
Waktu terus bergulir..
Luca keluar dari walk in closet kamarnya, terlihat sudah rapi dengan pakaian kerjanya.
Alana yang melihat suaminya sudah selesai mengganti pakaian, tersenyum. "Sayang kau sudah tampan sekali, aku sudah menyiapkan sarapan mu", ujar Alana menatap Luca.
"Aku tahu. Suami mu memang tampan", seru Luca sambil mendaratkan kecupan ringan di pipi Alana.
"Sayang, minumnya capuccino hangat saja. Hari ini mataku harus terjaga, ada beberapa meeting yang harus aku hadiri. Sedangkan cuaca sangat dingin", ujar Luca memberikan alasan. Karena ia tahu, istrinya melarang nya untuk seringkali minum kopi. Bagi Lana itu tidak baik untuk kesehatan Luca di masa depan.
"Iya. Tapi jangan terlalu sering meminumnya. Terlalu sering minum kopi tidak baik untuk kesehatan mu", jawab Alana memberikan segelas capuccino di hadapan suaminya.
Luca tersenyum mendengarnya, yang ada di pikirannya sama persis seperti yang diucapkan istrinya barusan.
"Iya istri ku tercinta. Kau selalu mengingat kan suami mu. Terimakasih", ucap Luca sambil memasukkan makanan kemulutnya.
"Luc, nanti siang aku akan datang ke pembukaan pastry milik Laura", ucap Alana sambil meminum susu hamilnya.
"Aku akan menjemput mu, kita pergi bersama-sama".
Alana menganggukkan kepalanya.
"Tapi kita tidak bisa berlama-lama di sana Lana, ingat kandungan mu hanya menunggu hari saja untuk lahiran".
"Iya sayang. Aku hanya duduk saja di sana nanti, kau jangan kuatir", jawab Alana sambil mengusap lembut perut nya yang semakin membesar saja. Bahkan Alana sudah merasakan sangat sesak. Luca semakin mengetatkan pengawasan untuk istri itu. Sekarang hidup Alana begitu banyak aturan-aturan yang di buat Luca. Tidak boleh begini-begitu. Alana harus mematuhinya jika tidak Luca tidak akan mengizinkan nya pergi kemanapun demi menjaga anak-anak nya. Luca menjadi suami siaga yang sangat posesif sekali. Kadang kala membuat Alana merasa jenuh karena ia diperlakukan seperti orang sakit saja tidak boleh ini-itu.
__ADS_1
Tapi pada akhirnya Alana bisa mengerti kondisi nya. Luca melakukan itu semua untuk kebaikannya dan calon anak-anak mereka juga. Karena dokter pun menyarankan Alana harus banyak istirahat menjelang kelahiran yang biasanya akan maju jadwalnya.
*
Laura terlihat sangat antusias dari pagi ia sudah berada di toko kue milik nya yang di dirikan Dante sejak beberapa waktu yang lalu.
Toko kue yang di beri label Laura'D Patisserry tersebut didirikan Dante tepat di samping club miliknya yang sudah lama berdiri. Sebenarnya Dante mendirikan dua toko kue namun yang satunya masih tahap pembangunan. Sementara yang berada di pusat kota Milan mulai hari ini grand opening.
"Selamat siang tuan", sapa pelayan dengan hormat saat melihat kedatangan Dante ke pastry.
"Di mana istri ku?".
"Nona Laura ada di pantry tuan", jawab pelayan muda itu.
Saat di pantry Dante melihat istrinya sedang menata cake buatannya kemudian hendak mengangkat cake dan roti yang sudah tertata rapi ke depan.
"No Laura!", ketus Dante terlihat kesal.
"Kau bawa semuanya ke depan!!", perintah Dante pada pelayan yang ada di dekat Laura.
Laura kaget melihat Dante sudah ada di dekatnya. "Sayang kapan kau datang. Jangan ketus begitu sayang, aku hanya bekerja sedikit saja memberikan contoh pada pekerja", ucap Laura sambil memeluk mesra lengan suaminya yang terlihat menekuk wajahnya menatap tajam Laura.
"Sudah berapa kali aku katakan pada mu, aku izinkan kau datang ke sini tapi dengan satu syarat kau tidak lelah bekerja Laura. Kau harus ingat kau sedang mengandung anak kita. Apa kau tidak menginginkan anak ku?", ketus Dante.
Huhh..
__ADS_1
Laura menarik nafasnya dalam-dalam dan menatap chef dan yang lainnya yang sedang fokus dengan pekerjaan masing-masing.
"Sebaiknya kita ke ruangan ku", ucap Laura menarik tangan Dante menjauh dari pantry yang sedang ramai pekerja mereka.
Laura bingung menghadapi sikap suaminya beberapa hari ini, tepatnya semenjak ia di nyatakan hamil. Dante jadi berubah gampang marah dan sangat cemburuan.
"Sayang kenapa kau gampang sekali marah-marah sekarang. Dan memberikan pertanyaan yang tidak-tidak. Berapa kali aku harus mengatakan, aku juga sangat menginginkan anak kita Dante. Aku mencintaimu sayang", ujar Laura bersungguh-sungguh. Jemari tangannya membingkai wajah suaminya yang masih merenggut. Laura mengusap lembut wajah itu dan memberikan kecupan ringan di bibirnya.
"Aku dan anak kita baik-baik saja. Kau jangan kuatir yang berlebihan, sayang".
Dante mengendurkan dasinya, dan membawa tubuh Laura kepangkuan nya. "Aku sangat menginginkan anak kita Laura, jangan pernah kecewakan aku", ucap Dante dengan tegas sambil me*umat bibir Istrinya.
Sesaat Laura terdiam. Selanjutnya ia juga membalas Dante.
Keduanya berciuman mesra. Laura melingkarkan tangannya pada leher suaminya. Membalas ciuman panas Dante yang menjelajahi rongga mulut nya, membelit lidahnya. "Akh—"
Ceklek..
"Apa kalian tidak bisa menahan diri lagi? Sehingga di toko kue pun dijadikan tempat bermesraan..."
...***...
BAGI VOTE YA, MUMPUNG HARI SENIN NIH 🙏
BAB INI, BAB 105 YAK. BAB 104 MASIH HARUS DI REVISI PERMINTAAN DARI PLAFORM 🙏
__ADS_1