak menginjinkan anda pergi sebelum dia pulang saya hanya mengatakan dia cukup keras kepala, jadi saya harap anda bersabar nak.. jika mau anda bisa menelpon kakek anda” aku menatapnya penuh binar.


“apakah boleh?” tanyaku penh harap.


“tentu saja, ayo!” dia mengajakku dan menunjukkan telfon rumah, dia memerikan aku waktu sendiri dengan telfon rumah yang tersambung dengan ponsel jadul kakekku. Dan tak lama kemudian kakekku menerima telfonku suaranya yang ringkih membuat rasa cemas semakin bertambah dan aku merindukannya.

__ADS_1


Amat sangat, aku memberinya pengertian dan berjanji akan pulang entah kapan. Dan sebelum itu aku meminta tolong pada bibi maggie untuk meminjamkanku pembalut, dan syukur alhamdulillah pelayan yang masih muda memberikan aku pembalut dan celana dalam itupun masih baru. Aku sangat berterimakasih akan hal itu.



__ADS_2