BRIDESMAID

BRIDESMAID
EXTRA PART ALANA-LUCA DAN TEMAN-TEMANNYA


__ADS_3

Berawal dari kontrak kerjasama yang di tandatangani Alana Salvatore, membawanya menjadi sutradara proyek film milik perusahaan film ternama yang berada di kota Milan.


Namun berjalannya waktu, Alana tidak menyukai artis yang bekerjasama dengannya hanya bermodalkan terkenal saja tanpa bisa berakting sesuai standar nya.


Karena hal itulah ia ingin menemui langsung pemilik perusahaan CLEO yang tidak di kenalnya sama sekali. Saat melakukan kontrak kerjasama perusahaan tersebut di wakili oleh orang kepercayaan pimpinan perusahaan.


Alana tidak berhasil bertemu dengan Luca Barzini Corleone yang merupakan CEO perusahaan yang bekerjasama dengannya.


Gagalnya pertemuan itu mengantarkan Alana kembali ke kota Palermo karena ancaman sang ayah yang memintanya datang ke pernikahan saudara tirinya Laura Mancini yang kala itu tidak memiliki hubungan baik dengan Alana. Tentu saja Alana menolak keras permintaan Salvatore ayahnya.


Namun sang ayah tidak kehilangan akal, dengan melancarkan ancamannya. Jika Alana tidak menghadiri pernikahan Laura maka perkebunan anggur De Alma akan di berikan kepada Laura.


Tentu saja Alana tidak akan membiarkan hal itu terjadi. De Alma perkebunan yang akan selalu menjadi milik nya. Perkebunan yang banyak meninggalkan kenangan masa lalu Alana yang sangat bahagia bersama Alma dan Salvatore. Namun kebahagiaan itu lenyap setelah Alma pergi untuk selama-selamanya dan Salvatore memilih untuk menikah lagi dengan Antoinette, yang merupakan kekasih lama Salvatore dan sudah memiliki seorang putri bernama Laura Mancini.


Akhirnya Alana mengikuti kemauan Salvatore, datang ke pernikahan Laura dengan satu syarat surat menyurat perkebunan harus diberikan kepadanya. Sang ayah pun setuju.


Dimalam pesta lajang Laura Alana datang, namun ia di jebak. Minumannya di beri obat perangsang oleh Laura dan teman-temannya yang berakibat fatal bagi Alana.


Gadis itu memasuki kamar yang salah dan berakhir bercinta untuk yang pertama kalinya dengan laki-laki asing. Laki-laki itu tak lain Luca Barzini Corleone.


Laki-laki yang pada akhirnya menjadi suaminya. Laki-laki yang sangat di cintainya hingga kini. Membina rumah tangga harmonis saling mencintai dan di karuniai sepasang anak kembar yang sudah berusia tiga tahun.


*


"Mommyy...Kenz dapat banyak anggur nya", teriak bocah laki-laki berlari membawa keranjang kecil masuk kedalam rumah.


"Sayang, jangan lari-lari nanti jatuh", ucap Alana memeluk tubuh putranya.


"Mommy, ini anggurnya", ujar Kenzie dengan wajah menggemaskan sambil memberikan keranjang kecil berwarna biru berisi buah anggur.


"Terimakasih sayang.Jagoan mommy ternyata sudah bisa memetik anggur ya", ucap Alana mengambil keranjang dari tangan putranya. Kemudian mengangkat tubuh mungil Kenzie ke gendongannya. "Kau pintar sekali sayang", ujar Alana tak henti mengecup lembut wajah berisi Kenzie.


"Boy, sekarang saatnya beristirahat. Besok kita memetik anggur lagi", ujar Luca sambil mencium wajah Alana. Ia sehabis mengajak putra mereka memetik anggur di perkebunan De Alma. Sudah dari kemarin Luca dan keluarganya berada di perkebunan karena akan mengadakan panen raya.


Luca meminta baby sitter, untuk membersihkan tubuh putranya. Sementara Klaara sedang menikmati cemilan bersama pengasuh nya.


Seperti tradisi sebelumnya, akan di lakukan tradisi pembuatan wine dengan menginjak sejumlah anggur yang sudah di panen di wadah berukuran besar. Hasilnya nanti akan di bagikan untuk para petani yang sudah bekerja sekuat tenaga mereka menghasilkan anggur-anggur terbaik di perkebunan itu. Sementara untuk produksi anggur skala besar untuk di pasarkan akan di produksi di pabrik dengan alat-alat yang canggih.


