
بسم الله الرحمن الرحيم
........
.......
.......
.......
.......
...Selanat membaca...
.......
.......
Aku masih berada disisinya, kata dokter dia hanya kelelahan tapi kenapa dia masih belum membuka matanya. Ku hela nafas berat dan menghembuskannya perlahan. Keluar dari sana untuk meminta penjelesan pada Aisyah sahabat istriku. Dia duduk gelisah di sofa ruang tengah, aku mendekat dan duduk disofa single.
“apakah sudah bangun?” tanyanya padaku. Aku menggeleng pelan, sebagai jawaban.
“bagaimana dia bisa seperti itu?” tanyaku mencoba terlihat tenang dihadapannya.
“saat aku melihat dia datang wajahnya sudah kuyu dan pucat. Seakan ia melakukan pekerjaan berat sehari semalam, cara dia berjalan juga aneh, setiap kakinya melangkah ia mendesis kesekitan. Aku bertanya ada ap dengan keadaannya dia hanya menggeleng sebagai jawaban dan tersenyum. Setelah itu kita masuk dan melaksanakan UTS terakhir kita. Puncaknya dia tidak mau aku ajak kekantin atau kemanapun, biasanya kita akan duduk di taman sambil makan siang, tapi tidak dia hanya duduk dibangkunya. Bahkan ia shalat dikelas yang tak pernah ia lakukan, jadi aku menemaninya dengan shalat dan makan tetap dikelas. Hingga akhirnya kami akan pulang dan dia pingsan didepan pintu kelas dengan wajah kesakitan dan pucatnya.” Cerita Aisyah, dengan perasaan sedih.
“kamu.. oh maksudnya kalian bertiga tidak menyiksanyakan?” tudingnya pada ketiga lelaki itu.
Daniel dan Anthony hanya menggeleng dengan wajah datar sedangkan aku pergi dari sana tak menghiraukan pertanyaannya.
Pagi harinya aku terbangun dengan badan sakit, akibat tidur duduk namun aku terkejut saat dia tidak ada diatas tempat tidur, hingga aku mendengar suara lirihnya dan kutolehkan padanya yang ternyata sedang berdoa dalam shalatnya. Hatiku damai melihat dia seperti itu, namun relung hatiku merasa bersalah akan perlakuanku padanya. Setelah selesai dengan shalatnya ia melipat mukenah dan hendak berjalan meletakkan alat shalatnya. Namun aku dengan sigap membopongnya, membuat tubuhnya membeku ia tidak menatapku wajahnya memucat hebat. Aku membaringkannya ketempat tidur lalu duduk disampingnya. Mengambil alih alat shalat itu dan meletakkannya didalam lemari nakas. Lalu aku focus padanya dan aku terksiap saat dia menatapku lemah. Tangan mungilnya yang bergetar membuka kancing piyamanya, pandangan itu berubah kosong.
“kamu mau mandi?” tanyaku, dia menggeleng.
“bukankah ini yang kamu inginkan. Ketersedianku melayanimu, alasanmu menikahiku” ucapnya lemah, membuatku terksiap hingga kancing piyamanya terbuka sempurna dan terlihat baju dalamnya yang berwarna putih. Ku hela nafas berat, lalu tanganku terulur kepadanya. Mengkancingkan kembali satu persatu kancing piyamanya membuat dia menatapku heran.
“istirahatlah..!! Aku pergi sebentar.” ucapku setelah mengkancingkan piyamanya dan pergi dari sana. Melangkah penuh amarah lalu meninjukan tanganku ketembok menimbulkan suara bedebum dan bibi Maggie berterik histeris saat melihat tanganku yang lecet dan berdarah, dia menatap tanganku ngeri.
“ayo bibi obati!” ajaknya, aku hanya diam seperti patung aku bahkan tidak sadar jika bibi sudah membawaku kedapur mendudukkanku di kursi dan aku mulai sadarsaat cairan dingin itu meresapi kulitku yang terluka dan bercampur perih namun sama sekali tak kurasakan perihnya.
“bibi tak membernarkan apa yang kamu lakukan. Namun kamu harus tau, bibi kehilangan seorang nona yang ceria. Tapi bibi yakin kamu bisa mengembalikan senyum itu lagi. Bibi yakin semua yang kamu lakukan karna kamu merasa marah dan kecewa atas apa yang kamu lakukan pada istrimu.” Ucapnya lembut seraya membalut lukaku dengan perban.
Lalu ia menatapku dalam, mengunci mataku pada tatapannya.
