
بسم الله الرحمن الرحيم
...Selamat membaca...
...
...
Sejak pagi hatiku dilanda gelisah, aku sama sekali tidak tenang aku ingin pulang hari ini aku merindukan istriku. Namun kegelisahan ini semakin menjadi saat seharian Lena tidak mengirimiku kabar.
“aku harus pulang sekarang!” ucapku pada Daniel, ia menatapku lekat dan merasakan kegelisahan yang sejak tadi melanda.
“ya ayo!” ajaknya. Setelah paman Anthony menghubungi pilot. Kami berpamitan kepada guru kita yaitu Syekh Hasan dan iapun mengijinkan kami pulang yang seharusnya pulang besok dan kami percepat. Dengan menggunakan pesawat pribadi.
Saat dalam perjalanan menuju rumah, yang sudah malam tepat pukul 9 aku mencoba menelfon istriku namun tidak diangkat, menelfon rumah juga tidak diangkat. Menelfon Lena ponselnya tidak aktiv. Membuatku kesal. Hingga lampu ponsel berkedip kedip merah itu pertanda ada sesuatu bahaya. Segera ku buka ponsel dan membuka aplikasi CCTV yang mengarah lansung kekamar dan aku meradang saat apa yang aku lihat.
“kurag ajar kau Alan!” umpatku lalu melemparkan ponsel ke kursi depan, Daniel tidak bertanya dan mengambil ponselku untuk melihat sendiri.
“biadab.. binatang.. lelaki bejat!” segala umpatan keluar dari bibir Daniel. Ia memberhentikan mobil, menyuruh sopir keluar dan dia yang mengemudi.
Dengan kesetanan bahkan dia juga mengumpat tiada henti saat mobil lain memarahi mobil kita yang melaju kencang. Sedangkan sopir tadi ikut dimobil pengawal yang berada Anthony didalamnya.
Hingga kamipun sampai dirumah, kekacaun terjadi saat abi tengah memukuli Alan membabi buta dilantai dua, dan mataku terpejam mencoba menahan emosi saat hijab dan baju piyama milik Hanna berada dilantai dengan robekan yang kentara.
Aku berlari menuju ruang kerja karna CCTV memang menunjukkan Hanna berada disana. Menekan mutiara hitamku dan dinding itu terbuka. Aku segera masuk kesana melewati pintu setelah dinding. Dan hatiku mencelos saat aku melihatnya terbaring diubin lantai marmer yang dingin, tubuhnya gemetar bibirnya pucat pasi. Lengan atasnya memerah bahka hampir meng ungu. Begitupun pergelangannya. Aku mengangkatnya hati-hati lalu membaringkan gadisku di kasur dengan lembut. Air mata mengalir saat tangannya menggemam erat bajuku dengan racauan tidurnya.
“kak Rys.. tolong aku.. hiks” disertai isakan.
__ADS_1
“tidak lepaskan.. lepasin kak.. lepasin!” racaunya lagi wajahnya kesakitan dan peluh dingin membanjiri dahinya.
Dia mengalami ini lagi, dan ini karna kelalainku, ,seharusnya aku mengajaknya saja aku.. seharusnya… aku memeluknya lembut memberikan kehangatan dan perlindungan pada tubuh mungil yang rapuh ini. Menangis merasa bersalah dan menyesali semuaya juga sudah terlambat. Namun belum terlambat untuk masa depan dimana aku akan selalu ada disisi gadisnya ini sampai dia tak lagi bernafas.
“maafin aku… sayang.. maafin kak Rys.” ucapku lirih dan menenggelamkan isakan di atas pucuk kepalanya.
Allah memberika aku ujian melalui Hanna, dan ini menyakitkan tuhan.. sangat menyakitkan. Bantu hamba untuk menyembuhkannya nanti, bantu hamba untuk tidak memiliki dendam pada lelaki itu, lelaki yang ternyata adalah kakakku sendiri. Aku mulai berdzikir mengingat allah agar hatiku tenang, aku tidak ingin keluar dari sini dan membunuh kakaku sendiri.
