
بسم الله الرحمن الرحيم
...
...
...Selamat membaca...
........
........
........
Sejak gadis itu pergi, aku selalu menyuruh orang untuk mengwasinya, tak lain tak bukan adalah Daniel. Entah kenapa aku tidak bisa melepaskannya begitu saja. Bahkan Daniel yang kaku hampir sama denganku berkata.
“dia bukan urusanmu lagi, dan apa alasanmu melakukan ini padanya?”
“entahlah.. hanya main-main mungkin” jawabku santai.
Membuat dia menatapku tak puas hati. Jujur saja akupun tak tau kenapa aku harus melakukan hal ini. Diapun pergi dari sini dan menjalankan apa yang aku suruh. Hingga satu minggu tidak ada kejadian apapun atau tidak ada yang mengganggu Hanna, namun aku tetap menyuruh Daniel mengawasi rumahnya dan salah satu suruhan Daniel juga mengawasi Hanna.
(Phone Calling)
Daniel : Disini ada kekacaun. Kamu harus siap siap dirumah sakit !
Alardo : Oke !
Dari cara bicaranya saja aku sudah mengerti, bahkan Daniel mengirimi video apa yang sudah terjadi. Hingga aku mendapat pesan penting darinya.
‘kerumah sakit, lakukan persiapan disana! karna puskesamas disini tidak bisa menangani apa yang terjadi.’
“paman kita harus lebih cepat dari ini, karna sedang darurat.!” Titahku.
Sesampainya disana, aku bergegas menyuruh staf untuk stay didepan karna akan ada pasien darurat yang butuh pelayanan intensif. Yap salah satu cabang rumah sakit yang aku bangun disini.
RS. Healling Madice (RS. HM). Tak lama kemudian Daniel datang, ia bahkan menjelaskan hasil pemeriksaan sementara di puskemas itu dan aku mengepalkan tangan menhaan emosi.
“kamu sudah memberi mereka pelajaran?"
__ADS_1
“bahkan aku sangat yakin si Randu itu tidak akan bisa menggerakkan kakinya lagi.” Jelasnya datar.
Namun mata itu berkobar menahan sesuatu yang dia tahan, jika saja kakek Hanna tidak apa-apa aku yakin sekali si Randu itu akalan habis ia cincang. Daniel adalah seorang yatim piatu. Aku menemukannya saat ia sedang mencincang musuhnya yang sudah menganiaya ibu dan ayahnya tanpa ampun.
Seorang rentenir yang menagih hutang ayah dan ibunya yang menunggak akibat tagihan kesembuhan sang kakak yang sedang melanjutkan kuliahnya saat ini bahkan kakaknya Daniel juga bekerja padaku sebagai Direktur di perusahaan yang berada di Amerika milikku.
Bernama Darren dimana ia juga sudah membalaskan dendamnya pada ketua sang rentenir yang sekarang menjadi rentenir lainnya di desa terpencil pedalaman Amerika tempat Daniel dan Darren dibesarkan.
“urusanku dengannya belum selesai Zach. Kau harus tau itu!”ucapnya penuh dendam, ia memang sangat tidak terima jika menyangkut rentenir dengan penindasannya yang kurang tatakrama. Dan yang dia maksud adalah Randu itu.
“aku mengerti” jawabku. Lalu mengikuti dokter dan staf lainnya yang membawa tubuh tak berdaya kakek Hanna keruang operasi yang sudah aku tanda tangani persetujuannya.
“lakukan yang terbaik untuknya, jika tidak nyawamu sebagai taruhannya!” ancamku, dokter itu mengangguk takut.
Aku menyuruh salah satu suster menelfon Hanna, karna anak buah Daniel berkata jika kulihanya sudah selesai. Saat Hanna datang dan seorang gadis yang lebih tinggi 3 centi darinya datang dengan wajah panik dan tergesa-gesa.
Namun Hanna terlihat kaku, matanya kosong, namun gadis yang datang bersamanya menyadarkannya dan memeluknya. Dan sekektika itu aku menghampiri mereka dengan Anthony dan Daniel menghampirinya.
Dia menatapku dan tak percaya aku juga ada disana, itu bukan tugasku menjelaskan. Apalagi aku lelah aku duduk disampingnya dan Danielpun menjelaskan apa yang seharusnya ia ketahui dan tidak ketahui, lebih tentang dia yang menyuruh orang memata-matai dia dan rumahnya.
