BLACK PEARL

BLACK PEARL
BAB 67


__ADS_3

...Bismillahirrahmanirrahim...


..........


...Selamat membaca...


.......


...Oh ya...sekarang hari lahir Rasulullah shallahu 'alaihi wasallam...


...Apa yang biasanya dirumah kalian lakukan saat memperingati hari lahir Rasulullah ?...


..........


...Sobat setia yang budiman, part kali ini mengandung unsur kekerasan dan mungkin terfapat kata kata-kata kasar jika tidak suka di skip aja.. ...


Sudah 1 minggu Hanna terkuruang dirumah itu, dan sejak  Darco menyakitinya, dia tidak pernah lagi bertemu dengan Hanna. Hanya Benny yang selalu datang mengunjunginya. Benny terlihat begitu menyayangi Hanna dan bayinya. Bahkan saat Hanna tiba-tiba ingin rujak buah ditengah malam Benny membelikan hal itu untuk Hanna. Hanna senang karna pamannya tidak seperti paman Danny, walau paman Benny pernah ingin membunuhnya tapi kini paman Beny begitu baik padanya. Namun diam-diam Hanna selalu menangis merindukan suaminya. Apalagi bayi-bayi mereka karna tiba-tiba saja Hanna menangis tanpa tau sebab jadi Hanna mengartikan jika baby’s Chio merindukan ayahnya. Hingga ketukan dipintu membuyarkan lamunan Hanna yang sedang duduk disofa dekat jendela. Pintu terbuka, dan matanya membulat saat ia mengenali wajah itu.


“kak dimas.!” pekiknya tertahan, namun Dimas langsung menyuruh Hanna diam. Hanna menurut.


“Han.. waktu kita gak banyak, aku tau kamu saat waktu pertamakali kamu diculik, aku ikuti mobil kalian hingga aku bisa tau kamu ada disini, maaf aku baru datang. Kamu tau Alan?” tanyanya Hanna mengangguk.


“dia kolega bisnisku diDubai, dan kami sedang jalan-jalan keBali waktu itu, dia yang mengantarkan aku kesini. Sedangkan Alan sedang kembali kerumahmu untuk memberitahumu jika kamu disini.” Jelsnya membuat Hanna merasa lega.


“lalu kamu gimana bisa masuk?” Tanya Hanna.

__ADS_1


“berpura-pura menjadi salah satu anak buah pamanmu, ini kamu makanlah.. tunggulah dengan sabar kedatangan suamimu. Aku keluar dulu aku tidak ingin ada orang yang mencurigai kita” beritahu Dimas dan pergi dari sana. Hati ini membuncah bahagia, ia mengusap perutnya dengan hati senang, baby’s Chio sepertinya juga merasa senang.


Hari-hari Hanna tidak kesepian lagi, pasalnya Dimas yang selalu menemaninya disela-sela mengantarkan makanan untuknya. Seperti mala mini mereka sedang berbincang tentang hal lucu, hingga tawa mereka terhenti saat ada Darco dan benny memergoki mereka. Darco langsung memegang kerah Dimas lalu meninjunya kasar, Hanna berteriak dan meminta Benny melepaskan pelukannya.


“lepasin…. Paman.. lepas” pinta Hanna.


“tidak akan.. aku tidak akan melepaskan kamu Hanna.. kamu hanya boleh tinggal bersamaku disini. Tidak dengan siapun.”


“paman egois.!” marah Hanna lalu dengan sekuat tenaganya yang ia punya mendorong Benny hingga terdorong kebelakang.lalu seikit berlari walau kesusahan dengan perut besarnya mendorong Darco yang sudah membuat Dimas tak sadarkan diri dengan dahi berdarah.


“dimas.. bangu dim…” usaha Hanna, namun dengan tak ada belaskasihnya. Darco mendorong Hanna kuat hingga Hanna jatuh miring dilantai, membuat dia mengaduh kesakitan karna perutnya mengeras.


“apa yang kamu lakukan hah” teriak Benny marah, ia memukuli Darco keduaya saling aku hantam hingga Benny tak sadar jika Darco mengeluarkan pisau lalu menancapkannya ke perut Benny hingga Benny terjatuh dilantai dengan darah mengalir dari perutnya disertai pisau yang masih menancap disana.


