
بسم الله الرحمن الرحيم
.......
.......
...Selamat membaca...
Makan malam sangat berbeda kali ini, biasanya Hanna dan Alardo hanya makan berdua atau bertiga dengan paman Anthony, kecuali Alardo lembur dan pulang tengah malam baru Hanna makan sendiri atau bersama bibi. Namun sekarang berbeda, meja makan itu penuh dengan masakan timur tengah yang enak, ada daging unta yang baru kali ini Hanna makan. Dan kursinyapun penuh dengan keluarga Alardo. Paman Anthony tentu saja ada disana.
“masakan kakak memang selalu enak, jadi rindu Dubai” puji paman Anthony sedangkan yangdipanggil kakak adalah ummi yang tersenyum.
“makanya sering pulang kerumah.. ajak loh ya putri ummi itu!” suruh ummi yang diangguki setuju oeh Alina.
“ia loh kabir*, kamu udah janji loh mau bawa kakak ke rumah kita tadi.. awas aja kalo bohong aku terror” ancamnya serius, sedangkan Alardo yang sudah sehat dan ikut makan malam bersama. Mengangguk saja.
“tapi nanti setelah Hanna lulus kuliah, sekarang Hanna sedang sibuk” jawabnya
“ia..ia..” tanggap Alina tak ikhlas, ia ingin lebih cepat kakak ipar dan kakaknya itu kesana, apalagi dia sangat senang mempunyai kakak perempuan yang di idam-idamkan. Memiliki dua kakak laki-laki yang kaku dan dingin walu tetap hangat padanya, tetap saja rasanya berbeda.
“gak usah cemberut..! Kita pasti kesana.” ucap Alardo pelan namun nadanya tetap dingin tapi ini lebih hangat. Dengan tangan yang mengusaplembut pucuk kepala Alina. Hal itu tak luput dari tatapan Hanna yang bangga dengan suaminya yang ternyata penyayang keluarga.
Alardo dan abi sedang duduk di taman belakang rumah ditemani seangkir teh mint, menikmati udara malam yang tidak terlalu dingin.
“gak merokok?”Tanya Abi heran, biasanya putra keduanya ini selalu merokok.
“gak” jawabnya.
“kenapa, abi merasa aneh kamu gak merokok.” ucapnya heran, Alardo menatap abinya sekilas lalu mengalihkan tatapan kedepan.
“Hanna, aku terlibat janji dengannya.” jawab Alardo datar, seraya menyesap teh hangatnya. Abi terkekeh ia tak menyangka putranya yang kelewat keras ini bisa takluk juga oleh Hanna si lembut dan Hanna siceria.
__ADS_1
“hebat ya.. putri abi.” pujinya, membuat Alardo mendengus sebal.
“abi senang jika begitu.” ucapnya tulus, seraya menatap Alardo penuh kasih, dimana Alardo juga menatapnya. Mereka ududk berdampingan di kursi.
“jangan pernah menampik perasaan yang sedang berkembang sekarang, jangan jadi keras hati dan kepala batu sehingga kamu sendiri yang tersiksa. Nikmati rasanya dan ikuti alurnya. Jangan melawan nak..! Jika perasaan disini yang sedang tumbuh itu..” menunjuk dada Alardo yang juga menatap kearah yang abi tunjuk.
“membuatmu nyaman maka ikuti alurnya! Ikuti kata hatimu! Tapi jika perasaan itu membuatmu tak nyaman, maka lawan dan jangan ikuti! Dan jangan coba tolak dengan yang ada disini!” abi menepuk kepala Alardo pelan.
“karna perasaan itu bukan sebuah rumus matematika yang bisa kamu pecahkan dengan otak, bukan angka-angka grafik yang bisa kamu ukur. Jangan mencoba menampik hal itu dengan pemikiran otak, karna hal itu hanya bisa dilakukan oleh hati. Dan otakmu akan mengikuti.” Pesannya, dimana Alardo menyimak dengan baik, ia memikirkan semuanya, apa yang abinya katakan. Dia memang selalu menampik perasaan asing itu namun tak ayal selalu membuatnya nyaman namun setelah kejadian dimana dia menyakiti Hanna lagi ia tidak mencoba menampik hal itu lagi.
