BLACK PEARL

BLACK PEARL
BAB 31


__ADS_3

بسم الله الرحمن الرحيم


...Selamat membaca...


.......


.......


.......


...Enjoy youre time...


.......


.......


.......


Aku mengobati lukanya dengan telatan dan hati-hati, luka-luka lebam disekitar dada rusuk dan perutnya.


“siapa yang lakukan ini sama kakak?” tanyaku.



“Daniel, karna memang aku yang minta.” jelasnya. Matanya menatapku dia sama sekali tidak mengeluh sakit.



“lihat aja kak Daniel aku beri perhitungan besok.!” ancamku.


Lalu mengkancingkan piyamanya. Menyelimuti badannya agar tubuhnya hangat. Saat aku mengitari meja, langkahku terhenti dan medekati bingkai besar disisikanan itu fotoku kan. Dapat dari mana, bahkan aku tidak bercadar disana. Aku menatapnya namun aku malah melihat 2 bingkai foto lain, dibingkai itu terdaat potret indah keluarga sempurna, harmonis dan bahagia. Aku melangkah mendekati bingkai itu. Kutatap foto pertama dan lebih besar, dia suamiku semasa berumur berapa ya.


“ umur berapa kak Rys disini?” tanyaku.



“17 tahun.” jawabnya, aku merasakan dia memeluk tubuhku dari belakang dan meletakkan dagunya diatas kepalaku,berasa sekali aku pendek.



“ disini suamiku lebih ganteng yang ini, matanya lebih hidup dan hangat, gak seperti sekarang.” gumamku, dia mendengar sepertinya terlihat dari gelagatnya yang mempererat pelukannya.



“tapi lebih terlihat gagah dan dewasa yang sekarang lebih berkarisma kamu harus tau itu.” Pujinya diri sendiri.



“cih..” desisku, berpura-pura keberatan padahal aku setuju.



“lalu dia pasti ayah dan ibu mertua.. pantas saja hasilnya begini lah ayah begitu tampan, lebih tampan ayah malah dari pada kak  Rys.”



‘sepertinya kamu senang aku hukum” geramnya aku terkekeh.


__ADS_1


“kalian sama-sama berkarisma, apalagi mata kakak persis ibu.. namun mata ibu lebih indah” pujiku orang tuanya bule kearaban pantas saja anaknya begini. Keturunan memang lebih kental soal tampang.



“lalu kalo yang ini?” tanyaku padanya, saat beralih menatap bingkai disebalah foto ayah dan ibu.



“dia foto keluarga paman, adik ayahku. Sejak ayah dan ibu meninggal aku tinggal bersama mereka.”



“lalu kenapa tidak tinggal bersama mereka lagi.? Tanyaku.



“ada sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan sekarang dan bukan saatnya sekarang kita…” dia membawaku dalam gendongannya lalu merebahkan tubuhku dikasur. Dia berbaring juga didekatku lalu memelukku. Aku berbalik menatapnya dan membalas pelukannya.


----------------------


Aku mendengar racauan seseorang dan itu cukup keras, atau aku merasa racauan itu berada didekat telingaku, saat ku melirik kesisi kananku,, benar saja Kak Rys kembali meracau dalam tidurnya bulir keringat memasahi pelipisnya, tidurnya tak tenang dan panik.



“maaf Hanna.. maafin aku..”



“maaf.. maaf Hanna” racaunya lagi.


Aku memeluknya erat lalu melantunkan shalawat lagi agar dia kembali tenang, itu selalu kulakan, mengingat dia yang terkadang terbangun karna mimpi buruk. Sejak dia berhenti minum insomnia itu jarang terjadi dan racauan dalam tidurnya tak lagi terjadi. Tapi malam ini racauan itu kembali lagi. Aku menyeka bulir keringat didahinya dan aku terkejut saat merasakan suhu tubuhnya yang panas. Saat aku hendak melepaskan pelukan, dia memelukku erat.



“aku disini.. tak akan meninggalkanmu, kecuali kau yang mendorongku untuk pergi dari hidupmu.”bisikku pelan ditelinganya.


Lalu mencoba melepaskan diri darinya dan benar berhasil. Aku memakai kerudungku, dan keluar kamar hendak mengambil kompres dan mengambil stiker penurun panas dan pening agar panasnya turun dan tidak pening saat dia bangun nanti.


Dengan telaten aku menyeka bulir keringatnya denan handuk kering, lalu mengompres keningnya dengan handuk basah. Setelah aku mengecek suhu tubuhnya yang ternyata 38 derajat dan itu cukup tinggi. 15 menit aku mengompresnya baru aku tempelkan stiker penurun panas itu kedahinya. Menatap wajah pucatnya dan suara ringisan lirih keluar dari bibirnya yang pucat dan kering. Hingga kegelepan menguasaiku dan aku tidak tau lagi apa yang terjadi karna mataku sudah tak sanggup terbuka dari saking ngantuknya.


