BLACK PEARL

BLACK PEARL
BAB 22


__ADS_3

بسم الله الرحمن الرحيم


.......


.......


.......


...Selamat membaca...


Aku tidak tau, kenapa aku begitu menginginkannya pagi ini, dia menawarkan shalat subuh yang jelas sama sekali tak kukenali ibadah macam apa itu. Sejujurnya aku bukan pria beragama. Hanya status dalam ktp untuk memenuhi sebagai bagian dari warga WNI aku menuliskan beragama Kong hucu dimana agama itu disini tidak terlalu familiar. Aku melangkah mendekatinya, membawanya dalam gendonganku lalu memberingkannya di kasur. Saat aku hendak memulainya, apalagi aku tidak bisa menahannya saat wajah cantiknya tersenyum padaku. Namun ia menahan dadaku, menatapku dengan gugup dan gelisah. Dia bertanya tentang alasan aku mau meikahinya.


“tubuhmu!” jawabku dan melanjutkan dalam hati ‘tentu saja tubuhmu jika bukan tubuhmu kau tidak akan berada disini, bukan hanya tubuh namun juga perasaanmu, menjadikan kamu gadis satu-satunya yang akan kubiarkan berada disisiku selamanya’



Dalam artian, semua lelaki menikahi wanita dibumi ini selain cinta pasti tubuhnya. Jangan berfikiran kotor karna sejatinya manusia itu memiliki beberapa bagian penting dan hal yang pertama adalah tubuh, jika tidak ada tubuh organ yang lain tentunya tidak akan ada. Tubuh dalam artian yang sebenarnya jika kau menikahi orang tanpa tubuh bukankah mengerikan. Aku memulai semuanya hingga aku diluar kendali dan melakukannya dengan kasar namun aku tidak bisa berhenti nafsu lebih mendominasi dari pada akal sehatku yang biasanya aku bisa mengontrol diri, bahkan dengan \*\*\*\*\*\* bertubuh gitar spanyol  tak mampu mengusik pertahananku yang tinggi. Tapi pada dia.. hal iniberbeda. Apakah ini yang dinamakan ikatan dalam hal yang benar. Melakukan hal ini saat sudah terikat pasti akan lebih melegakan.


Menurtku entah menurut kalian. Namuan tubuhku membeku setelah mencabik habis dirinya aku tersadar saat isakan kecil itu terdengar. Ia memejamkan matanya rapat bulir bening itu megalir deras, aku mengusap kasar wajahku setelah turun dari atas tubuhnya.


Aku menatapnya nanar, hatiku sakit entah kenapa. Kuselimuti tubuhnya, kuseka air matanya, dan mencium lembut keningnya. Tak tahan lagi aku keluar dari sana setelah berpakain lengkap tentunya. Masuk kedalam ruangan kerja pribadiku. Duduk didekat jendela, membuka pintu yang mengarah pada balkon. Lalu aku naik keatas pembatasnya, tanpa rasa takut aku melompat dari lantai dua itu dan meluncur bebas hingga air tenang kolam muncrat keluar degan suara tubuh bertubrukan kerasa dengan air sangat terdengar. Aku mengapung dipermukaan, mengusap wajahku kasar dan disana terlihat paman Anthony menatapku dalam diam sebelum akhirnya dia bersuara.



“dulu kau pernah seperti ini, saat masalah itu mulai tak terkendali. Dan sekarang kau melakukan hal itu lagi..apakah kau menyesaliperbuatanmu?” tanyanya dengan wajah datar.



Aku hanya diam dan kembali berenang kesana kemari hingga aku merasakan matahari menampakkan dirinya dengan malu-malu. Baru aku berhenti, meminum segelas wine lalu menyulut rokok tanpa mengganti baju.


__ADS_1


“persis sekali dengan kejadian 7 tahun yang lalu.” Komentarnya lagi


“jika merasa bersalah minta maaflah, aku rasa hal itu tidak akan menurunkan harga dirimu’ lanjutnya lagi membuatku menghisap rokok kuat-kuat lalu menyemburkannya keudara dan membuang putugnya tepat di sisi kakinya.



“mulutmu cukup berisik” ujarku kasar lalu pergi dari sana.



Kulihat dia masih berbaring, aku juga memanggil seorang dokter lebih tepatnya menyuruh Anthony cerewet itu memanggilkan aku dokter terbaik wanita yang bisa menangani hal ini, yang bisa mengurangi rasa sakitnya akibat ulahku. Aku membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah aku selesai, aku mendekatinya menyibak selimut itu dengan hati-hati lalu membersihkan darah didaerah kewanitaannya dengan pelan.



