
Dante sedang bersantai di ruang kerjanya. Hari ini jadwalnya tidak begitu padat sehingga ia membuka MacBook yang terhubung CCTV apartemen nya.
Dante mencari keberadaan kekasihnya Laura. Semenjak Laura berada di dekat nya, pikiran nya selalu diisi wajah cantik kekasihnya itu.
Dante sangat mencintainya. Laura yang bersamanya benar-benar wanita baik, polos apa adanya tidak di buat-buat karena tuntutan peranan. Setiap hari Laura menghabiskan waktunya di pantry memasak makanan dan membaca buku atau pun menonton film-film horor kesukaannya.
Sempat beberapa hari yang lalu Dante menggodanya, mengajak ia menonton film yang di bintangi nya dengan sangat berani. Namun Laura dengan tegas tidak mau.
"Dante aku mohon. Setiap beradegan panas, aku melakukan nya dalam keadaan mabuk. Aku tidak pernah pakai perasaan saat beradegan seperti itu. Saat itu mommy meminta ku melakukannya demi popularitas dan uang. Aku benar-benar menyesal. Di saat aku benar-benar menemukan tambatan hati ku apa yang pernah aku lakukan dulu akan selalu menghantuiku. Itu lah hal yang sangat aku sesali dalam hidup ku sekarang", ucap Laura malam itu dengan wajah muram.
Dante menyukai kejujuran Laura. Apapun selalu ia ceritakan padanya. Hingga Dante mengatakan akan membantu Laura menghapus memori buruknya. Salah satunya Dante menunjukkan bahwa ia benar-benar menerima Laura apa adanya.
Sekarang Dante mencari keberadaan kekasihnya itu di layar monitor. Netra hitam tajam itu menatap penjuru apartemen nya. Dante tersenyum saat menemukan keberadaan wanitanya itu, tak lain di pantry sedang membuat sesuatu. Tentunya untuk mereka santap bersama nanti.
Beberapa menit kemudian, Dante melihat Laura telah selesai beraktivitas di pantry. Terlihat gadis itu menaiki tangga menuju ruangan pribadi Dante. Laura tidak akan tahu bahwa ia sedang di perhatikan sepang mata tajam melalui kamera CCTV yang terpasang tersembunyi di seluruh ruangan apartemen itu.
__ADS_1
Dante menatap lekat Laura. Ia penasaran apa yang akan di lakukan kekasihnya itu saat ini. Karena Dante selalu ngajak Laura tidur di kamarnya namun dengan berbagai alasan Laura menolaknya secara halus. Bahkan selama tinggal bersama tak satu kali pun Laura menginjakkan kakinya ke lantai dua apartemen Dante. Jika ingin bersama, keduanya lebih banyak menghabiskan waktu berpelukan dan berciuman di sofa atau di balkon yang menjadi tempat favorit keduanya.
Dante tahu perasaan trauma masih ada dalam diri Laura, maka itu Dante tidak pernah memintanya lebih. Entah lah Dante sangat berbeda memperlakukan Laura. Jika dengan perempuan lain, pasti sudah lama di tinggalkan nya. Karena selama ini Dante tidak pernah mau berkomitmen. Wanita baginya hanya pelengkap hidupnya saja, mengisi kekosongan hatinya saja tak lebih.
Namun bersama Laura ia bisa menekan ego-nya. Dante menuruti semua keinginan Laura yang sebenarnya memang baik untuk sebuah hubungan yang serius. Mereka tidak melakukan hubungan in*im hingga kini. Dan ternyata Dante bisa menerimanya.
Terlihat Laura berjalan melihat semua yang ada di lantai dua. Ruang kerja hingga ruang fitness yang menyatu dengan kolam renang berukuran luas, sepanjang bangunan apartemen itu.
Hingga Laura berakhir di sebuah pintu megah berwarna abu-abu tua. Laura memutar handle pintu tersebut dan memejamkan matanya. Perlahan ia melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar Dante untuk yang pertama kalinya.
Kedua netra coklat terang itu berhenti pada sebuah foto yang berada di nakas sebelah tempat tidur. Terlihat foto Dante dengan seorang wanita cantik mungkin seusia dirinya. Sangat mesra. Dante mencium wajahnya dan melingkarkan tangannya pada bahu wanita itu.
Laura menatap lekat foto di tangannya, 'Dante sangat akrab bersama gadis ini, siapa dia? Apa kekasihnya yang aku tidak ketahui?", ucap Laura pelan dengan mata berkaca-kaca Laura menaruh kembali foto itu di tempatnya.
Laura merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan tubuh meringkuk seperti bayi. Tiba-tiba kristal bening keluar dari pelupuk matanya.
__ADS_1
"Aku tidak berhak untuk menangisi semua ini. Aku sadar, aku bukan wanita baik-baik. Tidak ada hal istimewa yang bisa aku berikan pada Dante selain cintaku saat ini", ucap Laura dengan jelas. Dante yang menatap lekat dirinya melalui layar bisa mendengar ucapan Laura dengan jelas.
Dante mengusap dagu sambil menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya di ruang kerja. Sesaat ia memejamkan matanya. Hingga terdengar ketukan di pintu.
"Masuk!"
Terlihat wajah Alex. "Maaf tuan, di lobby ada nyonya Antoinette ingin bertemu dengan anda. Apakah saya izinkan ia menemui tuan atau mengusir nya?. Tanya Alex memberitahu bos-nya itu. Untuk urusan seperti ini tentu saja Alex tidak berani mengambil keputusan sendiri.
Dante menegakan posisi duduknya dengan tangan berada di atas meja kerjanya. "Biarkan masuk, tapi periksa dulu wanita itu dengan teliti sebelum ia melangkahkan kakinya keruangan ku", perintah tegas Dante.
...***...
HAI JIKA MAU UP LAGI, GENCARKAN KEAKTIFAN ANDA π
VOTE LIKE KOMEN KOPI DAN BUNGA DONGπ
__ADS_1