Alana dan Luca mengundang juga teman-teman mereka ke perkebunan itu. Tentu saja mereka semua akan datang hari ini. Suasana pedesaan membawa minat tersendiri bagi orang yang terbiasa tinggal di kota dengan rutinitas padat dan suasana bising.


*


Luca memeluk tubuh Alana yang berdiri di balkon hacienda De Alma.


"Apa yang kau lihat sayang", bisik Luca mendaratkan sebuah kecupan ringan di leher istrinya.


"Hamparan pohon anggur. Aku ingat dengan mama ku, Luc. Ia sangat menyayangi tempat ini. Kenangan masa kecil ku terpatri di sini".


"Mama pasti senang melihat mu dari surga. Kau kembali ke perkebunan bersama suami mu dan anak-anak mu. Papa Salvatore juga lebih banyak menghabiskan waktunya di sini. Sejauh mana laki melangkah pasti kembali ketempat asal", ucap Luca dengan lembut. Membalikkan tubuh Alana menghadapnya.


"Terimakasih sayang, kau menepati janji mu sering membawa kami kembali ke sini dan aku jadi lebih sering melihat papa," ucap Alana memeluk erat tubuh Luca yang mengusap punggung.


"Tentu saja tempat ini sangat baik untuk anak-anak kita sayang, bermain di alam terbuka akan membuat Kenzie dan Klaara mencintai alam", jawab Luca.

__ADS_1


Keduanya bertatapan mesra. Luca menarik dagu Alana, me*umatnya dengan lembut. Bibir saling bertautan saling menuntut. Alana melingkarkan tangannya pada leher Luca.


Tok..


Tok..


Tok..


"Sayang ada yang mengetuk pintu. Mungkin pelayan yang memberi tahu teman-teman kita sudah tiba".


"Ah shitt. Mengganggu ku saja", umpat Luca kesal.


"Kau tidak boleh marah-marah, mereka sudah datang jauh-jauh dari Milan demi menghadiri undangan kita sayang. Kita masih banyak waktu, nanti aku janji akan memberimu jatah", goda Alana sambil mengusap lembut wajah Luca.


"Aku akan menagih janji mu", seru Luca kembali mengecup bibir Istrinya.


"Berganti lah pakaian sementara aku membuka pintu", ujar Alana melepaskan pelukannya pada tubuh Luca.


Alana membuka pintu, terlihat Maria pelayan perkebunan yang sudah cukup lama bekerja di sana berdiri didepan pintu.


"Maaf nona mengganggu anda. Di bawah teman-teman nona dan tuan sudah tiba".


"Oh iya, aku dan suamiku segera turun. Suguhkan makanan dan minuman. Dan bawa barang-barang mereka kekamar masing-masing sesuai instruksi ku tadi, Maria", perintah Alana tersenyum.


"Baik, nona. Kalau begitu saya permisi".


"Iya".


"Iya. Ayo kita turun. Kasihan Cyara dan Favela yang sedang hamil besar, mereka harus istirahat", ujar Alana memeluk lengan Luca.


"Oke".


Saat sampai di lantai bawah, tak nampak satu orang teman mereka.


"Maria, di mana teman-teman ku?", tanya Alana.


"Oh mereka semuanya berjalan-jalan di kebun anggur nona", jawab Maria yang terlihat menata meja makam.


"María, malam ini hidangkan makan malam di luar saja. Kami ingin menikmati suasana perkebunan dimalam hari", ujar Luca.


"Oh, baik tuan. Kalau begitu saya akan menyiapkan semuanya".


Luca dan Alana keluar rumah.Telihat temannya sedang berjalan menyusuri perkebunan di sekitar hacienda. Nampak Dante menggendong Vivian putri cantiknya dan Laura yang berusia dua tahun.


Sementara Felipe menggendong Kenzie di atas bahunya. Kenzie terlihat kegirangan sambil tertawa khas anak kecil yang sangat bahagia.


Sementara Valeria memegang erat jemari mungil Klaara.


