BLACK PEARL

BLACK PEARL
BAB 52


__ADS_3

بسم الله الرحمن الزحيم


...Selamat membaca...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.........


              Satu bulan sudah mereka menempati rumah baru. Dimana mereka pindah setelah satu hari resepsi pernikahan mereka. Sedangkan rumah lama akan menjadi rumah singgah jika keduanya merindukan tempat itu. Rumah yang berada dikawasa elit dikota. Seseorang memelukku dari belakang, aku merasakan hembusan nafasnya dileher yang hangat, aku sudah merasa hafal akan hal ini. Siapa lagi jika bukan dia Mr. Husbandku yang sudah rapi dengan pakaian kantornya. Begitupun aku aku juga sudah rapi degan pakain kantorku. Yap aku dan Aisyah diterima kerja dikantor Z’BLACK CROUP didevisi X satu tim juga.


“Mr.. lepas dulu..! aku akan meletakkan ini dimeja.” ucapku, dengan tidak ikhlas dia mengambil dua kotak box bekal makan siang miliknya dan milikku. Lalu meletakkannya dalam tas bekal agar mudah dibawa.


“mau bareng aku aja gak?” tawarnya.


“gak aku bareng sama Aisyah, sebentarlagi dia datang.” jawabku, rumah Aisyah dikota meskipun tidak satu Recident tapi rumah kami tidak terlalu jauh. Hanya recident tetangga. Suara bel rumah terdengar, aku berjalan beriringan bersama suamiku dan benar dugaanku Aisyah datang. Aku menyalami tangannya dan dia mencium keningku ritual sebelum berangkat kerja yang wajib dilakukan.


“hati-hati dijalan” pesannya pada supir kami. Sedangka dia sudah melaju jauh lebih dulu karna katanya aka nada meeting hari ini.


+++++++++++++


          Hari ini kantor cukup sibuk, tenagaku sedikit terkuras, karna padatnya pekerjaan. Sesekali aku minum saat tenggorokanku terasa kering. Setelah makan siang tadi yang hanya kulakukan sebentar karna darisaking sibuknya.


“Hanna, bisa minta tolong ambilkan berkas-berkas penting diruangan pak Teddy?” Tanya mbk Intan menejer divisi kami, sedangkan pak Teddy adalah menejr divisi lain. Aku mengagguk, lalu beranjak dari sana agar gerak cepat dan selesai. Ruangannya berada dilantai 10 setelah keluar dari lift, kuketuk pintunya dan dia menyuruhku masuk. Dan luar biasa itu tumpukan berkas, bukan hanya satu berkas.


“kamu tidak membawa teman Han?” tanyanya umurnya seperti paman Anthony yang kini sudah berbahagia dengan bibi Maggie mereka sudah menikah.


“oh tidak pak.” jawabku, seharusnya aku ngajak temen ya.. tapi mana tau juga akn sebanyak ini.


“bisa bawa sendiri?” tanyanya dan aku mengangguk walau ragu.


Tangan kecil kurusku membawa tumpukan kertas yang bisa menghasikan uang ini berjalan cukup susah karna pandangaku sedikit tidak jelas karna ditutupi tumpukan ini. Hingga aku tidak sengaja menabrak seseorang didepanku, membuat berkas ini jatuh berserakan. Oh allah batinku sedikit panic lalu menatap seseorang yang memunggungiku dia tidak jatuh namun aku yakin punggungnya sakit.


“tuan maafkan saya.. sungguh saya tidak sengaja


” dia tidak menoleh dan langusng pergi begitu saja. Yaampun dia pasti marah, aku ingin mengejarnya tapi tidak mungkin membiarka berkas ini berserakan.


“saya bantu nona.” ucap Lena yang entah sejak kapan sudah berada disini.

__ADS_1


“plis.. jangan membuat kentara!” bisikku.


“tidak saya sedang bekerja disini” jawabnya satai mataku melotot tak percaya.


“bekerja mengawasi anda, dan yang harus anda tau tadi itu adalah CEO kita.” aku dua kali terkejut karnanya tidak karna ucapannya.


“hah.. benarkah?” tanyaku .


“ia benar.. mari saya bantu bawakan” belum juga aku member jawaban, dia sudah nyelenong pergi dariku. Dan setelah mengatarkan berkas ini keruangan ibu menejer. Aku celingukan mencari keberadaan Lena yangsudah tidak ada disana, yaampun dia macam jin aja datang tiba-tiba dan pergi tiba-tiba. Saat aku akan pergi dari depan ruangan ibu mejer itu. Bu Intan memanggilku membuatku menoleh.