“jika menyesal sesali itu dengan berada disampingnya, karna seseorang akan sembuh jika si pembuat luka menyembuhkannya. Turunkan sedikit egomu dan ucapkan penyesalanmu padanya.” Ucapnya diakhir lalu pergi meniggalkanku yang merenungi perkataannya.
Aku kembali kerumah setelah berolah raga, berlari mengelilingi rumah, merokok dan yap kali ini aku menghindari wine.
__ADS_1
“katakan pada Daniel dan dua sekertarisku untuk menghendle pekerjaanku hari ini!” ucapku pada paman Anthony yang sedang sarapan dimeja makan. Dia mengangguk tanpa bertanya, dan akupun pergi tanpa peduli.
Dibawah guyuran air shower yang dingin, aku kembali berfikir merenung akan apa yang terjadi. Biasanya sekalipun aku melakukan hal yang keji atau melampaui batas aku tidak pernah sekacau atau sefrustasi ini. Namun kali ini berbeda, hatiku seakan menodongku menjadi lelaki terjahat karna kebejatanku padanya. Ya hanya padanya dimana hatiku tak seirama dengan otakku. Dan hal ini membuatku menyesal.
Setelah membersihkan diri aku keluar dengan menggunakan bedrobe berwarna hitam milikku, ini sepasang dengan miliknya yang tergantung dikamar mandi. Saat aku keluar dari kamar mandi, kulihat dia sedang duduk ditepi kasur sepertinya ia ingin kekamar mandi.
Aku melangkah mendekat, dan membawa tubuhnya dalam gendonganku spontan ia mengalungkan tangannya pada leherku, lalu kududukan dia diatas closet dengan hati-hati.
“euh.. terimakasih” ucapnya. Aku menatapnya dimana mata itu tidak memancarkan ketakutan lagi padaku, wajahnya lebih segar dari pada kemarin.
“jika sudah selesai teriaklah dan panggil aku!” pesanku sebelum pergi meninggalkannya.
Hampir 20 menit aku meunggu bagai orang bodoh, dimana dia masih berada didalam. Jika saja keadaannya normal mungkin aku sudah meneriakinya yang mandi terlalu lama, padahal tubuhnya saja masih belum terlalu sehat. Hingga suara klik berasal dari pintu geser kamar mandi terdengar dan aku melihatnya yang sudah mengenakan bedroob dan rambutnya yang sedikit basah.
“eum…
“apa?” tanyaku cepat, saat ia ragu megatakannya.
“bisa minta tolong ambilkan aku baju dan baju.. itu..!” ucapnya malu-malu, aku yang paham langsung pergi dari sana mengambil permintaannya tak lama aku kembali, menyerahkan jump suit panjang sebatas mata kaki agar tubuhnya hangat. Dan pakaian kecil wanita tau lah ya. Ia kembali menutup pintu dan aku masih menunggu didepan kamar mandi. Setelah ia selesai aku meggendognya kembali dan menidurkannya ditempat tidur.
“sebenarnya aku masih bisa berjalan, dan aku ingin kebawah membantu bibi Maggie” ujarnya dengan nada masih tidak bersahabat. Dan aku paham akan hal itu.
“masuk!” suruhku, dan benar bibi Maggie datang dengan membawa nampan sepertinya sudah siap. Ia meletakkan semua itu dinakas. Lalu beralih menatap Hanna.
“sudah lebih baik nona?” tanyanya lembut. Hanna tersenyum dan mengangguk rambut sebahunya bergoyang karna anggukannya.
“bibi pergi dulu.. soupnya dimakan harus habis biar cepet sehat!” pesannya, lalu pergi meninggalkan kami berdua.
Aku mengambil sup ayam cremmy itu lalu menyendoknya dan terulur padanya, aku menyuapinya namun dia hanya diam menatapku.
“makan!” tegurku,
“aku bisa makan sendiri, dan lebih baik kamu juga makan.”
“aku tidak ingin dibantah!” tukasku, dan dia hanya diam memandangku datar. Aku naikkan kaki dan bersila duduk denga benar dan nyaman seraya menatap kearahnya. Lalu menyuapinya yang akhirnya menurut apa yang aku perintahkan. Sebelumnya ia berdoa lebih dulu, aku penasaran namun gengsiku lebih besar. Setelah itu aku menyuapi mulutku sendiri dengan satu makanan dan satu tempat yang sama. Bergantian menyuapi diri sendiri dan dirinya. Hingga sup itu habis. Menyodorkan minuman teh mint hangat untuknya, masih tersisa setengah dan aku yang habiskan.