Saat Hanna melarangnya memanggil nona, tentu saja aku pelototi tak terima. Hanya aku yang boleh tidak dengan dia, Anthony atau anak buahku yang lainnya.
“kalian jika ingin membeli baju juga silahkan tapi tidak lama!” Jawabku, menyerahkan kartu ATM, dan aku tinggalkan mereka kemobil. Selesai membeli keperluan. Aku, anthony dan Daniel kembali ke rumah sakit tepat adzan, aku tak tau sudah adzan untuk shalat apa. Terlihat juga Hanna sudah kembali bersama temannya itu.
“loh masih disini saya pikir kalian sudah pulang.” Ucapnya, saat aku hendak menjawab, dokter yang menangani kakek Hanna keluar dari balik pintu yang sudah berjam-jam lamanya tertutup rapat. Spontan aku dan Hanna mendekati dokter itu.
“bagaimana?” tanyaku menuntut, memandang tajam sang dokter.
“ekhem.. maaf jika saya harusmenyampaikan hal ini. Tapi apa yang dialami pasien membuat tubuhnya memiliki luka dalam dan luar yang serius. Kami sudah melakukan semaksimal mungkin. Tapi pendarahan di otak yang diakibatkan pukulan keras dan berat dan itu dilakukan berkali-kali membuat kakek Fatah sedikit untuk sadar, jadi bisa dikatakan pasien koma” jelas sang dokter dengan menunduk takut apalagi melihatku yang sudah siap murka, tapi aku tak sengaja menatap Hanna yang menatap nanarsag dokter.
“terimakasih sudah melakukan yang terbaik buat kakek saya” ucapnya tulus dan tenang.
'What...terbuat dari apa hati gadis kecil ino, bagaimana menaggapinya setenang ini?' batinku.
“maaf.. saya..?”
“terimakasih dok!” potong Hanna cepat.
“kami akan mengupayakan agar pak Fatah bisa kembali membuka matanya, kakek akan dipindahkan diruang perawatan sesuai administrasi yang sudah di tanggung jawabai Mr. Zach.” Jelad dokter setelah itu dia pergi dari sana.
__ADS_1
Kami di antarkan keruang rawat inap kakek Hanna. Hanna menghentikan langkahnya dan menatap papan nama yang tertempel didinng, berwrana hitam dan gold begitupun tulisannya.
“VVIP plus.. ini.. bagaimana bisa diruangan ini.. bayarnya. Yaampun saya berhutang lagi pada anda tuan Zach” ucapnya panik.
“heum.. dan nanti akan aku tagih.” Jawabku datar dan melangkah masuk lebih dulu karna aku lelah dan ingin duduk, perutkujuga cukup lapar minta diisi.
“kalian bersih-bersih terlebih dahulu lalu setelahnya kita makan!” ucap Anthony mewakiliku.
“Ai.. kamu mau pulangkan?.. pasti kedua orang tuamu kawatir?” ucap Hanna pada sahabatnya yang baru aku tau dari Daniel tak lai adalah Aisyah.
“aku sudah ijin pada ummi dan abi.. aku akan menemanimu disini sampai besok.. abi dan ummi juga akan kesini besok.”
“masyaallah.. maaf aku sudah merepotkanmu.. merepotkan orang tuamu juga” jawabnya tak enak hati, what lalu padaku’ pikirku jengkel. Bahkan aku diabaikan olehnya.
“gak papa Han…” jawabnya.
“cepat mandi dan ini baju untukmu. Dan untukmu!” selaku tegas lalu melempaskan tas belanjaan berisi bajunya dan baju Aisyah yang melotot padaku ‘ heh memangnya aku akan takut pada gadis ingusan itu.’
“tuan yang beli?” tanyanya.
“kau pikir hantu yang beli.. sudah sana mandi!” tukas tajam dan menyuruhnya segara mandi.
###
Kami semua sudah lebih segar dan wangi, bajupun sudah terganti dengan baju baru yang tidak kucel. Dan mulai memakan makan malam yang tadi Daniel beli, namun dia Hanna memakan makanannya tanpa berselera di wajahnya, meskipun bibirnya tak berhenti mengunyah dan tangan yang berhenti menyuap. Ia seperti berusaha memakasa makannya masuk walau sama sekali tidak berselera.
...TBC...
.......
.......
.......
........
.......
.........
...Alhamdulillah...
__ADS_1
...jangan lupa berikan dukungan kalian ya sobat sobat tercinta...
...Jazakumullah Khair.......