“ia Miss.” Menoleh padanya, dia terlihat kawatir, kenapa apa aku salah membawa berkasnya.


“han tadi katanya kamu bawa berkasnya sampai gak sengaja nabrak orang ya” ucapnya, yaampun jantungku mulai berdebar tak tenang.


“i..ia.. Miss.” Jawabku sedikit gugup.


“dia memaggilmu keruangannya, yang kamu tabrak adalah CEO” beritahunya engan wajah kawatir.


“aku lupa menyuruhmu membawa teman Han.. apa aku perlu ikut kamu?” aku mengangguk kuat, tentu saja selain ruangannya aku tidak tau.. aku cukup takut untuk pergi sendiri. Dia memang baikhati, jika tim kami berhasil atau mengerjakan deadline tepat waktu dia akan mentraktir kami bakso favorit diseberang kantor, uh bukan saatnya memikirkan makanan. Batinku.


Aku berjalan dibelakangnya, dia berbicara pada dua sekertaris disana laki-laki dan perempuan cumin aku kok tidak asing dengan lelaki itu ya.. tapi dimana aku pernah bertemu. Hingga lelaki itu mengangkat wajahnya menataku sekilas namun kembali menatapku dengan mata menyipit.


“nona Hanna.” panggilnya, aku pun menypitkan mata menelisik wajahnya mencoba untuk mengenalidia, dan aku ingat..


“tuan Rendi” dia merasa tidak nyaman sepertinya.


“silahkan masuk Ms. Intan dan Ms. Hanna, Mr. sudah  menunggu” sela seseorang gadis tinggi semampa dan rambut pendekya yang tertata rapi.


Tanganku mulai panas dingin, berkali-kali akumulai menarik nafas agar hatiku tenang. Karyawan disini merumorkan sang boss sudah beristri namun sebagian bilang belum beristri makanya si boss suka tidak suka ada keselahan yang fatal dia akan cepat marah dengan ekprsidatar dan dingin yang menakutkan. Kak Ira bilang jangan pernah menatap matanya jika kau tidak ingin membekuditempat, karna matanya yagtajam seakan menghunus membuat kita berdiri bak patung sangat menakutkan.


‘huft… tidak boleh bebruruk sangka, apalagi dengan orang yang tidak kamu kenali, bismillah’ bisikku dan menyemangati diri sendiri.


Kami sudah berada didalam ruangan serba abu-abu dark sanga luas dan mewah, terdapat sofa bed di sisi kanan dan disisi kiri terdapat kacabesar yang memperlihatkan keadaan kota dan langit yang cerah. Tentu saja ini lantai paling atas setelah atap tentunya. Suara derap langkah begitu tegas dan terasa nyaring karna terlalu sunyi.


“selamat siang tuan.” sapa bu Intan sedangkan aku berdiri dibelakangnya hanya mampu menunduk tidak berani mengangkat wajah.


“saya datag kesini bersama anak buah saya yang tidak sengaja menabrak anda tadi, salah saya juga tidak menyuruhnya mebawa teman. Dia karyawan yang pintar, sopan dan ramah. Saya sebagai atasannya turut merasa bersalah atas apa yang menimpa ada Mr. saya..


“keluar!” suara dingin itu membuatku bulu kudukku berdiri.


“ya?” Tanya bu Intan memastikan.


“kamu keluar, dan biarkan si ceroboh itu tetap disini” ucapnya tegas takterbantahkan begitu dingin tak ada cengkok  nada dalam pembicaraannya. ‘yaampun ada juga yang mirip suamiku, tapi itu dulu’ batinku.


Dan lihat aku berdiri bak patung setelah Ms. Intan pergi dari sini aku berushaa tenang diatas kegelisahan hatiku, berdzikir sebanyak-banyaknya agar allah menenangkan hatiku. Hingga aku melihat sepasang sepatu pantofel tepat didepanku, mataku terpejam hingga.


Tuk… kepalaku dipukul dan itu cukup keras membuatku mengaduh dan menggosokkan tanganku dipucuk kepalaku.

