BLACK PEARL

BLACK PEARL
BAB 21


__ADS_3

بسم الله الرحمن الرحيم


...Selamat membaca...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


Aku terkejut saat ia melakukan itu, aku masih diem mencerna apa yang baru saja ia perbuat padaku, kali pertama ini.


“yaallah..” gumamku, aku merasakan panas dipipi, jantungku berdegup kencang tak seperti irama biasanya. Aku menggelengkan kepala saat bayangan perbuatannya melintas lancang dipikiranku membuat jantugku meletup seperti kembang api indah tapi panas. Aku kembali menyuap mie kedalam mulut agar pikiranku teralihkan.


Menghembuskan nafas gusar dan tidak aku sudah tidak berselera lagi. Aku beranjak dari sana dan berlari menuju kamar, namun yang aku lakukan hanya berdiri didepan pintu. Aku malu untuk langsung bertatap muka dengan dia. Walau dia suamiku halal baginya untuk melakukan hal itu tapi.. dia melakukannya tiba-tiba membuatku terkejut.


Aku memutar hendel pintu,  lalu mendorong daun pintu dengan pelan memindai disekitar ruangan. Dan aku menemukan. Mr. Suamiku sudah tertidur pulas dikasur kami. Aku masuk perlahan tak ingin mengganggunya. Kututup kembali pintu tak lupa menguncinya, mendekat padanya lalu menatap wajah tenang yang terihat begitu damai dengan raut wajah kelelahan. Sangat terlihat dari kantung matanya yang begitu jelas.



“mimpi indah Mr. suami” ucapku,, entah aku mendapatkan keberanian dari mana mencium keningnya. Ia menggeliat membuat aku terdiam bak patung, namun ternyata dia hanya membuat nyaman posisi tubuhnya bahkan ia tersenyum dalam tidurnya. Wajah kaku datar dingin itu berubah menjadi lebih hidup. Bukan berarti dia mati hanya saja ya pikir sendirilah ya. Aku menatap jam dinding menunjukkan pukul 2 malam. Saatnya menghadap cinta sejati sang pemilik cinta diatas cinta yaitu allah.



Selesai berwudhu’ aku mengganti piyamaku dengan gamis yang begitu cantik walau sederhana namun aku yakin jika orang beruang yang membeli pasti cantik dan karya butik. Bukan karya pasar. Aku tak menyangka Mr. suamiku itu membelikan ini untukku. Aku tersenyum saat gamisnya begitu pas ditubuhku tidak kekecilan ataupun tidak kebesaran. Lalu memasang mukenah mahar pemberiannya dengan sulaman yang indah. Ku khusu’kan hati lebih tepatnya mencoba untuk khusu’ karna manusia tidak akan pernah bisa mengkhusu’kan shalat namun bisa mengusahakannya.



“allahu.. akbar” takbir pertama diikuti gerakan tangan diangkat dikedua sisi telinga namun sedikit lebih rendah dari telinga. Telapak tangan yang mengarah kearah kiblat lalu melipatnya di bawah dada.



‘kenakanlah pakaian terbaikmu yang kamu punya saat menghadap kepada sang pencipta, dimana sebagai bentuk kesopananmu padanya. Seperti kita yang begitu memperhatikan penampilan dan memakai pakaian terbaikmu saat ada undangan pernikahan atau pertemuan resmi, kenapa tidak kita lakukan juga saat shalat. Menghadap sang pencipta yang lebih dari segalanya didunia, pencipa manusia seperti kita’ pesan ustazd ADI HIDAYAT DALAM CERAMAHNYA.


