
Dokter Hudini baru saja selesai memasang infus dan mengaitkannya ke atas besi yang biasa tempat Dante menyampirkan jas dan jaketnya. Semua darurat. Namun setidaknya lebih baik supaya Laura cepat sadar dan pulih.
Wanita itu masih belum sadarkan dirinya. Semua pakaiannya sudah di ganti dengan kemeja milik Dante oleh seorang pelayan wanita yang dapat di percaya menurut Alex.
"Kondisi pasien sangat mengkuatirkan, Dante. Menurut diagnosa ku ia mengalami tindak kekerasan pemerkosaan. Melihat memar-memar tubuhnya sepertinya ia melakukan perlawanan. Luka di bahunya itu akibat angin peluru yang melesat sangat kencang, mungkin ditujukan untuk menembak wanita ini namun tidak mengenai tubuhnya. Luka-luka memanjang lainnya aku kira bisa jadi dari cambukan tali atau sabuk. Mungkin orang yang melakukannya seorang yang mengindap kelainan se*sual yang menjadikan Laura objek permainan se*s yang bisa membuatnya puas".
"Untuk memastikan lebih akurat lagi kita harus melakukan visum", ujar Hudini menjelaskan dengan rinci pada temannya Dante dan Alex yang ada di kamar itu.
"Tidak perlu. Aku kira diagnosa mu sangat jelas dan cukup, bahwa sekarang wanita ini dalam bahaya. Berapa lama ia akan mendapatkan kesadarannya?", tanya Dante.
"Tidak akan lama lagi, karena obatnya sudah bereaksi saat ia di infus", jawab Hudini.
"Apa kau mengenal keluarga nya atau kau akan terus merawatnya? Setelah sadar biasanya pasien akan mengalami traumatis setelah menerima tindakan kekerasan seperti ini. Pasien tidak bisa di tinggalkan seorang diri".
"Aku tidak tahu. Tapi aku akan menghubungi orang yang mengenalnya", jawab Dante sekilas menatap Laura yang sudah mulai menggerakkan tangannya.
"Well, pekerjaan ku sudah selesai. Sekarang sudah malam aku pamit pulang", ucap Hudini.
Dante menganggukkan kepalanya. "Terimakasih teman. Salam buat Ciarya dan keponakan ku yang tampan", jawab Dante.
"Kau harus sering mengunjungi keponakan mu, ia sangat merindukan pamannya", balas Hudini menepuk bahu teman baiknya itu.
*
Malam semakin larut. Ketika kebanyakan orang sudah terlelap tidur. Beristirahat mengembalikan kondisi tubuh.
Begitupun Luca yang pulas sambil mendekap tubuh Alana.
Tiba-tiba terdengar getaran Handphone miliknya di nakas. Ruangan gelap seketika terang dari cahaya handphone.
Luca kaget dan segera mengambil handphone nya. Tertera nama Dante di layar. Jam handphone menunjukan pukul dua dini hari.
__ADS_1
Alana yang kaget membuka kedua matanya juga dan menarik selimut menutupi tubuhnya. "Sayang siapa yang menghubungi mu malam begini?".
"Ada apa Dante menelpon ku tengah malam begini?", gumam Luca sambil menghidupkan lampu di nakas sebelahnya.
"Angkat lah siapa tahu penting".
"Iya. Dante tidak pernah iseng menghubungi ku, tidak seperti Felipe yang suka iseng".
Luca menggeser tanda hijau. "Ada apa Dante?"
"Luc, maaf mengganggu mu tengah malam begini. Aku menemukan Laura Mancini beberapa jam yang lalu. Aku tidak tahu harus menghubungi siapa, yang aku tahu hanya kau dan Alana yang mengenal keluarga nya", ucap Dante. Ia pun menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada Luca dan kondisi Laura saat di temukan hingga saat ini.
Luca nampak berpikir dan menatap Alana yang juga menatapnya. "Aku akan mengatakan pada istriku dulu. Aku juga tidak tahu harus menghubungi siapa", jawab Luca sebelum telpon itu terputus.
"Ada apa sayang? Kenapa Laura?", tanya Alana ingin tahu.
Huhh ..Luca menarik nafasnya dan menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur.
"Dante dan asistennya menemukan Laura dalam keadaan terluka parah di perbatasan Milan. Wanita itu berusaha meminta tolong dengan menghadang mobil. Kebetulan itu mobil Dante dan Alex asisten nya. Saat ini Laura di bawa ke club milik Dante yang tidak jauh dari penemuan Laura. Dan sudah di periksa dokter yang mengatakan ia mengalami tindak kekerasan dan pemerkosaan".
"Dante tidak tahu harus menghubungi siapa selain aku dan diri mu, ia tidak mengenal keluarga ataupun teman-teman Laura", ucap Luca.
"Sebaiknya aku hubungi Antoinette sekarang", ucap Alana mengambil handphone miliknya di laci nakas sebelahnya.
Alana pun mencari kontak wanita yang sempat menjadi ibu tirinya itu. Beberapa kali Alana hubungi nomor yang ada padanya tidak tersambung. Hanya terdengar nada sibuk saja.
"Tidak tersambung", ujar Alana menatap suaminya.
"Besok kita pikirkan, sekarang sebaiknya kita tidur lagi kau harus banyak beristirahat. Kemari lah", ucap Luca menarik tubuh istrinya dalam dekapannya. Luca mengecup lembut pucuk kepala Alana.
"Luc, boleh kah aku melihat Laura besok? Laura memang jahat pada ku selama ini, tetapi saat ini aku ingin tahu apa yang terjadi padanya. Kenapa ia sampai di perkosa dan berakhir di hutan perbatasan itu. Siapa yang telah memperkosanya dengan kejam".
__ADS_1
"Huhh.. Laura pergaulannya terlalu bebas, Lana. Mungkin kali ini ia tidur dengan laki-laki yang ternyata jahat", ucap Luca sambil memejamkan matanya sambil mengusap punggung polos Alana.
"Tapi kita tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya Luc. Bukankah kau pernah bilang kita tidak boleh menjudge seseorang dari luar nya. sejahat-jahatnya seseorang jika tiba waktunya untuk sadar pasti akan menjadi baik?", ucap Alana pelan sambil mengusap-usap perut sixpack suaminya.
"Baiklah, besok aku akan mengantarmu melihatnya. Tapi aku tidak mau kau terlibat terlalu jauh dengan Laura dan Antoinette yang akan membebani pikiran mu nantinya. Aku tidak mau ada apa-apa dengan mu dan anak ku. Aku ingin hidupmu tenang dan bahagia bersama ku, Lana".
"Iya sayang. Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi padanya, kenapa bisa mengalami hal buruk seperti itu", jawab Alana.
"Hem. Sekarang tidur lah. Tidak usah memikirkan tentang Laura, dia sudah aman bersama Dante".
"Iya Luc...
...***...
VOTE LIKE KOMEN KOPI DAN BUNGA YA 🙏
*
YUK BACA JUGA :
PENGANTIN PENGGANTI
MARRIAGE AGREEMENT
AIR MATA SCARLETT
SERPIHAN HATI ELLENA
MENJADI YANG KEDUA
__ADS_1
FIRST LOVE LAST LOVE