__ADS_1


“itu hukuman buat kamuyang gak bilang sama suaminya kalo ternyata kita satu kantor.” ujar bapak CEO itu nadanya yag tadi dingin tidak dingin lagi lebih ke memebrenggut. Aku mendongak dan terkesiap.. dia.. dia. Lelakiku.. ada didepan mata. Yaampun bahkan pakaiannyapun sama seperti yang sudah akusiapkan untuknya. Aku menggeleng tidak mungkin.


“bapak kenal suami saya?” tanyaku aku tidak percaya aku bekerja diperusahaan milik suamiku,  aku yakin dia bukan suamiku pasti lelaki ini kembaran suamiku, eh aku mulai ngaco. Hingga ia menarikku dan aku tertubruk cukup kuat pada dada bidangnya, dia memelukku.


“mau bermain-main?” tanyanya, kesal.


“eh beneran suamikukah?” tanyaku linglung, lalu aku terkesiap saat dia menyingkap cadarku dan aku terdiam saat dia mulai menciumku lembut hanya sebentar setelahnya aku hanya menatapnya dengan megerjapkan mata lambat.


“masih belum percaya eh” ucapnya seraya tersenyum tipis.


“jadi aku kerja disini, perusahaan kamuuuuu?” tanyaku mulai ngeh.


“ya Mrs. Wife, rasanya aku merasa sanksi Intan berkata kamu kompeten dalam pekerjaan, tapi lemut mengingat suami sendiri” cibirnya, membuaku terkekeh konyol.


“ya aku shcok aja tau.. siapa yang akan mengira aku menjadi karyawanmu dirumah.. ck.. ck luar biasa.”


“dan aku cukup marah karna seseorang membiarkanmu membawa tumpukan sebanyak itu.” Wajahnya mulai serius artinya dia memang benar marah.


“yah kan Ms. Intan sudah minta maaf sudah lah..”


“makanya aku menyuruh Lena membantumu, lain kali jangan mau disuruh begitu lagi.”


“mana boleh.. aku bekerja disini, lagian gak setiap hari kok begitu” ucapku lembut. Aku teringat jika pinggangnya pasti sakit, aku menjulurkan tanganku kearah pinggang dan mengusapnya.


“masih sakit?” tanyaku kawatir.


“ia.. kamu tidak tau saja aku nahan nyeri dari tadi.” nadanya mulai manja ya jiak bersamaku dia akan begitu manja dalam versi dia yang tetap kaku itu jika manja yang dimaksud akan merengek atau apa dia salah wajah datarnya tidak seirama dengan apa yang dia minta.


“bohong pasti.” ucapku tak percaya.


“beneran.. ayo pijat punggungku dan pinggangku, kamu harus tanggung jawab” suruhnyadan mau tak mau aku harus menurutinya. Dia berbaring tengkurap di sofa sedangkan aku duduk di sisinya mulai memijat punggug dan pinggangnya. Namun tak lama dia malah menarikku hingga aku tertidur disisinya.


“istirahatlah.. pasti kamu lelah.. hari ini pekerjaan memag cukup banyakkan” ucapnya embut seraya memelukku erat.


“Mr.. tidak ada yang tau jika disini aku adalah istrimu.. jadi dari pada gossip tak menyenangkan beredar biarkan karyawan halalmu ini pergi bekerja dulu ya.. masih ada waktu dirumah” cobaku memberikan pengertian padanya, agar ia mau memaklumi hal itu. Dia menghela nafas sebentar. Dia masih memelukku seakan enggan melepaskannya.


“5 detik lagi.. aku butuh energy” jawabnya ngeles. Hingga 5 detik dia benar-benar melepaskanku walau enggan terlihat.


“aku kerja dulu ya.. kalo Mr. capek istirahat!” pesaku seraya mengusap pipinya dan dia menikmati.


“kamu usap gini bikin aku ingin memenjarakan kamu disini. Jadi sebelum aku berubah pikiran kembali sana!” mulut boncabenya keluar. Aku terkekeh lalu mencium kilat pipinya dan pergi dari sana, aku mengintip dibalik pintu saat dia mengusap rambutnya frustasi akibat ulahku. Aku kembali dengan senyum mengembang karna berhasil mengerjai si Mr. suami itu yang ternyata CEO waw… takdir allah memang mengejutkan.


...TBS...


...Jangan lupa vote dan komennya sobat...


...Jazakumullah khair...

__ADS_1


^^^With lUv^^^


__ADS_2