__ADS_1


‘Dan sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud (sebagai satu ibadah) tambahan bagimu. Mudah –mudahan tuhanmu mengangkat ketempat yang terpuji.’ (QS. AL-ISRA’ : 79)



Setelah melakukan shalat malam dengan 4 rakaat shalat tahajud sebagai salah satunya. Aku melanjutkan mengajiku dengan memurajaah hafalanku disurah Al-kahfi. Kisah seorang pemuda yang lari dari kejaran anak buah sang raja yang kejam untuk dihukum karna mereka menganut agama islam. Hingga ia terasa cukup berlari dan menemukan sebuah gua. Dimana disana mereka dijaga oleh seekor anjing yang berjaga dipintu masuk gua. Dengan kuasa allah mereka tertidur hingga beribu tahun dan kembali terbangun atas kuasa allah juga mereka terbangun dengan masa yang berbeda dimana pemimpinnya yang dermawan dan baik hati. Seperti dikisahkan dalam surah Al Kahfi : 10-15.



“masyallah…” pujiatas kebesaran allah dengan kuasanya yang luar biasa melindungi apa yang ia kehendaki dengan penuh kasih sayang. Hingga suara adzan subuh menggema, terdengar begitu indah. Selesai berdo’a setelah adzan kutegkkan lagi tubuhku menghadap kiblat lalu kembali melaksanakan shalat sunah fajar dan subuh.



Aku sedang mengaji di ayat terakhir, aku mendengar pintu kamar mandi didorong kekiri, membuatku menoleh ternyata Kak Ryszard keluar dari sana dengan wajah basah, aku tersenyum menatapnya.



“mau shalat juga?” tanyaku, dia hanya diam lalu menatapku dengan mata elangnya.



“sudah selesai?” tanyanya datar, aku mengangguk. Dengan antusias aku berdiri, apalagi melihat kak Rys berdiri didkekatku. Segera aku menyingkir dari sajadah, kubuka mukenah dengan berdiri disisinya.



“tunggu! aku akan mengambilkan kakak kopiyah” ucapku, namun belum juga melangkah tubuhku melayang dan aku terkesiap saat aku berada dalam gendongannya. Ku tatap mata birunya yang menggelap, bukan ini bukan karna amarah namun aku tidak tau maksud tatapannya apa. Lalu aku membeku saat tanpa kusadari kak Rys mebaringkanku dengan lembut dikasur dan dia berada didiatasku menghimpitku entah sejak kapan wajahnya sudah berada didekatku.




“bukankah kita suami istri” jawabnya ambigu.



“kak..” ucapku lirih saat wajahnya semakin dekat, aku menahan dada bidang itu membuat dia memundurkan kembali kepalanya. Pertanyaan yang ingin sekali aku tanyakan padanya.



“kenapa kakak mau menikahiku dan meng iakan permintaan kakek?” tanyaku, dia membeku sebentar setelahnya kembali gesture semula yang tenang dan terlihat tergas-gesa. Ia menatapku dalam, mengajakku menyelami matanya yang biru begitu indah dan tajam aku seakan terhipnotis oleh mata biru itu, namun tubuhku membeku saat aku mendapatkan jawaban darinya satu kata namun efeknya luar biasa menyakitkan.



“tubuhmu’ ucapnya, lalu membuka gamis yang aku kenakan dan melakukan sesuatu padaku, pada tubuhku sesuai dengan alasan ia menikahiku dan meng iakan keinginan kakek. Aku menatap kosong langit-langit kamar yang aku kagumi dengan lampu proyektor yang memancarkan cahaya biru keunguan ditambah benda-benda planet yang menganggumkan. Mataku seketika terpejam, bulir air mata membasahi pipiku. Aku menggigit kuat bibir hingga aku merasakan rasa asin dari darah yang keluar dari bibirku, saat suamiki sendiri melakukannya begitu kasar dan memaksa. Jika saja dia mau bertanya aku tidak akan menolak, jika saja dia menjelaskan keinginannya aku akan melakukannya. Namun. Nasi  sudah menjadi bubur aku tidak bisa memutar ulang waktu. Entah hatiku yang kotor berbisik.


