
Felipe berdiri di sudut ruangan dengan kedua tangan berada di dalam saku celananya.
Dengan tatapan fokus laki-laki itu memperhatikan Valeria sedang mengarahkan artis-artisnya untuk berakting sebaik mungkin agar proyek mereka sukses dan diapresiasi dengan baik oleh semua lapisan masyarakat.
Felipe mendengar dengan jelas kata-kata Valeria.
*First impressionĀ dalam menonton itu penting. Kesan pertama yang baik akan memunculkan sugesti yang positif. Sebaliknya... kalau dari awal cerita yang disuguhkan tidak menarik pasti orang-orang jadi malas menonton film ini*
Felipe tersenyum mendengar kata-kata gadis itu. "Wanita yang mengagumkan".
Valeria menepuk tangannya.
"Ayo kita mulai lagi", tegasnya menuju kursi di depan layar. Sementara Robert mengarahkan pemeran yang akan mengambil scene di ruang rapat itu.
Valeria mengatur gambar di layar namun sepertinya ada error di salah satu kabel penghubung dengan arus listrik. Tanpa pikir panjang gadis itu beranjak dan naik ke atas tangga besi. Ia hendak membetulkan kabel dan lampu sorot yang terlalu condong ke kanan sehingga menyebabkan hasil gambar yang terlalu buram.
"Nona, biar kami yang melakukan nya", ucap salah satu kru di bidangnya untuk membetulkan error seperti itu.
Namun Valeria tidak menggubrisnya. Gadis itu tetap naik keatas tangga tanpa keamanan tubuh yang memadai. Valeria yang terlalu bersemangat tidak menyadari terlalu memaksa kan diri menarik kabel yang masih terlalu jauh dari gapaian tangannya. Hingga tangga lipat itu oleng karena tubuh Valeria yang bergerak memaksa di atasnya. Kru yang tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing tidak menyadari sang sutradara dalam bahaya.
Felipe yang sedang menelpon melihat Valeria seperti itu membuatnya berteriak dan berlari hendak menolong gadis itu. Teriakan Felipe membuat kru tersentak.
Dan...
"Aw..."
Valeria memejamkan matanya, kala ia menyadari kepalanya akan segera membentur lantai yang keras. Namun ternyata ia tidak merasakan sakit malah ia merasakan dekapan hangat di tubuhnya.
"Brukkk.."
Valeria membuka matanya dan melihat siapa yang menolong nya. "Felipe..."
Wajah Valeria memutih melihat Felipe meringis kesakitan dan tubuh bagian belakang tertimpa tangga.
Kru segera menolong Felipe, mengangkat tangga dan membantu nya bangun. Kru laki-laki memegangi tubuh atletis itu, membawa nya ke ruangan yang di jadikan ruang wardrobe selama mereka syuting.
__ADS_1
Valeria mengambil handphone Felipe yang lagi-lagi retak karenanya.
"Oh my God, Felipe semoga tidak apa-apa. Segera panggil dokter kemari!", perintah Valeria pada Robert, ia berlari masuk keruang wardrobe. Matanya menangkap Felipe yang menahan sakit di bagian bahu nya. Sementara di bagian pelipis nya terlihat membiru keunguan akibat berbenturan dengan lantai.
"Felipe, kau bisa mendengar ku?", ucap Valeria dengan wajah pucat dan panik.
"Hm.
"Tenanglah. Dokter sudah menuju kemari", ucap Valeria mengusap lembut lengan Felipe.
Lagi-lagi Felipe meringis membuat Valeria tidak tenang. "Berapa lama lagi dokternya datang?", tanyanya pada Robert yang sedang menelpon.
"Jalanan macet di sore hari begini nona. Tapi saya sudah menghubungi tuan Matte, ia sudah menghubungi dokter pribadi tuan Luca".
Beberapa saat kemudian, terlihat Matte datang dengan seorang dokter yang segera memeriksa kondisi Felipe. Valeria menjelaskan posisi Felipe saat terjatuh. Matte membantu Felipe duduk dan membuka jas dan kemeja kerjanya. Terlihat memar cukup parah di punggung nya.
Sekilas Felipe menatap Valeria yang mengigit ibu jarinya, terlihat sangat gugup sambil hilir mudik di dekat sofa berukuran besar tempat tubuh Felipe.
Felipe menahan senyuman nya. Saat dokter memeriksa memar pelipis, terdengar suara meringis lagi dari mulut Felipe.
Matte mengantar dokter dan sekalian meminta office boy mengambil obat Felipe.
Terlihat Felipe kesulitan memakai kemeja nya. Sambil terus meringis.
"Biar aku bantu", ucap Valeria sambil membantu memasangkan kemeja dan kancing-kancingnya.
"Ehem..."
Luca berdiri di ambang pintu. Menatap temannya itu. "Berlebihan sekali. Memar sedikit tidak akan membuat tubuh mu kesakitan begitu. Sejak kapan tubuh mu lemah, Feli. Mencari kesempatan dalam kesempitan sekali kau ini".
"Diam kau bastard!"
"Kau harus mengantar ku pulang ke apartemen,Valeria! kau dengar kan ucapan dokter tadi aku tidak diizinkan beraktivitas selama dua hari", ujar Felipe dengan penekanan.
Luca menggelengkan kepalanya. Ia sangat tahu temannya itu akan mendramatisir keadaan, membuat Valeria seolah-olah bersalah atas kejadian yang menimpanya.
__ADS_1
Valeria menganggukkan kepalanya pelan. Ia memang merasa harus bertanggung jawab. Yang dialami Felipe terjadi karena menyelamatkan dirinya. "Iya Felipe. Aku juga akan mengganti Handphone mu yang lagi-lagi rusak karena ku", ucap Valeria menyesal sambil memberikan handphone milik Felipe.
"Handphone bukan masalah besar, tapi selama dua hari tidak ada yang merawat ku. Sedangkan aku tidak di izinkan dokter melakukan apa-apa karena otot punggung ku bergeser. Harus ISTIRAHAT", ujar Felipe nampak kebingungan sendiri.
"Kau rawatlah Felipe selama dua hari, Valeria. Syuting bisa diambil alih asisten mu dulu, Robert bisa syuting yang ringan saja selama kau tidak ada", ucap Luca.
Valeria menganggukkan kepalanya. "Iya", jawabnya singkat.
"Alright... sekarang aku harus beristirahat di apartemen ku, ayo kita pulang".
Valeria menganggukkan kepalanya, membantu Felipe berdiri dengan memegang lengan laki-laki itu.
Tiba di dekat Luca, Felipe mencondongkan tubuhnya berbisik ketelinga Luca. "Terimakasih pengertian mu, dude", ucapnya penuh makna sambil mengedipkan sebelah matanya.
...***...
JANGAN LUPA VOTE LIKE KOMEN KOPI DAN BUNGA YA š
*
YUK BACA JUGA:
PENGANTIN PENGGANTI
MENJADI YANG KEDUA
MARRIAGE AGREEMENT
SERPIHAN HATI ELLENA
FIRST LOVE LAST LOVE
AIR MATA SCARLETT
__ADS_1