BLACK PEARL

BLACK PEARL
BAB 59


__ADS_3

بسم الله الرحمن الرحيم


Aku membuka laci untuk meminum obatku, aku mengambil tempat obat dan  terkejut saat obatnya habis. Aku kembali berfikir sejak kapan obatku habis. Lalu takut-takut aku mengambil ponsel mengecek aplikasi datang bulanku. Dan aku melotot, aku tidak mens  selama itu 3 bulan sulit dipercaya.


“assalamu’alaikum” salamnya dia baru datang. Segera kumatikan ponsel dan meletakkan kotak obat dilaci.



“waalaikumsalam , ayo bersih-bersih dulu setelah itu kita makan malam.” ucapku dia mengangguk lalu mencium bibirku kilat sebelum berlalu didepanku. Aku tak lagi memikirkan hal ini. Mungkin aku terlalu stress jadinya tamu bulananku sedang bermasalah.


++++


Pagi harinya aku tidak memasak karna mual muntah itu melanda lagi membuatku lemas dan tak bertenaga. Hingga akhirnya aku meminta paman Anthony mengirim nasi goreng buatan bibi Maggie aku menginginkannya. Paman datang begitu cepat hanya sendiri bibi Maggie tidak ikut.



“kok sendiri?” tanyaku.


“bibi lagi belanja, jadi aku berangkat sendiri.” jawabnya.



“ bibi gak marah paman tinggal sepagi ini” godaku, dia terkekeh dan manepuk pucuk kepalaku.



“gak lah dia malah senang sekali saat kamu minta dibuatkan nasi goring." ucapnya. Kak Rys datang dan menyapa paman dengan hangat.



“ini kok rasanya beda.” ujarnya saat dia memakan nasi gorengnya.



“tentu saja.. istrimu meminta bibi Maggie untuk memasakkan dia nasi goreng, dan itulah sebabnya aku makan lagi disini.” jelas paman Anthony membuat Alardo terkekeh.


“aku juga kangen masakan bibi.”  Ucapnya.


-----------------------


Aku meminta supir mengantarkankku kerumah sakit, bersama kak Lena sedangkan Aisyah semenjak menikah dengan kak Daniel, si overpretektiv itu mengantarkan istrinya sendiri. Pernikahan mereka juga diketahui semua orang dikantor, aku tidak keberatan hanya saja ku selalu bertanya-tanya kenapa kak Rys seakan menyembunyikanku pada dunianya.



“ngapain ke sini dek?” Tanya kak Lena.



“obatku habis kak, makanya aku membuat janji dengan dokter Tari.” jelasku. Setelah mengantri akhirnya aku dipanggil. Kak Lena menunggu diluar sedangkan aku masuk keruangan dokter Tari yang tersenyum menyambutku. Kami saling berjabat tangan dan mempersilahkan aku duduk.

__ADS_1



“sudah lama anda tidak datang. Sudah 3 bulan lebih… apakah obatnya cukup sampai selama itu?” tanyanya ramah.



“eum.. memang biasanya anda memberikan resep obat untuk berapa lama?” tanyaku hati-hati.



“jadi anda tidak menghitungnya ya nona. Dua bulan sekali biasanya anda datang sekaligus berkonsultasi tentang kesehatan anda. Tapi sejak 3 bulan yang lalu anda tidak datang, saya pikir anda sudah tidak membutuhkannya lagi.” jelasnya membuatku terhenyak. Lalu menatapnya.



“jadi apakah saya masih bisa mendapatkan obat itu? Tanyaku.



“tentu saja Mrs. Zach… mari kita periksa dulu, seperti biasanya.” Aku menurut walau jantungku berdentum cemas, aku luar biasa gugup. Aku berbaring dibed, dokter Tari mulai memeriksaku saat tangannya sedikit menekan perutku membuatnya mengernyit.



“terlambat datang bulan?” Tanya dokter dia menghentikan pemeriksaan dan bertanya tanpa menyuruhku bangun sedangkan dia duduk dikusi samping bed.




“saya mohon izin menyingkap gamis anda Mrs. Saya ingin memastikan sesuatu, bagian bawahnya anda bisa menutupinya dengan selimut.” ujarnya sopan, dengan raguaku mengangguk. dia menutup tirai dan keluar dari tirai membiarkanku melakukannya sendiri.



“apakah sudah selesai Mrs.?” Tanyanya.



“ya.” jawabku gugup dia tersenyum menatapku.



“tidak usah gugup Mrs.. semoga saja hasilnya sesuai dengan harapanmu.” ucapnya ambigu. Perutku terasa dingin saat dokter Tari mengoleskan gel diperut bagian bawahku, alat itu mengusap perutku dengan lembut dan sedikit menekan.



“ouh!” gumamnya membuatku menahan nafas.



“lihat layarnya Mrs. Zach!” beritahunya, dengan berani aku menatap layar hitam dan sedikit buram, aku melihat dua titik disana yang tampak cukupkecil namun berbentuk.

__ADS_1



“yaampun sudah selama ini dan anda baru datang kesini.” ucapnya yang membuatku tak mengerti.



“maksud dokter.?” Tanyaku.



“anda melihat dua titik itu.. itu janin anda, ada dua selamat… masih kecil namun sudah berbentuk, perkembangannya baik diusia kandungan anda yang ternyata sudah 11 minggu dan anda baru menyadarinya” aku masih mencerna perkataan dokter, janin.. ada dua.. kecil sehat… 11 minggu semua memutar dan menyatu dipikiranku bagai milk shake.



“maksdunya saya hamil?” tanyaku dan dia mengangguk seraya tersenyum.



“selamat Mrs. Zach. Um apakah anda ingin mendengarkan detak jantungnya?” tanyanya, aku mengangguk ragu. Saat dokter Tari memerdengarkan itu dan aku merasa ini nyata, jantung anakku, aku mendengarkannya, begitu indah terdengar ditelingaku jantungku ikut berdegup kencang seiring dengan degupan jantungnya yang indah.



“dia begitu sehat bukan.. terlihat dari detak jantungnya yang normal, mau saya cetakkan untuk ibu simpan?” tanyaya dan aku mengangguk kuat tentu saja. Foto anak pertamaku diperut.



“oh ya.. satu minggu lagi kembali ya Mrs. Zach sayang ingin mengcek keadaan sikembar diperut ibunya.. dan sekali lagi selamat.” ucapnya aku mengangguk kikuk. Senyumku memudar saat bayangan kak Rys yang marah waktu.



“eum dokter.” panggilku.



“ia Mrs.” Dia sedang menulis resep vitamin untukku.


... “eum.. bisa anda rahasiakan ini dari suami saya Alardo, saya akan memberitahunya sendiri nanti. Dan jika dia bertanya anda katakan saja hanya cek rutin, jika nanti dia menelfon anda.” ucapku dan dokter Tari tersenyum meng iakan....


...TBS...


.......


.......


.......


.......


...Jazakumullah Khair...

__ADS_1


__ADS_2