‘orang-orang yang beriman akan memiliki hati yang tenang dan tetram jika selalu ingat dengan allah subhanahu wata’ala, maka ingatlah karena hanya dengan mengingat allah, hatimu menjadi tentram’ (QS. AR-RA’D: 28)
‘dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barang siapa memafkan dan berbuat baik, pahalanya atas (tanggungan) allah. Sesungguhnya dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. (QS ASY-SYURA: 40)
‘Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. AL-BAQARAH)
Dan aku berdoa semoga allah menguatkan Hanna dan aku untuk melewati ujian ini.
Selesai shalat subuh, aku hendak membangunkan Hanna untuk melaksanakan shalat juga. Namun aku terkejut saat badannya sangat panas. Berlari kearah lemari. Megambil pakaian Hanna lalu setelah itu membawa Hannaku pergi keluar dari kamar.
“mau kemana?” Tanya Abi. Semua orang berada disana, kecuali Alana dan Lena, dan satu lagi si biadab itu.
“kerumah sakit.” jawabku singkat dan pergi dari sana diikuti Daniel.
“aku yang mengemudi” ucap Daniel dan aku langsung masuk ke kursi belakang dengan dia berada dalam pangkuan.
“eum.. luka dipunggungnya sudah kau obati?” Tanya Daniel, dan mataku menggelap saat mengingat betapa banyaknnya garis ruam memenuhi punggungnya. Mencoba menahan gejolak amarah agar tidak menjadi semakin kacau jika aku luapkan.
__ADS_1
“sudah!’ jawabku singkat.
“Alana dibawa kerumah sakit, dia mengalami luka kecil didahinya, taukan dia mencoba melindungi Hanna, sedangkan Lenna sudah melewati masa kristnya pasca operasiakibat keretakan rusuk. Sedangkan \*\*\*\*\*\*\*\* itu.. dikirim abi kepalestina sebagai hukuman, abi juga menyita semua kartu atmnya dan hanya menyisakan satu kartu.” Jelas Daniel tanpa aku minta. Aku hanya mengangguk sebagai tanggapan. Hingga kami sampai dirumah sakit, dan istriku ditangani. Setelah diperiksa, istriku demam tinggi dan punggungnya juga diberikan salep serta obat suntik penghilang rasa sakit.
Dia sudah berada didalam kamar inap, aku duduk dikursi disamping berangkarnya, menggenggam tangannya tanpa infuse, meciumnya beberapa kali meluapkan rasa kawatir. Hingga seseorang berdiri disampingku menyentuh bahuku
membuatku menoleh padanya.
“maafin abi nak… maafin abi yang lalai menjadi ayah sekaligus lalai dalam menjaganya.” Aku menggeleng, bukan salah abi.. ini salah lelaki itu.
“bukan salah abi.. ini salahnya.. maaf jika kebencianku padanya masih ada.. sulit untukkumemaafkannya, dan mungkin sikapku ini membuat hati abi maupun ummi terluka.” Jelasku. Abi malah mengusap lembut bahuku.
“itu hakmu nak.. namun jangan sampai kebencian membuatmu dendam, sehingga usahamu untuk menjadikan kamu manusia yang baik dimatanya hilang. Memafkan memang butuh waktu apalagi apa yang sudah ia lakukan sangat amat menyakitimu atapun istrimu. Bahkan ummimu malu untuk bertemu denganmu akibat kelakuannya. Kita juga tmasih belum memaafkannya. Bukan berarti tidak, biarlah nanti waktu yang menjawabnya. Dan buat istrimu sembuh begitupun luka dihatimu” pesan abi yang diangguki oleh aku, aku mengesat air mataku, karna ummi merasa malu aka perbuatan yang tidak ia lakukan.
“Alana.bagaimana dia? Tanyaku pada Abi.
... “dia sudah boleh pulang hari ini, kemarin dia shock juga makanya pingsan. Ummi sedang mengurus administrasinya bersama Daniel dan paman Anthony sedang duduk diluar.” Jawab abi dan dia terdiam, ikut mengamati Hanna yang masih belum membuka mata....
...TBS...
...Jazakumullah Khair...
...Oh ya jangan lupa Al-Kahfi ya sobat...
...Selamat Hari Jum'at...
__ADS_1