BRIDESMAID

BRIDESMAID
DUA TEMPAT YANG BERBEDA


__ADS_3

Milan, Italia


Dante menyandarkan punggungnya menatap tajam wanita paruh baya yang berdiri angkuh di hadapannya.


Alex mempersilahkan nya duduk tapi dengan ketus Antoinette menolaknya. "Beri tahu di mana putri ku sekarang! Atau kalian semua aku laporan pada polisi telah menculik putriku Laura", ketus Antoinette melayangkan ancamannya pada Dante dan Alex.


Dante tersenyum sinis mendengarnya. "Ternyata anda ketinggalan berita. Apa kau tidak mengikuti perkembangan berita bahwa Laura sudah melaporkan Dominic Escobar kemarin. Kau tahu artinya itu? Artinya kebebasan mu sebentar lagi pun terancam juga karena keterlibatan mu atas terjadinya pemerkosaan Escobar terhadap Laura".


"Perlu aku tegaskan di sini. Aku akan memberikan dukungan penuh kepada kekasih ku Laura Mancini kau suka atau pun tidak ada pengaruhnya bagi hubungan kami".


Antoinette terdiam mendengar ucapan Dante. Ia tahu siapa Dante, namun ia tidak menyangka ternyata Laura menjalin hubungan dengan laki-laki itu. Entah sejak kapan. Selama ini Antoinette melarang Laura menjalin hubungan menggunakan perasaannya. Ia boleh berhubungan dengan orang kaya yang bisa menunjang karier nya agar tetap eksis dalam waktu yang lama. Namun, hanya Luca saja yang Antoinette restui untuk menikahi putrinya.


"Tidak ada seorang ibu yang tega menjual putrinya sendiri demi keegoisan dirinya. Mulai saat ini tidak akan ku biarkan kau menyakiti kekasih ku. Atau kau berurusan dengan ku, NYONYA!", tegas Dante menghunuskan tatapan tajamnya pada Antoinette yang terdiam mendengarkan perkataan Dante.


"Setelah permasalahan yang membelit Laura selesai, kami akan menikah tanpa atau ada restu dari mu. Buat Laura restu ayahnya lah yang terpenting. Setelah ini aku pastikan kau tidak akan pernah bisa lagi mengusik kehidupan Laura. Aku tidak akan pernah membiarkan perbuatan keji mu pada Laura berlangsung selamanya sekehendak hati mu. Selama ini aku tahu Laura Mancini karena ia bertunangan dengan sahabat baik ku Luca Barzini Corleone. Namun aku baru beberapa waktu yang lalu mengenal Laura saat aku menyelamatkan nya ketika melarikan diri dari sekapan Dominic Escobar dalam kondisi memprihatinkan. Aku mengenal Laura sebagai gadis yang sangat baik. Tidak butuh waktu yang lama untuk aku mencintai nya", tegas Dante.


"Kau tidak bisa memiliki Laura sepenuhnya. Ia putri ku. Aku yang melahirkannya!"


"Kemudian kau gunakan sebagai pengeruk uang bagi mu? Memuaskan keinginan mu? Tidak akan ku biarkan itu terjadi lagi. Langkahi dulu mayat ku, jika kau masih berpikiran seperti itu!", seru Dante dengan tegas.


*


Florence, Italia

__ADS_1


Pesawat yang membawa Felipe dan kekasihnya Valeria telah mendarat di Amerigo Vespucci Peretola Airport, Florence Airport.


"Felipe, Sebaiknya kita langsung saja menemui orang tua ku. Aku ingin memberikan kejutan untuk mereka", ucap Valeria menggenggam erat tangan Felipe saat keduanya berada di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang.


"Oke. Aku tidak pernah membayangkan akan memiliki kekasih yang berasal dari kota seniman ini. Dulu aku memiliki guru lukis berasal dari kota ini yang mengajarkan tehnik dalam melukis. Hingga aku bisa menyalurkan bakat melukis ku dengan baik".


"Sayang, kita akan segera sampai di rumah orang tua ku. Itu rumah nya", ucap Valeria antusias menunjuk bangunan dua lantai berwarna krem yang terlihat asri karena banyak nya tanaman bugenvil berwarna fanta yang tumbuh di depan bangunan tersebut. Valeria tidak mengubris ucapan Felipe beberapa saat yang lalu.


Kedua netra biru terang Felipe melihat ke samping rumah berdiri sebuah galeri. Felipe membaca plang nama berukiran yang sangat artistik itu. "Valeria Art", gumam Felipe mengeryitkan alisnya membaca plang nama tersebut.


"Itu galeri ayah ku. Ayah ku seorang seniman lukis. Ia memberi nama galeri nya dengan namaku. Sangat kebetulan sekali, kekasih ku seorang yang hobi melukis juga", ujar Valeria tersenyum.


"Itu namanya kita berjodoh. Ayo segera kita temui orang tua mu. Aku tidak sabar berkenalan dengan ayah mu yang seorang pelukis. Sehebat apa lukisan nya", ucap Felipe sarkas.


Beberapa saat kemudian..


"Sayang, kau pulang ke Florence? Bagaimana syuting film mu?", ucap seseorang wanita paruh baya yang menghampiri Valeria dan Felipe dengan senyuman menghiasi wajahnya.


Sesaat kemudian perhatiannya beralih pada sosok laki-laki tampan di sebelah Valeria. "Siapa laki-laki tampan ini, Valeria sayang?"


"Ini Felipe, kekasih ku ma. Sebaiknya kita bicara di dalam"


"Benar kah sayang? mama senang mendengarnya. Kekasih mu sangat tampan", ujar Cicilia menatap Felipe tersenyum hangat. Dan dengan ramah mempersilahkan Felipe masuk kedalam rumah mereka.

__ADS_1


"Apa papa ada, ma?"


"Seperti biasa, jam begini papa mu berada di galeri nya", jawab jawab Cicilia memeluk putri kesayangan masuk ke dalam rumah.


Felipe langsung mengedarkan pandangan matanya pada lukisan-lukisan indah yang menghiasi dinding ruangan tamu rumah itu. Mau tidak mau Felipe melihat lebih dekat lukisan-lukisan itu. Entah kebetulan atau tidak ternyata lukisan ayah Valeria juga beraliran impresionisme juga. Sama seperti Felipe. Lukisan dengan pemandangan alam di pedesaan, serta lukisan lautan dengan ombak yang bergelung sangat indah sekali. Kedua netra Felipe tak mau lepas dari lukisan-lukisan bernilai seni tinggi itu.


Kedua netra biru Felipe menatap tulisan kecil di bawah lukisan. Raut wajahnya berubah seketika dan beralih menatap lekat Valeria yang sedang berbicara dengan mamanya.


Menit berikutnya...


"Apa putri kesayangan ku sudah kembali lagi ke rumah ini?"


"Papaa...", ucap Valeria beranjak dan menghambur kepelukan ayahnya. Laki-laki paruh baya yang terlihat masih tampan juga memeluk erat tubuh Valeria dan mencium pucuk kepalanya.


Felipe membalikkan badannya, melihat pemandangan itu. Kedua matanya menatap lekat laki-laki yang sedang memeluk erat tubuh Valeria.


"Paman Lucien...?"


...***...


UDAH 3 BAB LOH 🤭


MASIH MAU UP LAGI?

__ADS_1


TINGGALKAN JEJAK YA 🙏


__ADS_2