Favela dan Cyara bergelayut manja di lengan suami masing-masing. Keduanya sedang hamil anak pertama mereka. Akhirnya setelah penantian panjang Paolo dan Favela akan memiliki anak. Sekarang Favela hamil tujuh bulan.


Xavi dan Cyara menikah dua tahun yang lalu dan saat ini Cyara sedang hamil lima bulan.


Sementara Felipe dan Valeria yang sudah menikah tiga tahun lebih, hingga sekarang belum juga memiliki anak. Keduanya tak surut, terus berusaha untuk segera memiliki momongan. Sudah tak terhitung lagi dokter terbaik yang menangani keduanya. Hingga Valeria lelah. Pada akhirnya keduanya memasrahkan diri pada takdir dan lapang dada menerima semuanya.

__ADS_1


Felipe dan Valeria sangat dekat dengan Kenzie, Klaara dan Vivian. Ketiga anak-anak itu sering di bawanya jalan-jalan.


"Apa yang kalian lakukan, apa kalian tidak lelah baru tiba dari Milan?", tanya Luca begitu temannya selesai berkeliling kebun.


"Sekarang sudah menjelang senja, kita akan makan malam disini", ujar Alana.


"Perkebunan mu sangat indah, Lana. Pantas saja Luca selalu menceritakan tempat ini. Ternyata tidak salah. Perkebunan mu sangat indah dan luas", ujar Felipe sambil menciumi wajah menggemaskan Kenzie yang di dudukannya di atas meja.


"Ini belum seberapa indahnya, di bagian belakang perkebunan ada danau dan Villa de Alma", ucap Luca sambil menyesap wine yang di suguhkan Maria.


"Kak, apa pondok kakak sudah di rubah sekarang?", tanya Laura pada Alana.


"Tidak. Pondok masih ada, tapi di bagian belakang di bangun juga villa untuk tempat beristirahat jika ingin menikmati danau", jawab Alana tersenyum.


"Wah sepertinya sangat indah, aku tidak bisa membayangkan nya", seru Favela.


"Hem...wine ini sangat lezat. Apa ini hasil perkebunan mu, Lana?", tanya Dante sambil memutar-mutar gelasnya dan mencium aroma wine dari ujung gelas.


"Iya. Wine merah dan putih ini produksi pabrik de Alma. Kalian harus mencobanya. Kecuali Favela dan Cyara tidak boleh meminum nya", jawab Alana.


"Tentu saja", jawab Cyara dan Favela berbarengan.


"Rasanya aku ingin menjadi rekan kerja mu, Lana. Aku ingin pabrik mu menjadi pemasok wine ke club milik ku", ujar Dante serius.


Alana menganggukkan kepalanya. "Dengan senang hati Dante. Besok akan aku kenalkan pada manajer pabrik".


"Nona, tuan...makan malam sudah siap", ucap Maria dengan sopan.


"Terimakasih Maria. Sebaiknya kita berbincang sambil menikmati makan malam. Kalian harus makan yang banyak, masakan bibi Trota sangat lezat", ujar Luca. Sementara Kenzie dan Klaara duduk di kursi makan khusus anak-anak. Seperti orang dewasa saja Kenzie mengambilkan kursi untuk Vivian agar duduk bersama nya dan adiknya. Bahkan sesekali Kenzie menyuapkan makanan ke mulut Vivian.


"Ah anak-anak itu, sangat menggemaskan sekali. Kapan aku akan memiliki anak seperti mereka", ujar Valeria spontan sambil menatap ketiga bocah lucu itu.


"Aku yakin kau akan segera memiliki nya, Vale. Apalagi kalian berdua di nyatakan sehat. Hanya masalah waktu nya saja", jawab Laura memberikan semangat untuk Valeria.


*


Teng..


Teng..


Teng..


"Sebelum santap malam, aku ingin mengajak kalian semua bersulang untuk kebahagiaan kita, untuk persahabatan kita yang sudah lama terjalin hingga kita berlima menemukan tambatan hati yang sesungguhnya. Semoga keluarga yang kita bina selalu harmonis untuk selamanya".


"Untuk Felipe dan Valeria semoga segala memiliki anak juga", ujar Luca


"Cheers..."


Semuanya mengangkat gelasnya kemudian menikmati hidangan makan malam dengan lahap dalam suasana hangat dan akrab.


...THE END...


...***...

__ADS_1


__ADS_2