__ADS_1


‘bukankah sama saja jika akumenikah dengan pama Randu, sama tidak dihargai. Apakah hamba melakukan dosa besar yaallah sehingga kau menegurku dengan seperti ini. Menikah dengan lelaki yang ternyata sama sekali jauh darimu. Jauh sekali dari pintaku dalam doa. Aku merasa semuanya sia-sia’ batinku menangis meronta dalam diam. Hingga aku terkesiap saat dia masih belum berhenti padahal tubuhku bahkan hatiku telah ia hancurkan bahkan remuk redam tanpa daya. aku terkesiap saat pikiran itu mengingat allah, aku merasa berdosa telah berburuk sangka dengan takdirnya.



‘siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji zdarrah sekalipun. Niscaya ia akan mendapatkan kebaikannya’ (QS. AL-ZALZALAH : 7)



‘Sesunguhnya yang berputus asa dari rahmat allah, hanyalah orang-orang yang kafir.’



Aku merasakan dia berhenti, bangun dari atasku lalu aku memejamkan mata aku tidak ingin melihatnya, air mataku terus mengalir tanpa bisa kutahan. Aku merasakan hangat ditubuhku dia menutupiku dengan selimut. Menyeka air mata yang terus keluar dan membasahi pipiku. Aku masih tetap dengan pendirianku memejamkan mata tak mau melihatnya. Apalagi dia mencium keningku lembut seakan yang tadi bukan dirinya. Aku menarik selimut lalu menutupi seluruh tubuhku. Hingga aku merasakan tak ada lagi dia disini aku juga mendengar seseorang menutup  pintu. Aku tak peduli kemana dia. Aku hanya ingin memangis sendiri saat ini. Beristigfar sebanyak mungkin agar bisikan buruk itu tak membuatku menjadi manusia yang dzalim.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


‘Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduaya tanpa hikmah (hanya sia-sia saja). Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir maka elakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka” (QS 38: 27).


Hanna berdoa setelah melaksanakan shalat dhuha, ia merenungi apa yang terjadi menimpanya. Pesan kakeknya masih terngiang di pikirannya.


‘setiap apa yang allah timpakan atau takdirkan pada kita agar kita mengambil pelajaran dari itu semua. Agar kita sebagai manusia semakin kuat berdiri dan semakin banyak belajar dari apa yang kita dapatkan. Mungkin dengan ini allah mengujinya agar ia belajar menjadi orang yang lebih bersabar dari dia yang sebelumnya. Dan bisa jadi allah menguji ketakwaanya.’



‘Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, kami telah beriman dan mereka tidak diuji?”



Hanna turun kebawah, ia menghampiri bibi Maggie yang tersenyum hangat padanya, tanpa menghiraukan kebaradaan Alrado, dimana matanya menatap tajam kearahku.



“kelihatannya nona tidak sehat, lebih baik istirahat saja dulu”



“tidak bibi aku harus kuliah” jawabku pelan, aku menarik kursi meja makan menatap makanan tanpa minat. Aku hanya mengambil selembar roti bakar dan memakannya pelan berusaha sekuat tenaga menelannya. Mata elangnya menatap awas padaku, aku tak lagi peduli. Beranjak dari sana tanpa meminum susuku. Lantas aku pergi setelah pamit pada bibi Maggie. Dan demi menjaga maruah rumah tanggaku. Aku tetap menyalaminya, ia menggenggam lembut tanganku mencoba menahanku dengan tindakannya. Namun aku berusaha lepas dari genggamannya dan berlari dari sana. Mengusap air mataku lalu masuk kedalam mobil dimana sejak menikah denganya aku disediakan mobildan supir pribadi oleh.


“demi tuhan aku tak butuh hartanya’ keluhku, aku lelah padahal pernikahanku masih berjalan 1 minggu lebih dua hari.


...Alhamdulillah......


...Jazakallah khair...


...Jangan lupa tinggalkan jejak ya sobat...

__ADS_1


...Dukungan kalian amat berarti...


...With Love...


__ADS_2