Keesokan paginya, aku terkejut saat aku sudah berada dalam dekapannya, pasalnya aku merasa tadi malam tidur dengan posisi duduk. Aku mendongak dan dia balik menatapku. Aku langsung bangun dan memeriksa suhu tubuhnya, masih cukup panas.


“butuh sesuatu? Atau ada yang sakit?” tanyaku panic, dia malah tersenyum kecil lalu membawaku kembali pada pelukannya.



“sedikit, dan aku hanya butuh pelukanmu” jawabnya.



“sudah adzan gak?” tanyaku.



“sudah, mau shalat?” tanyanya, dan aku mengangguk. Dia melepaskan pelukannya membiarkan aku kekamar mandi. Selesai dari kamar mandi aku mendekatinya dia hendak menyentuh tanganku namun aku mundur menjauh.



“gak boleh Mr. suami.. aku punya wudhu. Jika kamu menyentuhku wudhuku akan batal.” jelasku saat ia tak terima akan tindakanku, namun selanjutnya ia mengangguk bagai bocah di beritahu ibunya. Gemes deh ya’ batinku.

__ADS_1



“aku ambil mukenah dulu, atau kita pindah saja yuk kekamar kita!” ajakku dia menggeleng tak mau oke aku akur saja demi suami yang lagi sakit ini.



Aku melaksanakan kewajibanku sebagai seorag muslim, selesai berdoa, aku menatapnya yang menatapku hangat, mata itu seakan tak ragu lagi menunjukkan hal itu padaku. Aku tersenyum hangat padanya, ‘yaallah rasa ini semakin tumbuh, binbinglah rasa ini agaraku menicntainya dengan benar. Dia kekasih halal yang kau pilih. Dan bantulah hamba untuk satu keyakinan yang sama dengan hamba atas ridhomu.. aamiin” doaku penuh permohonan pada sang pemilik hati. Aku naik keatas kasur dan dia berbaring terlentang dengan mata masih taklepas menatapku.



“mau dengar aku mengaji? Tanyaku, dia mengangguk sepertinya sakit membuat dia menajadi lebih pendiam, dia saja bicaranya saja jarang dan sekarang bertambah.



“oke listen.!” ucapku. Aku memulainya dengan taawudz dan bismillah dan mulai mengaji surah yang sama saat aku mengaji untuk kakek.



Wa idza maridltu fa huwa yasfiin’


‘ Dan apabila aku sakit, dialah yang menyembuhkan aku’(QS A-SYU’ARA: 80)


Wa nunazilu minal- qur’aani maa huwa syifaaa’ uw wa rahmatul lil- mu’miniina wa laa yazidudh-dhaalimiina illa khasaaraa.


‘Dan kami turunkan dari al-qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yag zalim selain kerugian. (QS. AL – ISRA : 82)



Summa kulli ming kullis- samaraati faslukii subula rabbiki dzululaa, yakhruju mim butunihaa syaraabum muhktalifun alwaanuhuu fihi syifaa’ul lin-naas, inna  fi dzaalika la’aayatal liqaumy yatafakkarun.


‘Kemudian makanlah dari tiap-tiap macam buah-buahan dan tempuhlah jalan tuhanmu yang telah dimudahkan(bagimu). Dari perut lebah itu ke luar miuman (madu) yang bermacam-macam warnyanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran tuhan bagi orang-orang yang yang memikirkan.” (QS. AN-NAHL: 69).


Kusudahi murajaahku tentang surah-surah yang berisi tentang sakit dan obatnya, aku teringat dengan madu dan kurma, berharap dikulkas ada. Aku mendekati wajahnya, membuat dia terbeku ditempat dan mencium keningnya lama lalu berbisik tepat didepan wajahnya.


“syafakillah Mr. suami, semoga allah lekas mengangkat sakitmu. Jangan tidur dulu ya aku akan membuatkan madu hangat untukmu!  Setelah itu kembali tidur.” Namun ia menggeggam tanganku.



“kenapatiba-tiba mau membuat madu?” tanyanya.



“saat aku mengaji tadi, ada surah berisi tentang madu dimana madu juga bisa menjadi obat untuk orang sakit, petunjuk langsung dari allah melalui kitab sucinya. Nama surahnya An-Nahl, ingat ya suamiku.. aku kedapur dulu.. I love you” bisikku pelan dikata terakhir.


...Dan aku langsung menjurus kabur dari sana tak ingin terlihat memalukan didepannya. Menyandarkan tubuhku didinding menentralkan dentuman cinta yang terjadi pada kerja jantungku....


TBS


.


....


...Jazakallah khair...


.......


.......


...Jangan lupa dukungan berharga kalian ya sobat untuk kemajuan cerita ini he..he.....

__ADS_1


...With love....


__ADS_2