BLACK PEARL

BLACK PEARL
BAB 41


__ADS_3

بسم الله الحمن الرحيم


...Selamat membaca...


...



...


...'''...


Hanna sedang mandi, sedangkan Lena menunggu dan duduk disofa sedang membaca buku koleksi Hanna, ya Hanna sering membeli buku. Ia tidak pernah membli baju atau apapun karna tau-tau suaminya itu sudah membelikan hal itu untuknya. Lena menatap siaga pada gagang pintu yang bergerak seakan berusaha dibuka dari luar. Ia lantas mengintip dari bulatan kecil dipintu itu untuk melihat siapa orang itu dan ternyata. Alan


“mau apa lagi lelaki itu.?” ucap Lena dalam hati, pasalnya ia pernah memergoki Alan sedang mengintip Hanna dan hendak memeluknya dari belakang saat Hanna sedang memasak, beruntungnya dia ada disana dan sepertinya Alan tidak melihat keberadaannya dan Alan tidak jadi melakukan hal itu malah pergi dari sana.


Bahkan ia terkejut akan ketakutan Hanna pada Alan yang terlihat terobsesi padanya itu terbukti saat Alan pernah lengah dari pengawasanya dan berbisik pada Hanna akan merebutnya dari Alardo. Ia hendak melaporkan itu pada Alan tapi Hanna melarang ia tidak ingin keluarga ini saling bertengkar.


“Hanna.. Hanna!” panggil Lena, dan Anna membuka pintu kamar mandi dengan pakaian piyama berlengan panjang dan hijab instan menutupi kepalanya. Dan Lena bernafas lega dan memang sejak Alardo pergi ia selalu mengenakan hijab walaupun didalam kamar. Dan bertepatan dengan itu pintu kamarnya terbuka. Dan terlihat Alan disana yang menatap keduanya dengan seringai yang menakutkan.



“wah calon istriku sudah mandi.” ucapnya gamblang, membuat Hanna dan Lena manatap aneh pada Alan.



“tenang saja sayang.. hanya ada kita berdua dirumah. Seluruh pelayan sudah tertidur karna aku berikan obat tidur dimakanannya. Hebat bukan..?! Sedangkan ummi dan abi pergi menemui kolega kerja mereka. Dan sepertinya malam ini dunia berpihak padaku untuk menunjukkan padamu betapa cintaku lebih besar untukmu dari pada Alardo sialan itu” terang Alan seraya tertawa jahat. Lena berdiri didepan Hanna siap membentengi adiknya itu.



“jangan macam-macam!” tukas Lena tajam, membuat Alan terkekeh.



“ouh aku lupa dengan gadis ini, pantas saja kau tidak ikut makan tadi. aku tidak akan melakukan kekerasan asalkan Hanna mau baik-baik ikut denganku.. aku akan mengajaknya ketempat indah dimana hanya ada kita berdua didalamnya.”



“kak sadarlah.. aku ini adik iparmu, tidak sepantasnya kau mencurangi adikmu sendiri disaat dia pergi.” Ucap Hanna lembut mencoba berkompromi.



“adik… aku sama sekali tidak pernah menganggapnya adik..! Saat dia datang dan masuk dalam keluargaku, aku pikir aku akan mendapatkan teman bermain karna jarak umur kita yang hanya 1 tahun. Tapi ternyata dia merebut perhatian kedua orang tuaku. Dia yang selalu dibanggakan karna kepintarannya, dia yang selalu dipuji akan keberhasilannya menghafalkan al-qur’an dan semuanya berpusat pada dia, dan mengabaikan aku. Makanya aku mengusirnya dari rumah dengan meyadarkan diri bahwa dia hanya anak pungut dan lihat walau dia berada jauh dia mendapatkanmu, seandainya-seandainya saja aku yang pergi pasti aku dulu yang menemukanmu, dan yang sekarang diposisinya sebagai suamimu adalah aku” jelasnya. Membuat Hanna tertawa geli.