“sst,…” desisnya membuatku berhenti sejenak, aku pikir dia akan bangun namun ternyata tidak, aku mendesah lega dalam hati karna dia hanya mendesis. Setelah bersih, aku beralih menyeka tubuhnya. Lalu memakaikan piyama tidurnya yang aku ambil di walk in closet. Setelah ia berpakaian rapi dokter itu datang, yap dokter  seumuran bibi Maggie bernama Tari, dokter yang sama dimana ia menyuntikkan alat kontrasepsi pada tubuh istriku sebelum aku pergi ke Amerika seminggu yang lalu.



Setelahnya dia pergi dari sana, aku mendekat disisinya. Mengeluarkan kotak beludru berwana hitam, aku membukanya dan terlihat cincin pernikahan kami yang sengaja aku  pesan pada desainer tenama di Amerika. Cincin emas putih dengan dua warna mutiara yang berbeda hitam dan putih, saling bersisian dan terhalang pahatan bunga yang indah, sedangkan milikku terbuat dri titanium berwarna silver agak pekat dengan desain sama hanya tidak ada pahatan bunga disana, ukuran punyaku lebih lebar dan tentunya sesuai dega jariku yang jumbo. Aku tersenyum menatap jari manis tangan kanannya terpasang cantik cincin pernikahan kita. Sangat pas dengan jari cantiknya yang mungil,


‘sepertinya, kamu menemukan orang yang cocok, sehingga kau terlihat lebih cantik saat dipasang disana’ pujiku tulus. Dan aku bersiap-siap pergi kekantor. Aku tidak ingin membangunkannya agar ia beristirahat lebih, aku tidak ingin ia kelelahan.


Saat aku menyuapkan roti isi, aku melihat Hanna mendekat lebih tepatnya menyapa bibi Maggie yang menatapnya kawatir. Mataku masih mengamatinya, hingga ia duduk didepanku. Memakan makanan tanpa selera dan ini kali pertama aku melihat dia makan seperti itubiasanya dia lahap dan tak mencoba jaim didepanku. Tapi kali ini karna ulahku dia menjadi seperti ini. Ia bangun dari duduknya menggendong runsel dipunggungnya lalu berpamitan pada bibi Maggie dan aku tidak percaya dia masih mau berpamitan padaku dan mencium punggung tanganku, aku pikir ia akan acuh tak acuh padaku seperti tadi. mataku masih menatap kepergiannya hingga punggungnya semakin mengecil dan tak dapat aku jangkau lagi.



Dikantor aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi, pikiranku masih berpusat pada Hanna, aku kawatir sangat apalagi wajahnya yang kuyu dan pucat seperti mahan sakit tapi dia tetap pergi kuliah.



‘dasar keras kepala” kesalku dan mengacak rambutku frustasi. Hingga pintu ruanganku didorong kuat hingga berderit keras. Aku melotot marah pada orang itu yang ternyata Daniel diikuti dibelakangnya paman Anthony.

__ADS_1



“kau tak memiliki tangan sehingga tak bisa mengetuk pintu lebih dulu” marahku.



“jika tak punya tangan tak mungkin aku bisa membuka pintumu.” sarkasnya.



“kamu…!!”



“diam ini bukan saatnya berdebat.. ada sesuatu hal yang sangat serius yang harus kamu tau Zach” teriak Anthony padaku dengan wajah panic.



“apa?’ tanyaku akur.



“istrimu pingsan, dia sempat berada di UKS, Aisyah menelfon Daniel dan Daniel mememastikannya dengan menelfon bodigat suruhan kita Lena, perempuan itu juga yang kinimembawa istri dan sahabatnya kerumah kita” jelsnya. Membuatku langsung berjalan tergesa-gesa keluar ruangan. Lebih tepatnya berlari memasuki lift dengan tak sabaran dimana masih berjalan tak mau berhenti. Hingga pintu lift terbuka dan aku mulai berlari lagi. Memasuki mobil dengan mengemudikannya sendiri. Aku mengebut seakan jalanan ini milik nenek moyangku tapi aku tak peduli yang jelas aku harus sampai kerumah. Bahkan aku meninggalkan paman Anthony dan Daniel dari saking panicnya aku saat ini.


TBC......


...Alhamdulillah.....


...Jazakumullah khair...


...Jangan lupa dukungan kalian ya sobat......

__ADS_1


__ADS_2