BRIDESMAID

BRIDESMAID
FIVE COUPLES


__ADS_3





Xavi, pengacara terkenal yang karirnya sedang menanjak. Sementara Kekasihnya Cyara seorang dokter gigi.



Paolo dan Favela sudah menikah 3 tahun belum memiliki anak. Paolo pengusaha di bidang software, sementara Favela seorang Presenter terkenal di Spanyol.


*


Keesokan harinya...


Pagi-pagi sekali Laura membuka matanya. Ia merasakan tubuhnya semakin baik-baik saja.


Jiwa raganya terasa lebih tenang dan bahagia sekarang. Laura memeluk bantalnya menutupi wajahnya. Jemari tangannya menyentuh bibir dan lehernya yang semalam di cium mesra Dante. Dante mencium bibir hingga lehernya dengan sangat hebat. Namun seketika bayangan wajah Escobar pun menari-nari di kepala Laura membuatnya meminta Dante menghentikan ciumannya.


Dan Dante menurutinya. Ia tahu Laura masih trauma atas apa yang dialaminya. Hingga Dante mengajak Laura tidur di kamarnya, namun lagi-lagi Laura menolaknya dengan halus.


"Aku tidur mendengkur, pasti akan mengganggu mu", ucap Laura sambil memeluk pinggang Dante.


"Aku menyukai gadis yang tidurnya mendengkur. Pasti sangat menggemaskan", jawab Dante menggodanya semalam.


Pada akhirnya keduanya tidur di kamar masing-masing. Dante tidak akan memaksakan kehendaknya, karena ia sangat tahu Laura mengalami hari-hari yang sulit. Jika gadis itu menginginkannya tentu ia tidak akan menolak.


Perlahan perasaan Dante terbuka untuk menerima kehadiran Laura di relung hati terdalam nya. Mungkin tepat nya setelah beberapa hari kebersamaan mereka. Dan Laura menceritakan tentang kehidupannya. Dante pun melihat sendiri bagaimana perilaku Laura yang sebenarnya. Hanya seorang gadis cantik, apa adanya. Bahkan Laura berniat menanggalkan semua kehidupan glamornya yang selama ini melekat pada dirinya. Ia mau melanjutkan impiannya memiliki restoran dan berkecimpung di dalamnya secara langsung.


Bagi Dante itu merupakan planning yang sangat bagus.

__ADS_1


Laura meluruskan tangannya. Bahu yang terluka, tidak menggunakan perban lagi karena luka berangsur kering dan tidak terasa sakit lagi. "Sebaiknya aku mandi saja, aku bisa melakukannya sendiri", gumam Laura bersemangat bangkit dari tempat tidur. Karena Florence sudah di suruh Dante kembali ke club milik nya kemarin setelah dari perusahaan nya.


"Kemudian aku akan membuat sarapan pagi karena bibi Zora semalam kembali ke rumahnya. Ia akan datang pagi dan pulang sore hari seperti jadwal biasanya", ucap Laura melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Tapi sebelumnya ia menyiapkan pakaian ganti dress pendek model Sabrina yang memperlihatkan bahunya. Semua pakaian itu disiapkan oleh asisten Dante, Alex. Mengingat Laura di larang kembali ke apartemen nya karena Dante dan teman-temannya meyakini itu adalah tempat pertama yang tidak akan lepas dari pengawasan orang-orang Escobar.


*


Sinar matahari pagi menyentuh wajah laki-laki yang tertidur tertelungkup di kamar mewah bernuansa biru dongker dan abu-abu itu.


Dante mengerjapkan kedua netra hitamnya. Menggeliatkan tubuhnya dan bangun dari tidurnya.


Dante duduk di tepian tempat tidur dan mengambil iPad-nya di nakas, membaca jadwalnya hari ini yang sudah dikirim Alex.


"Aku harus mandi sekarang, ada meeting jam sepuluh", ujar Dante beranjak langsung menuju kamar mandi.


*


Laura terlihat cekatan mengolah masakannya. Ia merasakan tubuhnya benar-benar sudah membaik sekarang. Semuanya tak lain berkat obat-obatan yang diberikan oleh dokter Hudini. Hanya kakinya saja yang masih terasa linu karena diforsir untuk berlari sekuat tenaga waktu itu.


Laura membuka oven dan membalut jemari tangannya dengan sarung tahan panas yang tebal untuk mengeluarkan loyang yang sudah berisi croissant matang.