Apakah kamu merasa nyaman akan rasa itu, rasa yang Hanna timbulkan? Alardo mengangguk.
“apakah dia selalu berdebar asing saat Hanna berada didekatmu dan akan merasa kawatir dan takut jika Hanna tak ada disisimu?” tanyanya lagi dan Alardo mengagguk kuat.
“dan apakah kamu ingin selalu menjaganya, ingin berada selalu disisinya, dan selalu ingin membuatnya bahagia? Karna air matanya adalah siksaan buat kamu.”
“benar!” jawab Alardo lugas, semuanya memang benar. Dan perasaan itu kali pertama ia rasakan. Debaran indah dan ritma jantung yang menenangkan walau degupannya diluarbatas normal. Lalu Alardo merasa dadanya ditepuk.
“lihat hatimu sudah mengikat cintanya, hingga dia tau siapa pemilik sejati dirinya, dia menemukan separuh hatinya. Dan tulang rusukmu yang ganjil telah digenapkan oleh dia istrimu. Abi ingin kamu mengenali perasaan yang hatimu sudah terikat. Dan aku yakin setelah kamu mengerti tentang rasa itu kamu akan merasa lebih dari semua yang abi tanyakan tadi.” ucapnya penuh makna, membuat benak dan pikirannya penuh dengan Tanya. Saat ia hendak bertanya Abi menggeleng tegas.
Alardo masuk kekamar dan ternyata istrinya baru saja keluar dari kamar mandi dengan baju tidur terusan sebatas lutut, megekspos kulih putih betisnya yang kurus dan kecil. Baju berbahan kaos yang kebesaran, entah kenapa istrinya terlihat menggemaskan.
"Sudah melepas rindunya dengan abi?” Tanya Hanna yang naik kekasur, ia menepuk sisi kasur meminta Alardo berbaring disana. Alardo menurut dan ikut berbaring disamping istrinya. Ia mengangguk sebagai jawaban dengan tangan mengusap rambut coklat legam sebahu istrinya itu.
"Emang ngobrol apa sama abi sih?” tanyanya kepo, Alardo tersenyum lalu tanpa kata ia mendekatkan wajahnya pada wajah Hanna dan mulai meraup dahaganya dengan lembut. Ia sedikit menjarakkan diri agar bisa melihat wajah istrinya yang kini nafasnya memburu menghirup rakus oksigen akibat ulahnya yang menutup akses oksigen masuk.
"Aku mau!” ucap Alardo.
“tapi kakak masih sakit.” ucap Hanna lirih ia gugup.
“sudah sembuh.” Alardo hendak menciumnya lagi namun Hanna menahan dadanya membuat Alardo menapnya protes.
__ADS_1
“aku mau dikamar itu.” ucapnya dan Alardo yang mengerti mengangguk cepat. Ia menarik selimut tipis lalu melilitkannya pada tubuh Hanna kemudian ia membopong tubuh istrinya yang sudah seperti kepompong. Alardo memastikan sekitarnya sepi lalu keluar dari sana, dengan Hanna dalam gendongannya dan wajah mereka kembali menyatu tanpa takut jatuh.
Alardo salah jika ia mengira tak ada orang, nyatanya sepasang mata tajam dan kelam tengah mengawasi mereka. Menatap penuh iri pada Alardo, seorang pemuda berdiri didepan tangga dibawah lampu temaram, dan Alardo tidak menyadari hal itu, ia melangkah mendekati tangga saat ia mendengar suara, namun langkahnya terhenti, saat Alardo keluar dari kamar dengan seseorang dalam gendongannya, dan kurang ajarnya Alardo mencium Hanna istrinya yang membuat hatinya terbakar cemburu dan emosi. Ya.. dia tau Hanna begitu cantik, ia tidak sengaja melihatnya tadi saat Hanna berada dikamarnya lebih tepatnya dia mengintip melalui celah pintu yang memang sedikit terbuka, dan dia berani melakukan hal itu. Dan untung saja Hanna hanya tidak mengenakan cadarnya. Jadi auratnya masih terjaga.
