BRIDESMAID

BRIDESMAID
JAWABAN VALERIA


__ADS_3

"Biar aku membantumu, password nya?", tanya Valeria menatap Felipe yang terlihat memegang bahunya.


Felipe menyebutkan angka-angka dan Valeria segera menekan tombol sesuai ucapan Felipe. Pintu pun terbuka.


Apartemen Felipe sangat mewah diisi furniture-furniture berkelas bernuansa coklat tua menunjukkan sang pemilik menyukai nuansa klasik.


Felipe duduk di sofa, menyandarkan punggungnya dengan sedikit meringis. "Ternyata dokter itu benar, sekarang aku merasakan linu", batinnya.


Sementara Valeria melihat berapa lukisan di dinding, semuanya beraliran impresionisme sangat indah dengan warna-warna alam yang cerah. Netra Valeria menatap tulisan kecil di bawah lukisan simbol huruf LFC beserta tanggal pembuatan. "LFC artinya apa Felipe? Apa singkatan nama kekasih mu?", ucap Valeria tanpa menatap Felipe yang meringis kesakitan. Gadis itu pindah melihat lukisan yang lainnya.


"Felipe?", ucapnya lagi.


Valeria menatap Felipe yang memegang bahunya nampak benar-benar kesakitan. Valeria kaget dan menghampirinya. Duduk di sebelah laki-laki itu. "Felipe, apa sangat sakit? HM...sebaiknya kau rebahan saja. Dimana kamar mu?", tanya Valeria mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan luas itu.


"Yang di katakan dokter itu ternyata benar, sekarang punggung dan bahu benar-benar sakit. Valeria, bisakah kau mengambilkan air minum, aku mau meminum obat penghilang nyeri", ujar Felipe sambil menyugar rambutnya kebelakang.


"Kau harus makan dulu, Felipe. Kau tidak boleh minum obat dalam keadaan perut kosong. Lebih baik kau rebahan di kamar mu, ayo aku bantu. Kemudian aku akan memasak makanan untuk mu. Pantry nya di sana kan?"


"Iya", jawab Felipe.


Valeria membantu Felipe berdiri, memegang lengannya. Dan mengikuti langkah Felipe menuju ke sebuah pintu. Valeria membantunya membuka pintu itu.


Saat pintu terbuka, aroma parfum Felipe menyeruak memenuhi indera penciuman Valeria. Ia sangat hapal aroma mahal itu. Dan kalau boleh jujur Valeria sangat menyukainya. Citrus bercampur harum Woody sangat maskulin.


Valeria membantu Felipe membuka kemejanya. Valeria bersusah payah menelan salivanya saat di hadapannya terpampang tubuh bagian atas Felipe. Cepat-cepat Valeria mengalihkan perhatiannya.


"Dimana ruang wardrobe mu? Kau harus berganti pakaian bersih agar tubuh mu nyaman", ucap Valeria menjauh dari Felipe dan mencari wardrobe. "Oh di sini rupanya?"


Tak berapa lama Valeria keluar walk in closet dengan membawa kaos polos dan training panjang. "Kau bisa kan membersihkan tubuh mu? sementara aku akan memasak makanan mu".


"Tangan kanan ku rasa nya nyeri sekali Vale. Aku tidak bisa membuka kancing celana ku", ucap Felipe dengan santainya.

__ADS_1


"Hah? Hem...baiklah, aku akan membantu mu, kemari!", ucap Valeria memejamkan mata sementara jemari tangannya membuka pengait celana Felipe. Sudah. Sekarang kau bisa melepaskan sisanya di kamar mandi. Aku akan memasak", ucap Valeria cepat-cepat keluar kamar tanpa menunggu jawaban Felipe.


Setelah Valeria keluar, Felipe tertawa duduk di tempat tidur nya. "Dua hari... lumayanlah untuk kami lebih dekat lagi", ucap Felipe tersenyum sambil memegang bahunya. "Tapi rasanya memang sakit", gumamnya meringis.


Sementara itu Valeria nampak berpikir sejenak. "Felipe membuat ku sangat gugup. Jantung ku rasanya mau copot begini".


"Ah ada-ada saja masalah yang menimpa ku hari ini. Akhirnya aku harus bersama Felipe selama dua hari. Tapi mau bagaimana lagi, ia sudah menyelamatkan aku tadi.Sekarang aku yang harus merawatnya".


Valeria membuka lemari es dan melihat ada apa saja di dalam sana. Valeria tercekat melihat isi lemari es Felipe sangat lengkap dan tersusun rapi.