"Apa kau membutuhkan bantuan, hem". Suara berat Dante sudah ada berada di belakang Laura.


Laura merasakan jemari tangan laki-laki itu membantunya membuka tali apron. Tubuhnya begitu dekat. Sambil tangannya bekerja, Dante mendaratkan sebuah ciuman mesra di leher hingga bahu Laura yang terekspos. Laura mengikat rambutnya tinggi-tinggi, membuatnya begitu seksi seperti gadis rumahan pada umumnya.


"Apa yang kau buat, hem?"


"Aku membuat croissant. Semoga kau menyukainya".


Laura tersenyum sambil menata satu-persatu croissant keatas piring. Dante memeluk tubuh Laura dari belakang sambil menyandarkan dagunya pada bahu Laura. "Apa yang kau buat pasti aku suka, aroma nya harum menggugah selera seperti aroma tubuh mu sangat harum", bisik Dante menggoda Laura. Tepat di telinga Laura.


Tindakan Dante membuat tubuh Laura bergidik. "Kau harus bekerja Dante. Sekarang waktunya sarapan, nanti kau terlambat kekantor", ucap Laura salah tingkah dan tersipu malu.


"Apa kau selalu pandai merayu wanita seperti ini, Dante?"

__ADS_1


"Hanya wanita tertentu saja. Aku menyesal kenapa aku tidak memperhatikan mu selama ini. Kau hampir tiap malam ke club ku"


Dante memutar tubuh Laura.


"Berciuman tidak akan membuatku terlambat", ucap Dante lagi sambil menarik pinggang Laura agar merapat pada tubuhnya.


"Berciuman dengan mu seakan memberikan vitamin untuk ku", ucap Dante me*umat bibir Laura. Menghisap kuat bibir atas dan bawah bergantian. Seketika kaki Laura melemah. Beruntung tangan Dante memegang pinggangnya.


Ciuman Dante sangat dalam dan memabukkan membuat akal sehat Laura hilang seketika. "Akh--"


Dante tersenyum mendengar de*ahan lolos dari bibir Laura. Ini yang pertama kali Dante mendengarnya.


Dante menghentikan ciumannya. "Ayo kita makan aku sudah lapar", bisiknya. Dante membawa croissant panas yang baru matang dan minuman ke meja makan. Diikuti Laura. membawa dua mangkuk oatmeal yang ditambahkan potongan buah segar didalamnya.


Laura menaruh semangkuk oatmeal dan menuangkan segelas susu hangat untuk Dante. "Aku mengganti minuman mu dengan susu hangat rendah kalori, tidak apa-apa kan? HM...kau harus mengurangi meminum kopi Dante. Minuman itu tidak baik untuk kesehatan jangka panjang", ucap Laura duduk di samping Dante.


Dante tersenyum mendengarnya. "No problem, aku menyukai semuanya", jawab Dante mengambil sebuah croissant dan mencelupkan nya kedalam susu hangat. Laura memperhatikan cara Dante menikmati croissant, mengingatkan nya pada ayah nya dulu. Perasaan Laura menghangat.


Kedua mata Laura mengerjap-ngerjap tiba-tiba panas. "Hm...Dante, maukah kau menemaniku ke bank? Aku ingin memblokir semua tabungan ku yang di kuasai ibu ku".


Dante menata Laura yang tertunduk dengan jemari tangan saling bertautan.


"Uang itu hasil kerja keras ku selama ini, yang di kuasai mommy", ucap Laura menatap Dante dengan mata berkaca-kaca. Ya.. jika mengingat kekejaman Antoinette membuat Laura menitihkan air matanya lagi.


Dante membawa tubuh Laura kedalam pelukannya. "Kau tidak perlu datang ke bank itu sangat berbahaya sebelum kau melaporkan Escobar. Alex akan mengurus akun bank mu. Kau juga kehilangan semua kartu tanda pengenal mu. Jadi biarkan Alex yang mengurusnya, hem", ujar Dante mengecup pucuk kepala Laura.


Terdengar tombol di pintu di tekan seseorang. Membuat tubuh Laura gemetaran dan menolehkan kepalanya kearah pintu.


"Itu pasti bibi Zora", ucap Dante menenangkan Laura.


...***...


JANGAN LUPA VOTE LIKE KOMEN KOPI DAN BUNGA YA 🙏

__ADS_1


EDISI PERANG MELAWAN ESCOBAR DI MULAI.


__ADS_2