“aku bukan kamu… dan cara kita bermain akan hal juga tidak sama. Karna balas dendamku akan berakhir jika melihat sikeparat itu terluka jika melihat anak dan istinya mati.. dia akan datang sendiri keaku dan aku akan membunuh sendiri lelaki itu” cetus Darco, lalu berbalik menatap Hanna yang terpojok dinding sedang menahan sakit diperutnya akibatbenturan cukupkeras di lantai.


Tiba-tiba Darco tertawa membuat Hanna gemetar takut, Darco berjongkok tepat disamping Hanna, pisau kecil mengkilat berada dalam genggaman Darco lalu membuat garis melintang diatas perut Hanna.


“sakit heum… begitu pula rasa sakit yang dirasakan putriku dan calon cucuku saat itu..” ucapnya. Matanya menggelap begitu pekat dan penuh dendam.


“dengan begini.. apakah anda merasa putrid anda akan tenang disana.. dia sudah menaggung dosanya bunuh diri.. lalu anda tambah dengan pembalasan dendam yang bahkan anda juga tidak tau yang sebenarnya apa yang terjadi.”


“diam…!”


Plak…

__ADS_1


Bolak balik Hanna mendapatkan tiga kali tampran bahkan darah keluar dari sudut bibir kirinya.


“aku gak butuh ceramah kamu.. karna sekarang aku sangat ingin melenyapkanmu dan anak sialanmu ini.” Darco mengacungkan pisau dan


hap…..


Hanna menahannya sekuat tenaga agar tidak menusuk perutnya ia menggenggam pisau itu dengan tangannya hingga darah kental mengalir dan menetas diatas gamis blousenya. Hanna kan bertahan semampunya untuk melindungi anak-anakya amanah allah darinya. Darco tersenyum miring, ia sengaja mengerak-gerakkan pisaunya agar perempuan didepannya ini menyerah dengan sendirinya namun nihil Hanna bagai patung dengan tangan yang memegangi pisau tak bergeming dan begitu kuat lalu ia tarik kuat pisau itu hingga Hanna jatuh miring kelantai. Pisau ia buang dan dengan sekali tendangnya mengenai tepat perut Hanna membuat Hanna menjerit kuat.


“Hanna!!” pekikkan suara orang yang datang.. Hanna tak peduli perutanya sanagt sakit. Seakan selurut tulang-tulangnya patah, ia tidak tau lagi sekitarnya karna rasa sakit itu menguasai seluruh tubuhnya. Hingga Hanna merasakan direngkuh seseorang.


“sayang.. hei.. sadar.. maafin aku karna terlalu lama untuk datang.. maaf..”


“yarab.. selamatkan bayiku… selamatan bayiku”bisik Hanna ia tidak mendengar apa yang Alardo ucapkan.. ya Alardo datang. Dan hatinya berkobar seperti api yang sekaligus membakar sakit dan marah. Saat melihat Hannanya ditendang bagai minuman kaleng tak berperasaan dan itu dilakukan oleh ayah wanita yang ia benci.


“pergilah.. bawa Hanna dia sangat kesakitan.. pikirkan anak kalian juga” suruh Anthony dan Alardo mengangguk, ia membawa Hanna dalam gendongan dan berlari keluar dari sana. Karna Hannya sudah tidak sadarkan diri darah mengalir dari bawah tubuh Hanna dan kedua tangannya.


“jalan Lan” suruh Alardo, Alan menyusul bersama Lena, karna tidak mungkin Alardomembawa Hanna sendirian kerumah sakit..


“istigfar Al.. .. istigfar allah pasti akan menyalamat Hanna dan bayinya.”


“aamiin..” bisik alardo tak ada tenaga, melihat istrinya bersimbah darah.


Tak lama kemudian merekapun sampai dirumah sakit ibu dan anak, kebetulan sekali dokter Tari juga disana. Hanna dilarikan keruangan UDG, namun 15 menit dokter tari keluar degan wajah pucat pasi.


“dengan berat hati saya harus mengatakan…..” semua orang membeku tak ada yang bergerak, suara jam dinding mendominasi, tak ada yang bersura sama sekali. Kabar itu seakan menusuk jantung mereka, membuat mereka sesak nafas dan terluka.

__ADS_1


TBS


__ADS_2