Aku memperbaiki posisi selimut ditubuhnya, lalu keluar kamar. Tak lama aku kembali menemukannya yang sedang membaca buku, lebih tepatnya buku koleksiku. Dia menatapku aneh apalagi saat aku menaiki kasur dan berbaring disisinya.
__ADS_1
“gak kerja?” tanyanya
“males” jawabku seadanya. “minum obat?” tanyaku dengan mata pura-pura terpejam.
“sudah aku minum” jawabnya, aku merasakan gerakan kecil disampingku. Ku buka mata dan mendapati dirinya yang juga berbaring miring menatapku, ia meringkuk bagai bayi dengan matanya terpejam. ‘kenapa bisa aku setega ini melakukan hal bejat itu tanpa mau tau keadaan atau meminta persetuajuannya. Gadis lugu dan polos ini telah aku lukai.
Aku bergeser mendekat lalu membawanya dalam dekapanku, menghirup aroma shampoo bayi yang manis dari rambutnya dan itu menenangkanku. Kata maaf sudah terangkai dalam pikiran siap untuk kuatarakan, namun aku berubah menjadi pengecut dengan segala rasa gengsi hanya terucap dihati tanpa terucap dengan mulut. Hingga aku mendengar isakan kecil darinya, aku mempererat pelukan penuh sesal frustasi, tapi didekatnya semua itu seakan meluap, dia membuatku tenang.
“kamu jahat” ucapnya seraya terisak.
“aku tau” tanggapku dengan suara teredam karna wajahku masih aku tenggelamkan di kepalanya, aku tidak ingin pindah dari posisi ini.
“aku ingin marah lebih lama.. hiks… tapi aku gak bisa lakuin ini kekamu. Hiks.. aku kesel sendiri karna gak bisa marah lama-lama sama kamu.. aku kesel hiks” luahnya, lalu aku merasakan tepukan didadaku yang ternyata dilakuan oleh kedua tangan mungilnya.
“pukul lebih keras, luspkan amarahmu!” suruhku tegas, tidak aku sama sekali tidak tersinggung, marah ataupun geram akan perlakuannya. Aku senang setidaknya dia mau meluapkan rasa kecewanya dan rasa sakit nya padaku.
“lebih keras Han!” suruhku
“ih gak bisa.. aku gak bisa pukul kamu.. meskipun kamu udah jahat sama aku” keluhnya. Membuat aku tertawa lepas, ya inilah dia, bahkan memukul penjahatpun wajah menyesalnya sangat kentara.
“kamu ketawa gitu lebih ganteng dan lebih hidup, kenapa pelit sekali tuh bibir buat tersenyum” ucapnya, dia kembali gadis ceriaku, pemilik berbagai macam emosi yang luar biasa ini telah kembali, hatiku menghangat melihat dia tersenyum, tak takut lagi padaku ini adalah satu keajaiban. Aku tersenyum lebar tanpa sadar, seakan aku mendapatkan tender triliunan hanya dengan melihat senyum manis nan indah itu lagi.
“nah loh lebih ganteng ginikan.. senyumnya masyaallah” pujinya. Membuatku terkekeh, hanya padanya ya hanya untuknya aku tak ragu untuk tertawa dan tersenyum. Hanya padanya aku merasakan penyesalan dan terluka saat dia menangis. Kudekatkan wajahku lalu mencium keningnya yang sudah menjadi canduku. Hingga ia berteriak heboh membuatku memutar bola mata jengah.
“apa?” tanyaku merasa sangat terganggu karna aktivitas favoriku mencium keningnya terganggu.
“sejak kapan aku pakai cincin sebagus ini” ucapnya terpana pada cincin pernikahan kita.
“sejak kamu pingsan waktu itu” jawabku seadanya. Lalu meraih tanganku menatap cincin yang aku kenakan juga.
“ini cincin nikah.. masyaallah cantiknya beli dimana?” tanyanya, aku hanya menggeleng malas menjawab,aku lebih suka menciumi rambutnya.
“berapa harganya?” tanyanya.
“yang jelas jika aku beritahu kamu akan terus kepikiran dan berekspresi berlebihan. Lebih baik sekarang tidur, aku lelah.. aku ingin menikmati hari liburku” jelasku lalu menariknya dalam pelukan. Menghirup aroma tubuhnya menenangkan, dan aku mulai memejamkan mata terbuai akan usapan lembut dipuggungku yang dilakukan olehnya.
...TBC...
.......
....Jazakumullah khair...
...Jangan lupa dukungan kalian ya sobat......
__ADS_1
...With love........