“sifat iri dan dengki memang tiak pernah jauh dari manusia, setiapmanusia memiliki rasa itu. Namun hanya manusia yang merasa dirinya mampu dan berhati lembut tidak akan memiliki rasa iri dan dengki. Lagi pula allah yang mempertemukan kita, allah yang menjodohkan kita. Bukan aku, suamiku ataupun kakak yag memilih. Jika saja kata kakak tadi kakak yang disini belum tentu allah akan mempertemukan kita. Lagi pula belum tentu juga aku mau sama kakak” ledek Hanna, membuat Lena terkekeh. Sedangkan Alardo geram. Ia membanting foto yang berada di diatas laci, foto dirinya dan Alardo saat dilestoran waktu itu.



“sepertinya kau belum mengenalku” Alan melangkah lebar mendekati mereka. Lena sudah memasang kuda-kuda antsipasi. Dan  benar Alan kini berkelahi dengan Lena. Disela-sela perkalahiannya, Lena menuruh Hanna lari dari sini.

__ADS_1



“pergi Hanna.. lindungi diri kamu sendiri!” suruhnya.



“gak, gak akan..! Aku kawatir….sama kamu” tolak Hanna.



“ini memang tugasku buat lindugin kamu jadi per.....



Bug…


bogeman kuat itu mendarat di tulang rusuknya, Lena terjaruh dilantai dengan memegangi rusuknya, dan Alan menambahinya dengan menendang rusuk Lena lagi. Membuat Hanna menjerit histeris dan beriteriak meminta tolong. Hanna menarik kuat lengan Alan hingga alan pergi dari sana.


“kakak maafkan aku.. kakak bangunlah”



“per.. huft..gi.. Han.. Per…



“ak.. lepaskan aku.. lepaskan.. kak.. lepasin.. tolong bantu kak Lena dulu!” pinta Hanna saat Lena telah menutup matanya rapat.




“kenapa kakak jahat sekali” ucapnya lirih.



“karna aku menginginkanmu Hanna.”



“aku bukan wanita lajang… aku wanita beristri dan kamu sadar aku ini istri adikmu sendiri” teriak Hanna murka,, namun Alan tak mengacuhkannya. Ia malah mendekati Hanna dan memegangi lengannya kuat. Mencoba menodai Hanna namun Hanna dengan sigap menampar Alan hingga ia berhasil terlepas dari lelaki bejat ini. Ia berusaha keluar dari kamar, namun tubuhnya tertangkap dari belakang. Membuat dia terkaku ditempat. Alan menyanggulnya dibahu lalu melemparkannya di kasur. Membuat Hanna terkesiap.



“kakak mau apa?” tanyanya tak percaya saat Alan membuka sabuknya, dan tanpa diduga. Alan membalik tubuh Hanna hingga memunggunginya dan memukulkan sabuk itu dengan kuat kepunggung Hanna.


Hanna berteriak saat merasakan panas yang menyakitkan dipunggungnya. Namun saat cambukan itu belum berhenti ia memilih diam dan menggigit bibirnya kuat- kuat hingga pintu kamar terbuka dia mendengar jeritan seseorang.


“apa yang akhun\* lakukan” pekik Alana, dan Hanna bernafas lega.


__ADS_1


“kakak gila, menyiksa kak Hanna seperti ini!” murkanya, membuat Alan berhanti dan mendekati adiknya itu, hal itu memberikan kesempatan pada Hanna untuk bangun.


lengan piyamanya sudah koyak memperlihatkan lengan atasnya terlihat, begitupun dengan lengan bawahnya yang juga sudah koyak, hijabnya yang syar’I juga sudah robek maka dari itu lengan atasnya terlihat.


“kamu sudah pulang sayang” mata Alina menggelap, ia marah pada kakaknya.



"apa alasan kakak melakukan ini pada kak Hanna?” tuntutnya tajam


“karna aku mencitainya.. tapi dia.


malah menolakku. Apalagi aku ingin sekali menjadikannya istri, aku iri Alardo yang bejat itu memiliki istri sepertinya. Aku lebih pantas dari pada dia.” ucapnya tenang, Alina terkekeh, ia melirik Hanna dengan isyarat agar kabur, Hanna mengangguk dengan keadaan yang sangat kacau.


