
بسم الله الرحمن الرحيم
...Tetap jadikan Al-qur'an bacaan utama ya sobat....
...Selamat membaca...
.........
Dia tau dan aku terkejut akan perlakuannya yang kasar, aku tak peduli pada tubuhku namun aku kawatir pada Chio disana, aku kesakitan namun aku tidak bisa berteriak saat dia membungkam bibirku tanpa ampun. Lalu aku terkesiap saat dia menekan perutku aku memejamkan mata menahan nafas aku tak sanggup akan hal ini. Dan dia berkata seaakan aku ini pengkhinat yang sudah kejam mengkhianatinya.
Aku mengandung… mengandung anaknya kenapa dia harus semarah itu dan kabur dari sini. Aku menangis sendiri dikamar, kak Lena mengetuk pintu namun aku tak hiraukan. Aku memilih masuk kekamar mandi dan mulai membersihkan diri. Aku hendak mengadu pada tuhan agar hatiku tenang, mengerjakan shalat malam dan menangis memohon perlindungan, memohon ampun jika mungkin hal ini karna kesalahanku.
“bunda akan selalu melindungi kalian.. ayah tidak marah hanya terkejut akan kehadiran kalian.. ayah sangat menyayangi kalian kok.” ucapku walau kata itu juga. Ragu aku ucapkan.
Dia kembali dalam keadaan mabuk lagi, dan meracau tak jelas, sudah 2 hari dia pulang dalam keadaan mabuk seperti sekarag ini.
__ADS_1
“oh sayang..” racaunya saat aku membaringkannya dikasur “aku membenci ini”racaunya lagi lalu kembali tak sadarkan diri. Aku menatapnya dalam diam menekan hatiku untuk tidak menangis lagi.
“segitu tidak inginnya kah aku mengandung anak-anakmu.” gumamku, aku bangun ingin pergi dari sini, tapi hatiku menahanku untuk tetap disini. Hingga ponselnya berdering tanda pesan masuk tanpa aku buka aku bisa membaca dilayar depannya. Yang menampakkan foto tangan kami berdua dengan cincin nikah.
📩
Monica
Besok lebih baik dihotel aja pak.. dilestoran terlalu ramai’
Aku membelai perutku mencoba mendapatkan dukungan dari mereka. “bunda sayang kalian… kalian adalah keluarga bunda yang sekarang bunda miliki, bertahan bersama bunda ya.. bunda mohon.’ ucapku dengan linang air mata menggigit bibir saat aku merasakan kram diperutku, karna aku banyak menangis akhir-akhir ini.
Saat pagi hari aku sudah tidak melihatnya lagi namun aku tidak perduli aku memilih masuk kekamar mandi dan membersihkan diri karna hampir telat kekantor, biasanya aku tidak tidur habis subuh, aku memilih berjalan pagi dibelakang rumah kami, namun karna lelah akukembali tertdiur. Aku bercermin menatap pantulan tubuhku dimana semakin kurus dan perutku yang semakin membesar aku mengusapnya sayang.
‘ayah tidak membenci kalian kok… ayah masih shock.. nanti kalian pasti akan disayang ayah.. sabar ya.” lirihku, aku harap mereka percaya akan kebohongan ini.. maafin bunda’ batinku lirih.
Lalu pergi dari rumah dimana kak Daniel dan Aisyah menjemputku, aku hanya diam mengamati jalanan mereka juga diam, namun usapan diperutku membuatku menoleh pada orang itu yang tak lain adalah kak Lena, dia tersenyum walau matanya berkaca-kaca. Aku menatap kedepan dimana Aisyah juga menatapku sendu, aku malah tersenyum berusaha tegar.
__ADS_1
Saat aku dan yang lainnya berjalan memasuki kantor, bertepatan dengan suamiku yang juga baru saja keluar dari mobilnya dan aku terkejut saat monica juga keluar dari sana. Aku tertawa, baiklah nak saatnya kita menyerah, batinku dan mengusap perutku yang mengeras.
“hanna darah” teriakan Aisyah menyadarkanku dan menatap telunjuknya yang menunjuk lantai dan aku melotot melihat darah mengalir deras dari dalam tubuhku.
“akh.. sakit.." pekikku merasakan perutku diremas kuat, aku berusaha mencari pegangan dan tangan itu menggenggamku tangannya dingin sekali dan gemetar, saat aku hendak menoleh tubuhku sudah melayang, paman Anthony membawaku dalam gendongan.
“selamatkan bayiku.. selamatkan mereka” aku meremas kemejanya kuat saat rasa sakit itu tak tertahankan tidak maafin bunda nak karna mengajak kalian meyerah tidak.. jangan menyerah jangan… hingga kesadaran tak lagi mau bertahan denganku gelap itu menguasaiku.
+++++
Kepalaku terasa pening, aku membuka mata perlahan lalu membuka lebar aku menoleh kekanan dan kekiri aku menatapnya disana dia berdiri enggan mendekat, matanya menatapku tajam, aku gemetar dan ketakutan hingga ia mendekat lalu tangannya menggantung dikedua sisinya hingga ia berkata dengan nada dingin yang begitu menakutkan.
“seharusnya jika kamu tidak bisa menjaganya dan menjaga tubuhmu dengan baik, lebih baik relakan dia pergi” tukasnya tajam. Aku menunduk menatap perutku dan mendeasah lega saat perutku masih sama. Mereka masih ada namun aku kembali merasa kesakitan dan aku berteriak. Hingga aku mendengar pintu kamar dibuka dan aku mulai tak sadakan diri.
...TBS...
...Jangan lupakan dukungan kalian ya sobat...
__ADS_1
...Jazakallah khair...