
Pagi telah menyingsing, Laura baru saja selesai mandi di bantu Florence. Semalam ia tidur sangat nyenyak serasa ia memiliki jiwa baru yang baru saja terlahir kembali. Tubuhnya terasa bersemangat dan sehat walaupun masih merasakan sakit tapi hanya sedikit.
Dante menempatkan Laura tidur di kamar tamu. Sementara Florence tidur satu kamar dengan pelayan Dante, wanita paruh baya bernama Zora. Zora biasanya hanya datang saat pagi hari dan pulang di sore hari. Namun semalam Alex menghubungi nya untuk menginap di apartemen bosnya dan menyiapkan kamar tamu.
Zora wanita yang sangat ramah dan membantu Laura juga semalam. Zora ternyata salah satu penggemar Laura. Wanita itu menyukai peran antagonis Laura. Sementara kamar Dante berada di lantai dua apartemen mewah itu.
Laura menatap wajahnya di depan meja hias. Florence membantu Laura mengikat rambutnya. Tubuh Laura sekarang sudah jauh lebih baik di bandingkan kemarin, luka dan memar di wajahnya sebagian hanya terlihat samar, sebagian lagi sudah mengering tidak ada lagi luka terbuka dan basah. Semuanya berkat krim yang diberikan dokter Hudini. Telapak
kaki Laura juga sudah tidak terasa perih lagi saat ditapakkan, namun saat berjalan kakinya masih terpincang-pincang.
Florence mengganti perban di bahu Laura. Ia juga membantu Laura memakai tank top tali spaghetti berwarna putih dan short pants berbahan katun lembut. Sebelum itu Florence menyapukan krim pada luka-luka di tubuh bagian belakang Laura akibat cambukan sabuk Escobar. Sekarang Laura tidak merasakan perih lagi.
Wajahnya terlihat lebih segar, tidak seperti kemarin.
"Florence, maukah kau membantu ku di pantry? Aku akan membuat sarapan", ucap Laura dengan suara lembut.
"Tentu saja nona. Hm...apakah nona bisa memasak?", tanya Florence sedikit meragukan kemampuan Laura. Karena yang ia tahu Laura seorang artis yang berpenampilan sangat glamor. Sangat berbeda dengan saat ini. Laura seperti wanita rumahan pada umumnya. Bahkan ia mau memasak.
"Iya. Kau harus mencoba masakan ku kemudian kau boleh berkata yang jujur tentang rasanya. Tapi kau harus membantuku karena aku hanya bisa mengunakan satu tangan saja", ucap Laura tersenyum.
"Baik nona. Kalau begitu ayo kita ke pantry", jawab Florence tersenyum sambil membantu Laura berdiri dan berjalan. Tapi Laura menolaknya bantuan pelayan itu.
"Aku harus berlatih mengerakkan tubuh ku sekarang. Ayo kita lihat bos mu memiliki apa saja di pantry", ucap Laura tersenyum.
"Selamat pagi nona Laura", sapa Zora yang sedang menyiapkan minuman untuk Dante.
"Pagi bibi Zora. HM... aroma kopinya harum sekali. Bibi sedang membuat apa?"
__ADS_1
"Espresso machiatto, Kopi dengan sedikit campuran susu yang dikocok. Rasanya pekat sedikit pahit. Tuan Dante sangat menyukainya. Setiap pagi hari tuan selalu meminta kopi susu seperti ini. Jika sore hari biasanya tuan meminum jus lemon sambil berolahraga", ucap Zora. Sambil menata minuman.
"Bibi, bolehkah aku memasak sarapan pagi ini? Florence akan membantuku. Bibi bisa mengerjakan tugas lainnya", tanya Laura meminta izin pada Zora.
Zora tersenyum mendengarnya. "Tentu saja boleh sayang. Tapi apa tubuh nona tidak sakit lagi? Nanti bibi bisa di marah tuan jika kondisi nona memburuk".
"Aku baik-baik saja bibi. HM...Dante suka jenis makan pagi apa?", tanya Laura.
"Tuan biasanya suka Sandwich dengan keju dan daging atau telur", jawab Zora.
"Oke, sekarang bibi melanjutkan kerja yang lain. Urusan makan pagi biar aku yang membuatnya. Kita berbagi tugas, agar aku merasa tidak seperti benalu saja tinggal di sini", ucap Laura dengan mimik wajah lucunya.
Setelah deal dengan Zora Laura di bantu Florence berkutat di pantry.
Apa yang bisa ia lakukan sendiri Laura tidak akan meminta bantuan Florence. Namun saat kesulitan karena bahu sebelah kiri masih terasa sakit, Laura baru meminta bantuan Florence.
"Nona membuat apa?", tanya Florence sambil membuat adonan roti sesuai petunjuk Laura.
