BRIDESMAID

BRIDESMAID
KONDISI ANTOINETTE


__ADS_3

"Mommy..."


"Aku harus ke sana", teriak Laura histeris begitu melihat Antoinette di tembak dari belakang oleh Escobar dalam jarak dekat melalui layar televisi di apartemen Dante. Tubuh Laura gemetaran, sementara air matanya tak terkontrol lagi. Berurai membasahi pipinya.


Laura lari menuju pintu. Tanpa perduli pada sekitar nya. Bahkan pada Dante yang berada di dekatnya.


"Laura tunggu. Kita pergi bersama", teriak Dante mengambil kunci mobilnya dan berlari mengejar Laura.


"Kemari. Tenangkan diri mu. Aku akan menemani mu Laura", ucap Dante menarik tangan kekasihnya itu yang menekan-nekan tombol di pintu lift yang tidak terbuka juga. Dante memeluk tubuh Laura yang bergetar hebat kedalam dekapan nya.


Laura tidak bisa menahan dirinya lagi, ia menangis sejadi-jadinya. Dante memeluk bahunya menuju mobil yang dikendarai sopir.


"Langsung ke rumah sakit sekarang", perintah Dante sesaat setelah ia berkomunikasi kasih dengan Xavi melalui handphone miliknya.


"B-bagaimana keadaan nya?", lirih Laura dengan suara nyaris tak terdengar.


Dante menggenggam erat tangan kekasihnya itu. "Tenanglah sayang. Kita akan segera mengetahui keadaan mommy mu", ucap Dante sambil menyandarkan kepala Laura ke bahunya. Perlahan jemari tangan Dante mengusap lembut wajah Laura.


"Huhh..


Terdengar helaan nafas Laura.

__ADS_1


"A-ku sangat membenci mommy beberapa hari terakhir, namun ternyata mommy menunjukkan kepedulian nya pada ku. Sejujurnya aku ingin berkumpul dengan mommy dan daddy... Memiliki keluarga harmonis, meskipun mereka tidak bisa bersama lagi. Aku sangat menginginkan hubungan ku dengan kedua orang tua ku baik-baik saja", ucap Laura tertunduk. Sementara jemari tangan Dante menggenggam tangan Laura.


Dante mengecup pucuk kepala Laura. Memberikan ketenangan untuknya. Meskipun Dante tahu setelah mengetahui keadaan Antoinette yang sebenarnya akan membuat Laura histeris dan sedih.


Dante memeluk bahu Laura saat tiba di rumah sakit. Melihat kedatangan Laura, wartawan yang berkerumun di sana langsung menyerbu Laura. Namun orang-orang Dante segera memberikan pengawalan ketat.


Dante yang melihat Xavi sedang berbincang dengan dokter di depan pintu ICU segera menghampiri mereka.


"Bagaimana?", tanya Dante sambil memeluk bahu Laura karena ia tahu kabar yang akan mereka dengar pasti akan membuat Laura syok.


"Nyonya Antoinette kondisinya sangat parah. Peluang hidupnya sangat tipis karena satu peluru mengenai organ vital", ucap Xavi dengan wajah serius.


Sontak penjelasan Xavi membuat kaki Laura lemas dan tubuh nya limbung. Beruntung Dante memegangi nya.


"Silahkan, anda bisa melihat pasien. Kondisi pasien kritis , dan kami belum bisa melakukan operasi pengangkatan peluru yang bersarang di karena sangat berbahaya", ujar dokter menjelaskan pada Laura dan Dante.


"Apa kau siap melihatnya?", tanya Dante.


Laura menganggukkan kepalanya. "Apa pun yang terjadi aku harus siap. Aku tidak tahu berapa lama mami akan bertahan seperti itu", jawab Laura.


Dante menganggukkan kepalanya. Dan memeluk pinggang Laura masuk ke ruangan khusus dimana Antoinette di rawat. Dante setia menemani Laura menghadapi masalah yang membelit nya.

__ADS_1


Laura menutupi mulutnya dengan kedua tangannya yang gemetaran melihat kondisi Antoinette. "Mom..."


Terlihat mulut, hidung hingga tubuh yang lainnya dipenuhi oleh selang-selang medis penunjang hidup Antoinette.


Tanpa di kehendaki Laura air matanya menetes membasahi wajahnya. "Mom, maafkan aku sempat membenci mu...bahkan sangat membenci mu", Isak Laura sambil menyandarkan wajahnya pada bahu Antoinette yang tak terluka.


"Aku mengira mommy tidak akan pernah mencintai ku. Maafkan aku mom", ucap Laura dengan suara bergetar. Sementara Dante mengusap punggungnya dengan lembut.


Tak ada respon dari Antoinette, wanita itu terkulai lemah di atas ranjang khusus dengan mata terpejam dalam kondisi memprihatinkan.


Hingga sesaat kemudian tiba-tiba tubuh itu tersentak dan kejang. Ritme di monitor pun berubah


dan berdetak cepat.


Laura berdiri menjauh dari rajang. Terdiam dengan tubuh syok dan gemetaran. Tak ada isak tangis tetapi buliran bening terus mengalir deras.


Sementara Dante menekan tombol darurat. Dokter dan perawat berlarian masuk ke kamar memberikan pertolongan pada pasien.


Menit berikutnya kedua mata Antoinette terbuka.


"L-Laura.."

__ADS_1


Antoinette dengan terbata-bata memanggil Laura. Dengan kesedihan mendalam Laura mendekati nya dan menggenggam erat tangan Antoinette.


Dengan menahan sakit di tubuhnya, terlihat Antoinette memaksakan diri untuk tersenyum. "M-Maaf kan mom. K-kau harus bahagia N-nak...


__ADS_2