BLACK PEARL

BLACK PEARL
BAB 30


__ADS_3

بسم الله الرحمن الرحيم


.......


.......


.......


...Selamat membaca...


Aku merasa dejavu, seperti masalah dulu kini kembali terulang dimana dia sudah tidak berada dirumah, sudah 2 hari aku tidak melihatnya. Kemana dia pergi, kenapa selalu seperti ini tidak memberiku kabar. Seharusnya aku yang marah bukan dia tapi keapa malah dia yang menghilang gerutuku sebal. 2 minggu lagi aku akan sidang setelah menunggu wisuda, tapi kenapa aku tak menemukan hari tenang dimasa itu.


"Dia kemana bibi?" Tanyaku pada bibi Maggi, saat aku pulang kuliah dan sudah selarut ini dia belum juga menampakkan diri. Bibi Maggie tersenyum padaku dengan senyum samar. Dia hanya menggeleng sebagai jawaban membuatku sebal.



Aku meninggalkan bibi Maggie dengan kaki kuhentakkan sebal, kemana si Mr. sumia arrogat bermulut boncabe dan tembok es kutub itu, kenapa gak pulang-pulang.


" Ih sebel” kesalku lalu mataku menemukan CCTV, ingin sekali aku berbicara meledeknya sepuas hati namun aku sadar diri bibi Maggie belum tidur. Jadi aku lebih memilih masuk kamar dengan wajah cemberut kecewa. Aku merindukannya.. kenapa dia pergi.. kenapa tak membawaku juga.


Huft.. ku hela nafas pendek, dan merebahkan tubuhku yang lelah begitupun hati, pikiran dan perasaanku yang merindukannya.


“dasar tak berperasaan teriakku namun teredam dialik bantal yang sengaja ku tekan pada  wajahku.


------------------


Aku terbangun saat merasakan kering ditenggorokanku. Bangun dari rebahan dan turun dari sana, melangkah kekulkas kecil yang memang ada di kamar. Mengambil minuman dingin itu lalu meneguknya rakus dengan duduk berjongkok dari tidak sabarnya tenggorokanku ingin minum. Hingga aku mendengar



Byur…



Seperti sebuah benda berat jatuh kekolam dan bunyi cukup menyeramkan dari saking beratnya benda jatuh itu. Aku yang penasaranpun mengintip dibalik jendela, karna kurang jelas aku menyibak korden sepenuhnya lalu membuka jendela itu dan mataku membulat saat siapa yang terjun kekoloam di balkon sebelah. Aku keluar dari kamar menuju balkon dan melihat dengan jelas ternyata suamiku, aku merinding melihatnya yang keluar kolam lalu menghilang darisana, dan aku melihat kesisi balkon dia disana hendak menceburkan dirinya lagi.



“kak Rys!” teriakku, dia menoleh, menatapku terkejut namun setelahnya ia merubah mikik wajahnya menjadi datar dan berpaling tak menatapku.



“kakak berhen..


Byur…

__ADS_1


Dia kembali melakukan itu, yaampun bahkan bibirnya sudah berwarna ungu, sudah berapa lama dia begitu. Aku terburu-buru keluardari kamar, menguping dari 3 pintu yang ada dilantai atas, hingga samar-samar aku mendengar suara paman Anthony. Aku memutar hendle pintu dan bernafas lega saat pintunya tak terkunci. Kubuka pintu lalu menatap dua orang dimana suamiku yang berada di balik batas balkon dan paman Anthony yang hanya diam. Aku berlari dan menerjangnya dengan memelunya dari belakang.



“sudah cukup!” pintaku lirih, tubuhnya membeku namun kembali normal saat aku mulai bersuara.



“lepasin!”



“gak.. aku gak bakalan lepasin kakak, jika kakak masih mau melompat dari sini, ini sudah malam, air kolamnya dingin, badan kakak sudah bergetar” cerocosku. Ia berusaha melepaskan belitan tanganku diperutnya namun aku semakin mengencangkan pelukanku, tapi sayang kekuatanku tidak sebading dengannya. Ia berbalik menatapku tajam.



“aku basah, dan kamu akan ikutan basah nanti, dan ini dingin!” aku menangis, aku mendengar lagi suara es batu plus boncabe ini.



Sudah tau basah dan dingin ngapain pakek belagak lompat dari balkon ke kolam, uji nyali” kesalku namun tetap sesenggukan. Paman Anthony terkekeh dan aku menatapnya tajam.




“kembalilah tidur!” suruhnya dengan suara pelan.



“gak nanti kakak main lompat dan berenang lagi”



“tidur Han!” tegasnya.



“gak mau!” tolakku keras kepala, dia menyentik dahiku pelan



“keras kepala.” desisnya.


__ADS_1


“samakan kaya kamu” jawabku.



“aku juga akan tidur.”



“yaudah ayo, tidur sama aku, aku gak mau kamu pergi lagi, menghilang tanpa kabar dan membuat aku menahan rindu disini.. kamu tega.” cerocosku, matanya membulat karna kejujuranku, dan sungguh aku malu karna keceplosan. Aku meninju rusuknya dengan tangan terkepal dan itu cukup kuat membuatnya mendesis



Sst..’



“sakit.. biarin saja sakit.. aku kesel.” ucapku.



“ekhem.. paman pergi dulu ya” pamitnya, mengintrupsi kegiatanku yang sedang meninjunya dengan kesal.



"Dan nona, tubuh tuan banyak lebam jadi pukulannya jangan terlalu keras” pesanya sebelum pergi, aku terdiam sebelum kembali mendengarnya bicara “ dia begitu karna merasa bersalah padamu, caranya dengan melukai diri sendiri.”


“paman!” ucapnya menatap paman Anthony penuh peringatan. Sedangkan aku menatapnya kawatir, saat aku sadar wajahnya penuh lebam, dan aku butuh penjelasan.  Tapi nanti setelah mengurusinya terlebih dahulu.


...Jazakallah khair...


.......


.......


...Jangan lupa dukungan berarti kalian ya sobat...


...With love....


.......


.......


.......


.......

__ADS_1


__ADS_2