*
Dante menyemprotkan parfum beraroma Citrus ke tubuh atletisnya. Kemudian memasang jam tangan mahal. Sekali lagi ia menelisik penampilannya di depan cermin berukuran besar di kamarnya yang bernuansa biru dongker dan abu-abu.
Dante mengambil handphone dan iPad-nya di nakas kemudian keluar kamar hendak sarapan di bawah.
Saat turun tangga netra nya menangkap sosok Laura yang masih nampak terpincang-pincang menata makanan di atas meja. Laura nampak berbeda pagi ini di mata Dante. Gadis itu nampak lebih segar tidak pucat seperti kemarin, namun tidak juga seperti saat biasanya Dante lihat Laura datang ke club nya. Dengan makeup tebal dan berpakaian yang mengekspos sebagian tubuhnya.
Laura yang berada di apartemen nya saat ini seperti gadis belia biasa seumuran nya. Dengan pakaian rumahan apa adanya. Wajahnya pun nampak polos tak tersentuh makeup sama sekali, sementara rambutnya diikat. Dante sempat tercekat menatap Laura.
__ADS_1
"Selamat pagi tuan", ucap Florence yang baru keluar dari pantry dan melihat Dante menuruni tangga.
"Pagi", jawab Dante tersenyum tipis.
"Apa yang kau lakukan? Bukannya kau masih harus banyak istirahat?", tanya Dante sekilas menatap Laura yang menuangkan espresso dan memberikan gelas kehadapan Dante.
"Aku membantu bibi Zora di pantry. Aku tidak enak jika hanya berdiam diri saja Dante. Aku seperti benalu saja. Kau sudah menampung ku di apartemen mu", ucap Laura menyesap espresso yang di buat Zora. "HM... ternyata enak sekali. Aku harus belajar cara membuat minuman ini pada bibi Zora", ucap Laura tersenyum manis.
Dante menatapnya sambil menautkan alisnya. Dante menggigit sandwich miliknya. Terlihat Zora hendak menaiki tangga ke kamarnya. "Sandwich buatan mu terasa berbeda Zora", ucap Dante sambil memakan dengan lahap.
"Nona Laura yang membuatnya tuan. Saya sudah melarangnya tapi nona Laura memaksa", jawab Zora.
"Oh ya? Kau bisa memasak?", tanya Dante menatap Laura yang duduk di depannya sambil menyesap espresso.
"Memasak adalah hobi yang harus aku tinggalkan. Sedari kecil ayahku mengajari aku memasak. Ayahku seorang chef, ia memiliki restoran. Restoran biasa saja bukan restoran mewah. Saat usiaku lima belas tahun kedua orangtuaku bercerai. Aku bersama ibuku, sementara ayahku kembali ke negara asalnya di Australia. Sejak saat itu aku di larang ibuku berada di dapur. Ia berambisi menjadikan aku seorang artis ternama. Pada akhirnya aku menuruti kemauannya dan mengubur dalam-dalam impian ku untuk memiliki sebuah restoran seperti daddy".
Dante menyimak cerita Laura. "Kenapa tidak dua-duanya saja kau jalani menjadi artis yang memiliki sebuah restoran?".
"Kau tidak mengenal ibuku. Antoinette sangat ambisius. Lihatlah aku sekarang seperti apa. Ia menjual ku pada Escobar bahkan laki-laki itu memperlihatkan surat yang di tandatangani ibunya. Escobar membayar sejumlah uang yang banyak pada mommy. Sore itu aku melihatnya berkemas dengan membawa semua barang-barang nya. Ia bilang, mendapatkan investor untuk usahanya", ucap Laura dengan mata berkaca-kaca.
"Dan bodohnya aku pada akhirnya terjebak dan mengikuti semua kemauannya. Bahkan ia sering kali mengatakan aku bodoh seperti ayah ku", lirih Laura sambil memalingkan wajahnya. Perlahan jemari tangannya mengusap air matanya.
Dante melihat kepedihan mendalam yang di rasakan gadis itu. Hati Dante menghangat mendengar cerita kehidupan Laura. Ternyata hidupnya sangat tersiksa selalu di bawah tekanan Antoinette. Batin Dante.
Dante spontan menggenggam jemari tangan Laura. "Tenangkan diri mu. Sebaiknya kau makan dan minum obatmu. Aku harus kekantor sekarang karena ada meeting. Nanti jam sepuluh sopir ku akan menjemputmu. Tidak perlu kuatir bodyguard akan mengawal mu. Xavi dan timnya akan menemani mu melakukan visum", ucap Dante melepaskan genggaman tangannya dan berdiri. "Terimakasih sarapan pagi nya, sangat lezat. Aku menyukainya", ucap Dante tersenyum.
Laura membalasnya dengan senyuman juga. "Terimakasih untuk semuanya Dante", ucap Laura menatap punggung lebar Dante keluar apartemen mewah itu.
__ADS_1
...***...
MUMPUNG ADA VOTE, BAGI BRIDESMAID YA🙏