
Luca menggenggam erat jemari tangan Alana. Sesaat turun dari mobilnya. Luca mengantar Alana untuk menemui Laura di club milik Dante. Di siang hari club itu tertutup untuk umum, hanya orang yang berkepentingan saja yang diizinkan keluar masuk area itu di siang hari. Di sebelah club berdiri hotel berbintang.
Karena letak club jauh dari pusat kota, maka Dante membangun juga hotel untuk pengunjung club mau pun orang-orang dalam perjalanan dari luar kota yang ingin mencari penginapan. Tidak perlu jauh-jauh menuju pusat kota Milan untuk beristirahat.
"Selamat siang tuan Luca", sapa security yang mengenal Luca sebagai sahabat baik atasan mereka.
"Siang. Apa bos mu ada?", tanya Luca.
"Tuan Dante ada di ruangannya, tuan", jawab petugas keamanan dengan hormat dan mempersilakan Luca dan Alana masuk.
Luca mengajak istrinya langsung keruang kerja Dante. Sekarang sudah pukul satu siang.
Tok..
Tok..
Alex membuka pintu. "Tuan Luca? Silahkan masuk tuan", ucap Alex ramah.
Mendengar Luca yang datang sekilas Dante menatapnya. "Luc...masuklah", ucapnya. Ia masih nampak sedang menandatangani berkas-berkas di atas meja kerjanya. Sesaat kemudian menaruh pena di atas meja.
__ADS_1
"Alex, berkasnya sudah aku tanda tangani. Kembalilah ke perusahaan. Kosongkan jadwalku di sisa hari ini. Aku akan berada di club hingga malam", perintah Dante.
"Baik tuan. Kalau begitu saya permisi", ucap Alex pada Dante juga pada Luca dan Alana.
Setelah Alex pergi Dante mengajak Luca dan Alana berbicara di sofa. Dante menceritakan semuanya tentang pertemuan dengan Laura. Menceritakan keadaan Laura yang sangat mengkuatirkan saat melihat nya. Dan Laura tak henti menyebut nama Escobar. Ia sangat ketakutan pada laki-laki bernama Escobar", ujar Dante.
"Aku pikir laki-laki itulah yang melakukan semuanya pada Laura. Apa kalian mengenalnya?".
Alana menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku tidak mengenalnya. Aku banyak tidak tahu tentang teman-teman Laura".
Begitupun dengan Luca ia tidak pernah sekalipun ingin tahu dengan siapa Laura. Dante sangat tahu bagaimana hubungan Luca dan Laura, status mereka berpacaran namun tak sekalipun bersama karena Luca tidak pernah mencintai wanita itu.
Dante membuka handle pintu private room miliknya. Nampak Laura sedang tertidur. Sementara Florence duduk di kursi sedang membaca sebuah buku. Melihat Dante yang datang cepat-cepat wanita muda itu berdiri dan memberi hormat. Kemudian pamit keluar dari kamar itu pada Dante.
Alana terdiam melihat kondisi Laura yang sangat mengenaskan. Wajahnya pucat pasi dan penuh luka memar yang sudah berwarna keunguan. Sementara di bahunya terpasang perban. Lehernya nampak bekas cekikan.
Alana menutup mulutnya terkejut melihat kondisi Laura. Benar-benar mengenaskan. Tubuhnya terkulai di atas tempat tidur dengan posisi menyamping. Laura yang menggunakan tank top terlihat jelas di punggungnya penuh luka lurus memanjang.
"Dokter Hudini menyarankan Laura memakai pakaian seperti itu agar lukanya cepat kering. Seharusnya ia dirawat di rumah sakit melihat kondisinya sangat parah. Namun aku yakin pasti keselamatan gadis ini sedang terancam, karena melarikan diri dari laki-laki bernama Escobar. Rumah sakit pasti menjadi tujuan pencarian pertama mereka. Makanya aku memberi izin Laura di rawat di sini saja. Temanku Hudini yang merawat nya", ucap Dante menjelaskan dengan rinci.
__ADS_1
"Melihat perbuatan pada Laura, laki-laki bernama Escobar itu sangat berbahaya. Sebaiknya kita hubungi Xavi. Saat Laura siap membeberkan semuanya, ia bisa menuntut laki-laki itu", ucap Luca yang berdiri di sebelah Dante dan Alana.
"Iya. Aku sudah menghubungi Xavi. Ia masih berada di Genoa. Besok baru ia kembali dan akan langsung kemari", jawab Dante.
Terlihat Laura menggerakkan tubuhnya. Dan tiba-tiba menangis sambil meracau Sementara kedua matanya terpejam.
"Seperti itulah kondisinya", ucap Dante.
Alana berjalan mendekati tempat tidur Laura. Tubuh Laura berkeringat sebesar biji jagung. Dan terus meracau menyebut nama Antoinette dan nama Escobar.
"Lau. Tenanglah", Suara lembut Alana membuat Laura membuka matanya. Alana spontan menggenggam jemari tangan Laura. Walaupun mereka tidak pernah akrab tapi Alana tidak tega melihat Laura seperti sekarang. Sungguh ia pun ikut merasakan sakit yang di rasakan Laura. Di perkosa dan di siksa hingga mengalami luka-luka yang sangat parah. Beruntung Laura selamat dan berada di tempat aman.
Laura menatap Alana yang duduk di tepi tempat tidur didekat nya. Seketika buliran-buliran bening jatuh membasahi wajah Laura. Laura terisak. Ingatannya terkumpul. Ia langsung mengenali Alana. Dengan tubuh terguncang Laura menangis. Air matanya membasahi bantal.
"Laura tenanglah. Kau aman sekarang", ujar Alana.
"Kak.."
...***...
__ADS_1
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN YA 🙏