BRIDESMAID

BRIDESMAID
AWESOME


__ADS_3

Alana memberikan petunjuk pada Luca di mana pondok yang di maksud berada. Menuju ke sana tentunya sedikit melewati tanjakan kemudian melewati jalanan menurun.


Tepatnya di ujung perkebunan De Alma yang tidak di tumbuhi pohon anggur. Lebih tepatnya di tumbuhi pohon pinus.


"Perkebunan mu sangat luas dan indah, sayang. Bahkan kita sekarang sedang berada di hutan Pinus. Lebih tepatnya ini sebuah taman karena tidak menyeramkan dan sangat terawat", ucap Luca memeluk pinggang Alana dengan tangan kiri nya. Sementara tangan kanan memegang tali kendali Talita.


"Iya. Tempat ini banyak sekali meninggalkan kenangan indah buat ku. Tempat aku dilahirkan, menghabiskan masa kecil hingga beranjak remaja".


"Hutan Pinus ini tempat ku bermain, makanya papa selalu meminta pekerjanya menjaga dan merawat supaya aku aman


bermain di sini. Biasanya aku bermain dengan keponakan bibi Trota yang saat ini tinggal di Turin", ucap Alana mengenang masalah lalunya.


"Apa itu pondok nya?"


"Iya".


Talita berhenti tepat di depan pondok mungil berwarna coklat tua. Pondok itu tepat berdiri di atas tebing yang menjorok ke danau. Di belakang danau nampak pegunungan.


Luca turun lebih dulu kemudian memegang pinggang Alana menurunkannya dari punggung Talita.


Alana terdiam sejenak menatap pondok yang berdiri di sana sejak ia kecil. Bahkan ayunan kayu tempat ia bermain-main dulu masih ada. Mata Alana menghangat berkaca-kaca, betapa ia merindukan tempat ini. Sejak lima tahun yang lalu ia tidak pernah ke perkebunan. Lebih tepatnya semenjak sang mama meninggal dunia.

__ADS_1


Sementara Luca melangkahkan kakinya mendekati tepian lembah curam yang sudah di pasang pagar pengaman. "Ternyata di sini benar-benar surga dunia. Awesome, Amazing", Luca tersenyum dengan kekagumannya.


"Sayang kau benar mengatakan De Alma indah. De Alma spectacular. Bagaimana kalau kita mendirikan Villa di tanah mu ini? kita bisa menghabiskan lebih banyak waktu di perkebunan. Apalagi saat kita memiliki anak nanti. Aku menginginkan banyak anak sayang. Tujuh orang", ucap Luca tertawa, sambil berkacak pinggang menatap danau yang letaknya menjorok kebawah.


"Sayang...?"


Luca menolehkan kepalanya kebelakang, dimana istrinya berada. Ternyata Alana masih berdiri mematung di depan pondok. Luca mengernyitkan dahinya. "Sayang...ada apa?"


Luca menghampiri istrinya. Dan melihat kedua netra Alana sudah memerah bahkan pelupuk matanya menggenang kristal bening. Luca tahu istrinya terharu karena banyak kenangan di sini. Luca memeluk tubuh Alana. "Sebaiknya kita masuk kedalam. Di sini anginnya cukup kencang".


Alana menganggukkan kepalanya pelan. Ia menaiki tiga tangga kemudian merogoh lobang kecil di atas pintu. "Ternyata kuncinya masih ada di sini", ucap Alana sambil membuka pintu.


Saat pintu terbuka harum Agarwood  menyeruak memenuhi indera penciuman. Kayu yang berasal dari pohon aquilaria ini memiliki aroma yang harum sehingga banyak perusahaan parfum memanfaatkan resinnya.


Luca memeluk erat tubuh istrinya itu sambil menyandarkan dagunya pada bahu Alana. "Aku sangat menyukai tempat ini. Benar-benar membuatku jatuh cinta, sangat indah", bisik Luca sambil mencium bahu Alana yang terbuka.


"Iya. Itulah kenapa mati-matian aku memperjuangkan De Alma. Bahkan aku akan menghadapi papa jika ia berani memberikan perkebunan pada Antoinette", ucap Alana membalikkan badannya menghadap Luca.


"Sekarang banyak yang akan melindungi mu, sayang...terutama suami mu. Aku akan selalu melindungi mu. Tidak akan pernah ku biarkan orang-orang seperti Antoinette dan Laura mengusik hidup mu lagi", ucap Luca mengusap lembut wajah Alana.


Alana menyunggingkan senyuman di bibirnya sambil memeluk erat tubuh Luca. "Terimakasih sayang. I love you".

__ADS_1


"Tok..


"Tok..


"Tok..


"Itu pasti Berlinda yang mengantarkan makan siang kita dan pakaian ganti untuk kita", ujar Alana.


"Luc, apa kau mau kita menghabiskan malam di sini?", tanya Alana sambil membuka pintu dan mempersilahkan pelayan hacienda masuk menata makanan di atas meja.


"Dengan senang hati", jawab Luca tersenyum.


Sesaat kemudian, Belinda selesai menyiapkan semua kebutuhan bosnya itu.


"Apa masih ada yang nona butuhkan?", tanya Belinda dengan hormat.


"Cukup. Kau boleh kembali ke hacienda sekarang. Oh ya, katakan kepada Trota kami akan menginap disini malam ini", ujar Alana.


"Baik nona. Kalau begitu saya permisi kembali ke hacienda".


Alana menganggukkan kepalanya. Setelah pelayan itu pergi. "Aku ingin berendam sekarang tubuhku bau sengatan matahari. Kau mau bergabung dengan ku tuan Luca?", goda Alana mendekati suaminya sambil mengusap lembut dada dan perut berotot itu.

__ADS_1


Luca tersenyum melihatnya. "HM, tawaran yang menggiurkan. Dengan senang hati..."


...***...


__ADS_2