"Apa Felipe yang menatanya begitu rapi seperti ini? atau ada orang lain yang tinggal di sini? Tapi aku tidak melihat siapapun di apartemen ini", batin Valeria sambil mencuci bersih asparagus dan memotongnya memanjang.


Tidak butuh waktu yang lama bagi Valeria untuk memasak menu simpel Soup asparagus jamur dan mashed potato lada hitam. Menu andalan yang sangat di sukai nya.


Valeria menata menu di atas tatakan dan menaruhnya di atas bed tray yang ada di sudut kitchen set pantry.


Gadis itu segera kembali ke kamar Felipe. Ternyata laki-laki itu tertidur dengan posisi menyamping. Valeria menaruh bed tray di atas nakas. Ia hendak membangunkan Felipe, namun tak melanjutkannya. Kedua matanya menatap lekat wajah tampan Felipe yang tampak pulas dan damai.


"Sudah puas menyentuh wajah ku, hem?"


Felipe membuka matanya.


Kedua netra Valeria melotot. Wajahnya langsung merona. Malu. Seperti maling yang tertangkap basah. Cepat-cepat Valeria menarik tangan nya. Namun jemari tangan Felipe menahannya dan membawa jemari gadis itu ke dadanya.


"Hm... Felipe M-Maaf kan aku. Jemari tangan ku spontan saja. Aku hendak membangunkan mu, aku sudah memasak makanan mu. Sebaiknya kau makan dan minum obat", ucap Valeria terbata-bata karena gugup.


Felipe menarik pelan lengan Valeria hingga gadis itu berada di atas tubuhnya.


Jemari tangan kokoh Felipe menarik tengkuk Valeria dan me*umat dengan lembut bibir nya. Felipe memperdalam ciumannya, membuat Valeria tersengal-sengal.


"Akh.."

__ADS_1


Hingga terdengar de*ahan lolos dari mulut Valeria. Felipe begitu hebat mencium nya. Membuat tubuh Valeria bergidik gemetaran. Valeria terbawa suasana, ia kooperatif dengan membalas ciuman itu. Keduanya berciuman mesra, hingga Felipe membalikkan tubuh Valeria di bawah kungkungan tubuhnya.


Jemari tangan Valeria mengusap lembut dada bidang Felipe, kemudian beralih memeluk erat punggung Felipe. Dan..


"Ahh..."


Valeria membuka matanya. "Maaf. Aku menyakitimu. Aku lupa kau sedang sakit. Sebaiknya kau makan sekarang", ucap Valeria sambil merapikan kancing kemejanya yang sudah terbuka sebagian.


Valeria berusaha menutupi malunya. Jemari tangannya merapikan rambutnya. Sementara Felipe duduk di hadapannya.


"Vale, apa kau ingat dengan janji mu? Hari ini waktu mu sudah habis. Kau janji akan memberikan jawaban ungkapan perasaan aku tempo hari", ucap Felipe sambil menatap intens wajah Valeria yang terlihat pucat.


"Aku sabar menunggu jawaban mu. Aku pikir dua minggu sudah lebih dari cukup kau memiliki jawaban mu".


Valeria membalas tatapan Felipe. Tiba-tiba ia menghambur memeluk tubuh laki-laki itu. "Iya, A-ku menerima mu. Aku mau menjadi kekasih mu Felipe. Tapi kau harus sabar pada ku, mungkin aku sangat membosankan bagi mu yang sudah terbiasa dengan wanita. Hubungan ku selalu kandas di tengah jalan dan rata-rata kekasih ku lah yang memutuskan aku, katanya aku gadis membosankan", ucap Valeria jujur tentang dirinya.


"Aku menyukai wanita yang membosankan, wanita seperti itu membuatku semakin penasaran", jawab Felipe tersenyum.


Valeria mengangkat wajahnya menatap Felipe. "Felipe, LFC singkatan dari apa? Aku melihatnya di lukisan milik mu yang ada di luar".


"Luigi Felipe Calderón"


"Nama lengkap mu, ya?"


"Hem.."


"Aku boleh menanyakan satu pertanyaan lagi kan? Isi kulkas mu sangat lengkap dan rapi. Apakah kau yang menatanya serapi itu?"


Felipe tersenyum mendengar perkataan Valeria. Bukannya jawaban yang di dapatkan Valeria, tapi ciuman mesra lah yang di dapatkan nya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2