BLACK PEARL

BLACK PEARL
BAB 37


__ADS_3

بسم الله الرحمن الرحيم


.......


.......


...Selamat membaca...


Aku berjalan tergesa-gesa, setelah menyelsaikan rapat dengan devisi X. Masuk kedalam ruanganku dan duduk dengan gusar. Aku kesal pada diriku sendiri yang tidak bisa datang langsung untuk menyemangati istriku.


Aku cemas karna dia sedang berjuang sendiri disana, aku sedang gusar karna belum ada kabar apapun dari Leni si bodigat istriku. Hingga ponsel berdiring bertapatan dengan Daniel dan paman Anthony masuk. Aku cepat menekan tombol hijau lalu mendekatkan ketelinga kiriku.


📲


Aku : bagaiman Len?” serbuku tak sabaran, bahkan Daniel dan paman Anthony yang juga kepo duduk dikursi depan mejaku.


Leni : nona sedang sedih tuan, matanya sembab dan dia menangis dalam pelukan Aisyah sahabatnya. Sahabat nona juga berusaha menenangkan nona yang masih menangis.” Ucapnya terdengar ragu.


Topic bukan tentang nada suaranya sekarang, tapi tentang istriku yang menangis, maksdunya apa, dia gagal. Tidak mungkin dari catatan kampus dia siswa yang berpretasi, tidak pernah berbuat onar dikampus, dan saat tadi malam dia belajar mempraktekkannya didepanku dia sangat lugas dan apa yang ia sampaikan dapat dimengerti. Tapi kenapa?. Hingga sebuah suara pesan dari ponselku terdengar. Aku melihatnya dan tertera nama Leni dengan sejuta kata maaf dan aku mengerti kenapa dia minta maaf membuatku mengumpat kasar.


“kurang ajar!” desisku sebal.

__ADS_1


“kenapa Al? Tanya Daniel, paman Anthonya juga kepo, dan aku menunjukkan pesan yang aku dapatkan. Dan ekspresi mereka sungguh menyebalkan.


“oke aku putuskan untuk pulang kerumahmu. Sekalian nyapa abi dan ummi” putusnya, dan tanpa persetujuanku dia mengikuti langkahku dengan berjalan dibelakang. Sedangkan aku berjalan tak memperdulikannya.


----------------


Aku sedang duduk diruang tengah sendiri, sedangkan abi dan ummi sedang shalat ashar dikamar mereka. Daniel tengah tidur di kamarnya, kamar yang memang dijadikan hak miliknya tanpa persetujuanku tentu saja. Sudah pernah aku usir, tentu saja pernah. Namun si kepala batu itu tak menghiraukan hal itu. Paman Anthony.. sedang duduk berdua dengan bibi Maggie ditaman belakang. Alina sedang marathon drakor dikamarnya. Dan Alan aku tidak tau dia dimana.


“assalamu’alaikum" suara salam seseorang yang begitu familiar terdengar, dan sangat aku kenali. Siapa lagi jika bukan dia.. Hanna istriku, dia berbinar menatapku yang duduk sendiri disofa dengan buku ditangan. Lalu dia berlari kearahku disertai panggilan khususnya itu nyaris berteriak.


“Mr. Husband.” Pekiknya girang, lalu duduk disampingku dan menghadap penuh padaku.


“kamu tau. Kamu tau.. aku … lulus ye……ye….!!” Ucapnya kesenangan, sedangkan aku biasa saja. Hanya diam lalu mengangguk.  Aku sudah tau, informasi yang diberi Leni saat menelfon itu dia salah paham, ternyata Hanna sedang menangis bahagia. Maka dari itu dia kembali mengerim pesan dan bertuliskan permintaan maafnya beserta informasi akurat.


“hanya ouh?” tanyanya tak percaya.


“selamat” ucapku santai tanpa beban, dan dia melongo tak percaya akan tanggapan dan reaksiku yang biasa saja. Lah kenapa harus berlebihan sepertinya, hanya luluskan, kenapa harus segirang itu.


“yaampun aku lupa jika memiliki suami si manusia kaku tak bermulut manis. Ck.. ck.. mendadak hilang ingatan deh aku Mr. kaku” ucapnya seraya bersungut, dia merajukkah.. aku baru tau kata itu setelah aku mencari digoogle dan dia seperti itu. Hingga aku merasakan pukulan dikepalaku dan itu cukup keras.


“ck.. dasar es batu bermulut kanebo kering.. tak ada manis-manisnya.” suara geram itu sangat kukenal dan siapa lagi jika bukan abi yang kini sudah duduk disamping Hanna, membawa Hanna dalam pelukannya seraya berkata.

__ADS_1


“selamat ya putri abi.. hebat deh” pujinya. Dan Hanna nyaman dalam pelukan abi membuatku sebal entah kenapa.


“uh makasih abi sayang.”


“sabar ya menghadapi si es batu itu” ucap abi seakan tidak ada aku disini, setelah mereka mengurai pelukan dan Hanna hanya menatap abi.


“Hanna mah selalu sabar bi. Gimana lagi gak ada pilihan.” ucapnya sok nelangsa, aku tarik dari belakang hingga dia jatuh dalam pelukanku. Memeluknya erat dia berusaha lepas namun aku tidak menghiraukannya.


“jika abi ingin tau semanis apa bibirku ini. Tanyakan pada istriku ini gimana manisnya bibirku saat menciumnya.” ucapku gamblang dan kesal. Abi terkekeh geli sedang tangan Hanna mencubit lenganku yang membelit lehernya. Dan sama sekali tak terasa.


“gak sopan ih.. bicara hal seperti itu” bisiknya, dan aku hanya menjungkit bahu tak acuh.


Lantas membopongnya yang berteriak kaget, dan protes karna membawanya begitu saja dan pergi dari Abi tanpa pamit. Aku tak peduli.


---------------


Istriku itu mendapat banjiran kata selamat dari semua orang yang berada dirumah, bahkan ada perayaan kecil di sore hari ini. Aku yakin senyum dibalik cadarnya itu tak terlalu lebar, kenapa karna dia masih sebal padaku yang tidak ada bahagianya tentang kelulusannya. Cih hanya kelulusan tak ada yang spesialkan. Batinku protes. Aku memilih duduk sendiri dan cukup jauh dari sana membirkan istriku berbaur dengan semua orang yang menyayanginya, dan aku tidak ingin menggangu moment kebersamaan itu. Karna aku tau ada saatnya dia sepenuhnya hanya terpusat padaku dan ada saatnya dia bersama keluarga kami.


TBS


...  Tetap jadikan Al-qur'an bacaan utama ya sobat....

__ADS_1


...Jaga kesehatan juga, dipandemi yang belum berakhir ini....


__ADS_2