
"Laura tenanglah. Kau aman sekarang", ujar Alana.
"Kak.."
Laura tidak perduli dengan rasa sakit tubuh nya ia duduk dan menghambur memeluk Alana. Laura menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Alana. Alana hanya bisa mengusap punggung Laura menenangkan nya.
Sementara Luca dan Dante berbincang-bincang di sofa yang tak jauh dari Alana dan Laura. Keduanya melihat Laura menghambur memeluk Alana.
"Kak, maafkan aku. Aku selalu jahat kepada mu", ucap Laura dengan suara lirih sambil menundukkan kepalanya dan meremas jemari tangannya sendiri. Kata-kata yang dulunya tidak akan pernah Alana dengar dari mulut Laura. Sekarang terucap.
Alana terdiam tak bergeming.
"Kesalahan ku sangat banyak pada mu. Karena aku, kau pergi dari rumah", ucap Laura dengan mata bengkak dan merah menatap Alana.
Huhh... Alana menghembuskan nafasnya dalam-dalam. Ia kembali menggenggam tangan Laura. "Lupakan lah. Aku tidak apa-apa Lau. Aku dan papa juga sudah berbaikan. Aku harap kita pun bisa berbaikan walaupun orang tua kita tidak bersama lagi", ujar Alana.
Laura tersenyum getir. Sekilas ia menatap Luca dan beralih menatap Alana. "Aku senang melihat kakak bahagia. Saat nyawaku terancam aku menyadari semua kesalahanku pada mu. Aku menyadari betapa jahatnya aku mengikuti semua keinginan mommy untuk merebut semua milik mu. Sekarang aku tahu siapa Antoinette, wanita yang melahirkan aku ternyata tak pantas di panggil ibu. Ia tega menjual ku. Aku tidak akan pernah memaafkan Antoinetteee..."
Tiba-tiba Laura histeris menyebut nama Antoinette mommy nya sendiri.
__ADS_1
Dante dan Luca langsung melonjak mendekati nya. Luca kuatir Laura menyakiti Alana. Luca segera memegang bahu istrinya. Namun Alana menggelengkan kepalanya pada Luca. Ia menyatakan bahwa ia baik-baik saja, Luca tidak perlu kuatir.
"Laura, ceritakan lah semuanya. Kau aman bersama kami", ucap Dante menatap Laura sambil memasukkan tangannya pada saku celananya.
Laura menatap Dante, beralih pada Luca dan Alana juga. Laura berpikir sejenak. Dante benar tidak ada lagi yang perlu ia tutupi pada Dante karena ialah yang telah menyelamatkan nya dari kematian. Laura berhutang nyawa pada Dante itu tidak bisa di pungkiri. Begitupun dengan Alana dan Luca, mereka lah keluarga yang Laura miliki saat ini. Sementara ibunya sendiri entah dimana sekarang. Mungkin sedang bersenang-senang tanpa tahu sakit nya Laura sekarang.
"Mommy tega menjual ku pada laki-laki jahat bernama Dominic Escobar", ucap Laura pelan nyaris tak terdengar.
Dante dan Luca saling bertukar pandang.
"Apa maksudmu Dominic Escobar pemilik hotel Monarca? orang Mexico itu?", tanya Luca menatap Laura yang sudah nampak mengeluarkan air matanya lagi.
"Mommy sangat tega menjual ku padanya. Anak buah Escobar mengancam ku malam itu saat aku hendak masuk ke club Dante yang satunya", ucap Laura terisak mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
"Escobar memperkosa ku dan menyiksaku. Hingga kemarin aku ada kesempatan untuk melarikan diri dari mansion nya. Saat tahu aku melarikan diri, anak buahnya mengejar ku. Dan menembak", lirih Laura. Kali ini ia benar-benar tidak bisa menahan tangisannya lagi. Tubuhnya bergetar hebat menahan kesedihannya. Alana spontan memeluknya.
"Aku tidak akan pernah memaafkan mommy. Ia tega sekali padaku".
"Laura tenanglah. Kau jangan takut aku dan Dante akan membantumu. Besok Xavi akan menemui mu. Kau harus menceritakan semuanya padanya. Jika kau mau, kau bisa menuntut Dominic Escobar secepatnya", ucap Luca tegas.
__ADS_1
Laura terlihat memikirkan sesuatu. "T-Tapi aku tidak mau melibatkan kalian. Escobar bisa menyakiti kalian", ucap Laura terbata-bata. Tubuhnya bergidik membayangkan kekejaman Escobar dan orang-orang nya yang telah ia rasakan sendiri.
"Kau tidak usah takut Laura. Aku dan Luca akan menolong mu. Xavi juga sudah bersedia membantu mu. Kau hanya perlu berbicara yang sejujurnya jangan ada yang ditutupi. Kau bisa menjerat Dominic Escobar hingga membusuk di penjara akibat perbuatannya itu pada mu. Laki-laki itu orang datangan di negara ini. Jadi posisi mu kuat. Jangan takut untuk mengungkapkan sebuah kebenaran", ucap Dante meyakinkan Laura.
Laura mencerna semua perkataan Dante. Perasaannya menghangat. Ternyata mereka semuanya sangat baik. Tidak seperti teman-teman nya yang hanya ada saat ia berada di puncak saja. Saat ia terpuruk satu persatu temannya meninggalkan dirinya seorang diri.
"T-tapi barang-barang pribadi ku ada pada laki-laki itu. Handphone dan semua kartu pengenal ku di tahannya. Aku takut keselamatan kak Alana terancam juga. Laki-laki itu sangat jahat kak. Aku tidak mau ada apa-apa dengan mu. Hanya kakak yang aku punya sekarang. Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi di negara ini. Daddy berada di Australia", lirih Laura menahan tangisannya sambil menatap Alana.
"Tenanglah Laura. Istriku aman bersama ku. Aku tidak akan membiarkan Escobar menyentuh sehelai rambut istri ku. Dalam sekejap aku bisa menghancurkan laki-laki itu. Tapi berbeda dengan kasus mu, jika kau ingin membalas perbuatannya pada mu kau sendiri yang harus melaporkan nya. Maka dari itu, teman kami Xavi akan membantu mu".
Dante menganggukkan. "Luca benar. Hanya kau sendiri yang bisa menjerat Escobar, sementara kami hanya bisa mendampingi saja Laura. Pikirkanlah", ucap Dante.
"Lau, kau harus berpikir dengan tenang. Jangan takut, banyak yang membantu mu kau tidak sendirian", ucap Alana dengan lembut sambil menggenggam jemari Laura.
Laura terdiam. Sesaat kemudian ia memejamkan matanya dan menganggukkan kepalanya. "Iya. Aku akan membuat laporan atas perbuatan laki-laki itu. Aku ingin Escobar di hukum seberat-beratnya. Seperti perbuatannya pada ku..."
...***...
VOTE LIKE KOMEN KOPI DAN BUNGA 🙏
__ADS_1