BRIDESMAID

BRIDESMAID
LAURA II


__ADS_3

"Aku harus lolos. Aku harus pergi..."


"Dorrrr...


Brugh...


"Akh", Laura meringis kesakitan. Tembakan mengenai bahu Laura namun pelurunya melesat.


Sakit yang dirasakannya Laura teramat sangat namun ia harus bangkit mencari jalan raya. Sekuat tenaga ia harus lari. Beruntung tenaganya masih ada. Suara orang-orang mengejarnya terdengar cukup jauh. Saat ini Laura seperti berada di hutan pinus. Laura berlari mengikuti instingnya saja. Yang pasti harus lari sekencang mungkin menjauh dari orang yang mengejarnya.


Entah seperti apa dirinya saat ini. Begitu ketakutan dan mencengkram. Namun karena ketakutan itulah membuatnya berlari sekuat mungkin. Bahkan bahunya berdarah tak dirasakan nya lagi. Begitupun telapak kaki telanjangnya berdarah tertancap kerikil-kerikil tajam. "Aku mohon tolonglah aku", gumam Laura terus berlari menjauh.


*


Plakk..


Plakk..


Vedasco melayangkan bogem mentah pada wajah orang-orang nya yang tidak becus dalam bekerja.


"Bodoh!"


"Sudah berapa kali aku kata pada kalian, jangan memancing orang-orang sekitar. Kenapa kalian malah menembak wanita itu bodoh!", teriak pria berkepala plontos itu marah.


Escobar duduk sambil menghisap cerutu menatap tajam anak buahnya yang ceroboh. "Vedasco...lenyapkan mereka. Kemudian temukan ja* lang itu segera. Jangan sampai membuat keributan, aku tidak mau bisnis ku di negara ini terancam. Kerjakan secara hati-hati!", perintah Escobar beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


Sementara Vedasco memasang peredam suara di pistol nya. Membuat dua orang anak buahnya memohon ampun agar kelalaian mereka beberapa saat yang lalu dimaafkan.


"Tuan Vedasco, maafkan kecerobohan kami, tuan. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama"


Suara mendesis dua timah panas melesak, tepat mengenai kening laki-laki yang telah lalai dan membuat bos mereka marah besar. Kedua orang itu langsung tumbang bersimbah darah. Membuat bergidik siapa saja yang melihat kejadian itu.


"Bereskan!", perintah Vedasco pada anak buahnya.


"Kalian ikut aku sekarang", ucapnya pada yang lainnya.


"Kita memencar. Temukan wanita itu dengan hati-hati. Jangan sampai membuat kesalahan. Membuat gaduh dan menarik perhatian orang lain".


"Baik tuan", jawab kelimanya.


*


"Aku yakin saat ini kau telah ketakutan di hutan itu. Hutan pinus yang sebentar lagi gelap gulita. Kau tidak akan menemukan jalan keluar yang sangat jauh dari sana".


"Lihat saja setelah anak buah ku menemukanmu, saat itu juga mereka akan meniduri mu beramai-ramai", ucap laki-laki bertubuh tambun itu memendam amarahnya yamg begitu membuncah karena kesalahan anak buahnya akhirnya ia kecolongan. Laura melarikan diri dari sekapannya.


"Beruntung orang ku mengikuti Antoinette. Jika sewaktu-waktu keperluan, wanita itu akan ku jadikan sandera.


Kebencian Escobar pada Laura bukan tanpa alasan. Beberapa tahun yang lalu perusahaannya telah memilih Laura sebagai brand ambassador, mengingat ia sedang berada di puncak kariernya. Namun di detik terakhir pihak Laura membatalkan kerjasama itu dan lebih memilih perusahaan kompetitor. Menyebabkan perusahaan milik Escobar mengalami kerugian besar.


"Akan ku buat hidup mu hancur, Laura Mancini".

__ADS_1


*


Hari sudah mulai menggelap.


Ternyata bagian belakang mansion Escobar sangat jauh dari jalan raya. Jika Laura nekat melalui jalan depan mansion itu di pastikan ia segera tertangkap oleh orang Escobar.


Hingga kedua mata Laura melihat jalan raya yang sepi. Laura cepat-cepat berlari menuju jalan itu. Ia berjalan tertatih menyusuri jalan sambil menekan bahunya yang berdarah. Laura bukan merasakan kesakitan lagi, saat ini ketakutan yang teramat sangat menguasai dirinya. "Tolonglah aku, jangan biarkan aku tertangkap orang Escobar. Lebih baik aku mati saja jika harus kembali pada penjahat itu".


Dari kejauhan Laura melihat sebuah mobil melaju di hadapannya. Tanpa pikir panjang ia berjalan ketengah jalan dan memberi tanda agar mobil itu berhenti. Memberikan pertolongan padanya. "Help me..", lirihnya.


Pandangan mata Laura mengelap. Tubuhnya begitu lemah. Tenaganya benar-benar habis. Semuanya gelap seketika, samar-samar terdengar decitan mobil.


"Tuan, di depan sepertinya ada seseorang meminta bantuan. Apa kita perlu melihatnya?"


"Tidak apa-apa. Ayo kita lihat".


"Sebaiknya tuan di mobil saja. Biar saya yang memeriksanya".


"Tidak apa-apa, jangan kuatir. Hutan Pinus ini dulu tempat aku dan teman-teman ku bermain. Tempat ini mungkin menakutkan untuk orang lain tapi tidak untuk ku. Ayo kita turun Alex!".


"Baik tuan..."


Kedua laki-laki itu turun dan melihat apa yang terjadi. Alex menyibakkan rambut wanita tergeletak dijalan.


"Laura...?"

__ADS_1


...***...


JANGAN LUPA VOTE LIKE KOMEN KOPI DAN BUNGA YA 🙏


__ADS_2