Dia Alan, dia pergi dari sana dan kembali kekamarnya, meredam gejolak emosi hatinya.
"Tidak boleh dia adik iparmu” tegasnya pada diri sendiri.
+++++++++
Hanna telah berbaring nyaman dibalik selimut tebal yang membuat dirinya hangat, sedangkan Alardo mengusap kepala istrinya lembut yang begitu pulas dalam tidurnya. Istrinya kelelahan dan dirinya terlalu semangat tadi. ia terkekeh sendiri dan mulai gila karna dia tidak pernah begitu sebelumnya. Ia tidak ingin berurusan dengan wanita. Tapi nyatanya takdir mengajaknya terjebak dan hidup bersama gadis yang luar biasa ini. Dimana kehadirannya ia terima begitupun dengan hatinya. Dan dia akan sangat takut jika Hanna tak ada lagi disisinya. Ia mulai takut akan hal itu.
Untuk menenangkan hatinya sekarang ia memeluk istrinya Hanna. Lalu ia melihat sesuatu yang mengkilau di meja dekat jendela balkon. Sepertinya sinar bulan yag membuat benda itu berkilau. Ia melepaskan pelukan dengan perlahan agar Hanna tidak terganggu, lalu turun perlahan. Menghampiri benda berkilau itu. Ternyata sebuah kitab yang terbuka. Yang ia tau Hanna selalu membacanya, yang ia tau kitab ini milik orang muslim yang bernama Al-qur’an. Dan Alardo yakin al-qur’an ini adalah mahar yang ia berikan pada Hanna lengkap dengan terjemahannya. Sedangkan sisanya Hanna bilang sudah menyumbangkannya dirumah tahfidz panti asuhan.
Ia duduk di sofa single namun lebar itu, tangannya terulur hendak menyentuh mushaf namun ia merasa sungkan apalagi ia teringat perkataan Hanna padanya.
“ini kitab suci, kita juga harus bersih jika memegangnya, memang sekilas terlihat seperti buku yang berjejer di rak perpustakaan kamu. Namun dia memiliki tingkat dan derajat lebih tinggi dari semua buku didunia ini. Kenapa karna isinya berisi tentang kehidupan masa lalu dan masa depan, dunia dan seisinya serta pembelajaran hidup bagi manusia yang mengerti.”
Sontak Alardo berdiri, memasuki kamar mandi dengan membawa ponselnya. Sedikit tau dia tentang bagaimana orang muslim menyebut hubungan suami istri sebagai ibadah. Dan setelah itu harus mendi besar sebagai penyucian diri. Ia browsing tentang itu dan mempretekkannya setelah mencermati isinya. Lalu Alardo mulai berwudhu’ setelah ia pelajari niat, bacaan dan gerakannya. Alardo orang yang jenius jadi ia cepat belajar dan paham.
Selesai berwudhu’ Alardo kembali kekamar, memakai pakaian terbaiknya saat ia teringat lagi ucapan Hanna tentang mengenakan pakaian terbaik dalam melakukan ibadah. Sebelum keluar ia membawa mukenah bersih istrinya dan akan menetap disana, beberapa baju bersih miliknya dan Hanna agar jika sang istri memintanya tidur disana lagi. Persediannya sudah ada.
...TBS...
.......
.......
.......
...Jazakumullah khair...
...Tetap jadikan kitab Allah subhahu wata'ala bacaan utama ya....
__ADS_1
...Jangan lupakan dukungan berharga kalian ya sobat. Untuk kemajuan cerita yang sederhana ini....
...With love...