
"Ah, shitt apa yang Luca lakukan. Kali ini laki-laki itu benar-benar membuat kesabaran ku habis...!!!"
Dengan langkah cepat, tegas dan menghentak kakinya Alana menuju tempat Luca berdiri.
Tatapan tajam hazel coklat terang menghunus hingga ke jantung, di layangkan Alana pada pekerja wanita perkebunan nya. Namun para pekerja itu tidak mengindahkan tatapan tajam Alana. Mereka tidak tahu siapa Alana karena Alana sejak lama tidak pernah mengunjungi De Alma. Lirikan Alana seperti hendak menerkam wanita-wanita itu yang masih saja menatap suaminya tak berkedip.
"Uhh.."
Alana mengalihkan tatapannya pada Luca yang malah menyugar rambut basahnya. Luca tidak menyadari kedatangan istrinya yang terlihat sangat kesal dengan wajah masam. Alana mendengus. "Menyebalkan sekali.."
"Sayang apa yang kau lakukan, hem", ucap Alana mesra sambil melingkarkan kedua tangannya pada leher Luca yang terkejut melihat kehadiran nya.
Tiba-tiba bibir Alana menyelonong me*umat bibir Luca. Luca semakin terkejut menyadari tindakan istrinya itu. Wajar saja Luca kaget karena ini yang pertama kalinya Alana menggodanya di tempat umum pula. Luca tidak membalasnya sama sekali namun tangannya melingkar di pinggang istrinya.
Menyadari Luca tidak membalasnya membuat perasaan kesal Alana semakin membuncah menguasai dirinya dan pikirannya. Apalagi Luca seakan membuatnya malu dihadapan wanita-wanita pekerja itu malah tidak merespon sentuhannya.
Sementara Diaz yang baru datang langsung membentak anak buahnya yang malah berdiri saja dan lancang menatap bos mereka dengan saling berbisik-bisik. Diaz marah karena mereka tidak melakukan pekerjaan dengan baik. "Apa yang kalian lakukan, lancang sekali menatap pemilik perkebunan tempat kalian bekerja seperti itu! Setelah pekerjaan kalian selesai, kalian harus meminta maaf kepada nona Alana Salvatore dan suaminya tuan Luca!", tegas Díaz dengan tatapan tajamnya menatap satu persatu buru tani.
Para pekerja saling pandang, terdiam dengan dengan kepala tertunduk. Tentu saja mereka merasa sangat salah telah lancang menduga pria tampan itu buru tani sama seperti mereka yang ternyata suami atasan mereka.
"Kembali bekerja!", teriak Díaz dengan tegas.
*
__ADS_1
"Apa kau tidak menyukai ciuman ku?", tungkas Alana menjauh kan dirinya dari tubuh Luca. "Apa yang kau lakukan membuka pakaian seperti itu. Apa kau biasa telanjang depan umum seperti ini?", ketus Alana.
Luca mengedarkan pandangannya ke sekitar tidak ada yang memperhatikan mereka, semua orang sibuk bekerja memetik buah anggur.
Luca menatap istrinya sambil mengangkat satu bahunya. "Aku kaget kau mencium ku. Aku tidak terlanjang, lihatlah ...suami mu masih memakai celana panjang sayang. Jadi jangan berlebihan".
"Ck. Kau lihat tadi pekerja wanita melihat mu dengan pandangan 'tergiur' melihat tubuh mu. Atau kau memang selalu tebar pesona seperti ini?!"
Luca menahan tawanya melihat istrinya kesal, ia tahu Alana cemburu pada wanita-wanita itu. "Tidak ada yang melihat kita sayang, jangan berlebihan. Kau bisa melihat sendiri kan pekerja mu sangat giat dan rajin, aku pikir kau harus memberi mereka reward agar semakin rajin bekerja", jawab Luca sambil membalikkan tubuhnya kembali memetik anggur-anggur yang sudah matang.
Alana semakin kesal, melihat tingkah Luca yang tidak memperdulikan kehadirannya. Alana menarik tangan suaminya.
"Hei, ada apa. Aku harus memenuhi keranjang-keranjang ini!"
"Hei...hei, siapa yang membuat masalah? Aku menuruti permintaan mu sayang, bekerja sebagai petani. Lihat lah satu jam aku sudah berhasil menghasilkan dua keranjang buah anggur. Masih ada tiga keranjang lagi", ucap Luca pura-pura tidak mengerti dengan kondisi istrinya yang sedang bad mood begitu.
"Aku tidak ingin kau menyelesaikan permainan ini Luc! Aku kesal pekerja-pekerja wanita itu menatap mu seperti tadi. Mereka bahkan dengan lancang menatap tubuh mu tanpa kedip sedikit pun", ucap Alana dengan suara pelan, namun terdengar jelas di telinga Luca.
Luca mendekatkan tubuhnya pada istrinya. Dan melingkarkan tangannya pada pinggang Alana. "Jadi kau cemburu pada mereka, hem?"
"Siapa juga cemburu! Aku tidak cemburu. Hanya saja tidak pantas kau telanjang dada seperti ini di tempat umum begini", jawab Alana memberikan alasan.
"Oh...begitu rupanya, hem. Kenapa kau mencium liar seperti tadi di depan umum? Apa pantas?"
__ADS_1
Alana melebarkan kedua matanya mendengar cercaan pertanyaan Luca. "Ah sudahlah. Bicara pada mu membuat ku semakin kesal saja!", ketus Alana. Berjalan cepat sambil menghentakkan kakinya meninggalkan Luca yang tertawa.
Luca mengejarnya dan langsung mengangkat tubuh istrinya ke atas Talita. Dan Luca pun melompat ke punggung kuda kesayangan istrinya itu. Duduk di belakang Alana. "Diaz urus kudanya, aku dan istriku mau berkeliling lagi", perintah Luca pada mandor yang masih mengawasi pekerja.
"Baik tuan", jawab Diaz sambil membuka topi fedora nya dan memberi hormat.
"Apa yang kau lakukan, Luc".
"Berkuda bersama istri ku, memangnya apa lagi".
Luca mengendalikan hewan jinak tersebut, tanpa menggunakan kemejanya. Laki-laki itu masih bertelanjang dada. Sementara Alana mau tidak mau menahan nafasnya. Mereka berdua begitu in*im. Bahkan Alana dapat mendengarkan helaan nafas Luca.
Alana memejamkan matanya sesaat. "Luc, aku ingin mengajak mu ke pondok ku. Letaknya di dekat danau itu". Tunjuk Alana jauh ke depan.
"Apa kita akan bercinta di sana, hem? Aku ingin kita pulang ke rumah dan menghabiskan waktu berdua di dalam kamar", bisik Luca menggoda dengan gigitan lembut ditelinga istrinya.
Tubuh Alana bergetar. Wanita itu bersusah payah menelan salivanya. Lagi-lagi Alana memejamkan matanya untuk menenangkan pikiran yang berseliweran di kepalanya, membayangkan percintaan panas dan liar dengan suaminya saat ini.
"I-ya...
...***...
JIKA ADA TYPO BESOK AUTHOR REVISI YA. UDAH NGANTUK, JADI NGGAK BISA MENGHALU HAREUDENG 🙄🤕
__ADS_1