“ck.. sepertinya yang bejat iitu kakak.. pikiran kotor dan hati yag kotor kaka membuat kakak selalu merasa iri dan iri. Dan lihat kakak lebih seperti binatang dan kak Alardo lebih baik dari kakak. Jauh” ucap Alana.



“lihat bahkan adik kandungku sendiri mengataiku binatang padahal yang seperti binatang adalah Alardo, dia pembunuh.



“dan kakak penyiksa dan pembunuh” jerit Alana sengaja lalu member kode dnegan tangan agar Hanna cepat pergi. Alan yang sadar langsung berteriak.



“hei calon istriku jangan pergi!” pekiknya.


Alana mencoba menahan tubuh kakaknya dengan memeluknya dari belakang namun sayang Alan yang sudah gelap mata dan hati medorong Alina kuat hingga terjatuh dilantai membuat Hanna mengaduh kesakitan saat kepalanya tertimpa ujung Ranjang. Ia segera mengambil ponsel dan menelfon seseorang.


‘abi cepat pulang… kak Hanna dalam bahaya”  setelahnya Hanna tidak sadarkan diri dengan darah segar mengalir dari keningnya. Sedangkan sang menerima telfon yag memang sudah berada dalam perjalanan pulang meminta sang supir mengebut mengacuhkan pertayaan istrinya. Karna memang sedari tadi hatinya sudah tidak tenang, dilanda gelisah, jika pertemuan initidak penting dia tidak akan pergi malam ini.



Sedangkan diluar kamar Hanna kembali terperangkap oleh Alan, dia berusha berontak namun sayang hijabnya sudah tanggal dari kepala nya, mahkotanya yang selalu ia jaga dari pandangan non mahram kini sudah terlihat..



“rambutmu sangat indah.. dan kamu begitu cantik” pujiya dengan tangan yang mengusap rambut hingga pipinya namun Hanna segera berpaling. Ia merasa dejavu. Dulu dia juga diperlakukan seperti ini oleh pamannya, sekarang ada yang lebih kejam dari pamannya yaitu masih orang terdekatnya juga yaitu Alan kakak iparnya yang ternyata lebih kejam dari pada pamannya dulu. Hanna terkesiap saat ia dibaringkan disfoa yang memang ada di ruang santai dilantai dua.



"Kak jangan!” mohon Hanna saat Alan kini sudah merobek piyamanya. Ia memejamkan mata



“yaallah lindungi hamba yarab.. lahawlaa. Wala kuwwata illabillah” doanya ia membaca ayat kursi dan berdzikir pada allah agar melindunginya.


Hingga ia merasa ada celah saat Alan tengah bangun dari sana dan membuka bajunya. Ia bangun lalu menendang alat vital pria bejat itu. Dan berlari dari sana dengan tubuh yang hampir telanjang, ia hanya mengenakan kaos dalam sebagai atasan dan celana piyamanya yang panjag dan beruntungnya lagi belum Alan buka.


Ia masuk kedalam ruang kerja suaminya lalu ia kunci dari dalam, pintu itu sudah digedor dari luar. Ia segera menekan mutiara hitam dan tembok itu terbuka ia segara berlari kesana dan ia bernafas lega saat ia sudah merasa aman. Ia duduk meringkuk degan punggung bersandar pada dinding. Menangis histeris disana meluapkan rasa kecewanya pada diri sendiri yang tidak mampu menjaga diri. Ia tidak perdulikan perih di punggungnya. Iamerasa takut dengan apa yang menimpanya. Merasa amat berdosa pada allah karna menampakkan hal yang seharusnya ia lindungi pada lelaki nonmahram kecuali suaminya. Ia juga merasa bersalah pada Alardo ia takut suaminya itu kecewa.

__ADS_1


...TBS...


...Jazakumullah khair...


__ADS_2