BRIDESMAID

BRIDESMAID
RONDE KE SEKIAN


__ADS_3

Keesokan harinya..


Laura membuka matanya perlahan, dan tersenyum bahagia melihat suaminya masih tertidur pulas.


Laura merasakan tubuhnya seakan remuk karena Dante memintanya lagi dan lagi. Keduanya baru bisa benar-benar memejamkan mata di saat fajar. Berpelukan mesra.


Laura tidak dapat mengungkapkan perasaannya saat ini saking bahagianya.


Ia tersenyum sambil mengangkat jarinya, melihat cincin pernikahan dan cincin berlian pemberian suaminya seminggu yang lalu.


Laura bangkit dari tempat tidur mengambil kemeja dalaman tuxedo Dante semalam dan memakainya. Sambil memasang kancing alakadarnya, Laura menatap suaminya. Laura mengambil selimut tebal yang teronggok di lantai akibat pergumulan mereka semalaman dan menyelimutkan ke tubuh polos Dante. Mengecup lembut bibirnya.


"Aku mencintaimu Masimo Dante", bisiknya.


Dante yang sebenarnya sudah bangun sedari tadi tersenyum mendengarnya. Menarik tubuh Laura hingga berada di atasnya. "Katakan lagi, apa yang kau ucapkan tadi. Aku tidak mendengarnya".


Laura melebarkan kedua matanya. "Dante, ternyata kau sudah bangun?"


"Dari tadi saat kau melihat cincin mu", jawab Dante sambil menyibakkan rambut Istrinya, mengecup leher jenjang yang banyak tanda merah ulahnya semalam.


"S-ayang hentikan, aku belum membersihkan tubuh ku. Lengket semua".


"Kita berendam sekarang", jawab Dante bangkit dari tempat tidurnya menggendong tubuh istrinya.

__ADS_1


"Dante apa yang kau lakukan?"


"Membantu mu ke kamar mandi", jawab Dante melingkarkan kaki Laura pada pinggangnya yang polos tak tertutup sehelai benang pun. Sementara Laura spontan melingkarkan tangannya pada leher Dante. Keduanya bertatapan mesra sebelum menyatukan bibir, berciuman mesra dengan nafas terdengar menderu. Saling menyerang hingga dalam.


Hingga terdengar suara merdu dari mulut Laura. "Akh.."


Dante melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Tanpa melepaskan tautan bibir keduanya saling memburu. Seperti enggan melepaskan, bukannya menuju bathtub namun Dante menghimpit tubuh Laura kedinding di bawah shower. Dante membuka paksa kancing kemeja miliknya dari tubuh Laura tanpa ampun langsung meraup kedua gunung kembar yang berdiri menantang di depan wajahnya. Bergantian meremas dan menghisapnya. Membuat Laura melenguh, merasakan sensasi buaian suaminya itu.


"Akh sayang.."


Laura merasakah milik Dante sudah mengeras. "Sayang, kata mu kita berendam"


"Lupakan tidak ada waktu mengisi airnya, milikku ingin memasuki mu lagi", bisik Dante dengan suara serak. Tangannya menghidupkan shower. Seketika air hangat membasahi tubuh keduanya berbarengan milik Dante menerobos masuk ke inti Laura. Untuk yang pertama Dante memasuki nya sambil berdiri.


Laura merasakan hal yang berbeda. Ini yang pertama kalinya baginya. Ia merasakan bercinta dengan cara seperti itu. Laura melingkarkan tangannya pada leher Dante yang sudah menghentak miliknya dari bawah.


Laura memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan hasrat dan gairah yang membuncah dalam dirinya.


Keduanya basah kuyup oleh guyuran air bercampur keringat yang membanjiri tubuh keduannya.


Hingga terdengar jeritan-jeritan indah memenuhi kamar mandi mewah yang menjadi saksi bisu betapa liarnya Dante dan Laura saat bercinta.


*

__ADS_1


Keringat mengucur deras dari tubuh Luca. Ia mengambil handuk berukuran kecil menyeka keringatnya itu.


Sudah satu jam lebih Luca berolahraga. Kebetulan hari ini weekend ia memiliki banyak waktu melakukan hobinya itu. Setelah rutinitas yang pada, ia tidak pernah sempat berolahraga setiap hari.


"Sayang, kau masih fitness juga, ayo istirahat dulu aku membawakan jus kesukaan mu, yang", ucap Alana membawa nampan ditangan nya.


Luca menatap tajam istrinya yang membawa sendiri nampan itu. Cepat-cepat Luca mengambilnya dari tangan Alana. "Apa tidak ada pelayan yang bisa kau suruh membawanya. Kenapa kau suka sekali membantah ku, Lana?"


"Karena aku suka melihat suami ku marah-marah, ia akan terlihat tampan. Dan aku semakin menyukai manik abu-abu nya tak berhenti menatap ku", Seloroh Alana memeluk pinggang Luca.


"Kau menggoda ku, hem?"


Luca duduk di sofa dan menarik pinggang Alana duduk di pangkuan nya. Mendaratkan ciuman ringan di pundak istrinya.


Alana melingkarkan tangannya pada leher suaminya. Ia tidak perduli saat ini kondisi Luca berkeringat dan lembab. Justru Alana menyukai nya. Luca terlihat semakin seksi dimatanya.


Alana membuka kaos basah dari tubuh Luca hingga tubuh atas Luca polos. Mengambil handuk kecil di tangan Luca dan perlahan-lahan mengusap kan handuk itu ke tubuh Luca.


"Sayang minum lah jus yang khusus aku buat untuk mu".


"Nanti saja. Aku lebih tertarik dengan ini sangat menggoda ku", Jawab Luca menggigit dada Alana dari luar dress hamil yang di pakainya. Sementara jemari tangannya menyelusup dari dalam, menggerayangi tubuh Alana.


Saat ini keduanya berada diruang fitness Luca. Salah satu ruang privacy yang tidak boleh siapa pun masuk ke sana tanpa seizinnya.

__ADS_1


"Aku menyukai ukuran dada mu semakin besar seperti ini. Ini milik ku hanya milik ku", ucap Luca mengulum puncaknya.


Alana tersenyum dan memejamkan matanya. "Sebelum anak-anak mu lahir. Setelah mereka lahir kau tidak memiliki kesempatan memiliki nya lagi seorang diri, tuan Luca".


__ADS_2