BRIDESMAID

BRIDESMAID
UNGKAPKAN PERASAAN


__ADS_3

Dante tersenyum di ruang kerjanya melihat bagaimana konferensi pers yang dilakukan Laura yang di dampingi Xavi dan tim nya.


Pagi tadi saat keduanya makan pagi di apartemen, Laura mengatakan perasaannya sangat gugup dan takut. Sebenarnya Laura meminta Dante untuk menemaninya pada saat konferensi pers, tapi Dante mengatakan alasan nya kenapa ia tidak bisa mendampingi Laura. Seperti ucapan Xavi seminggu lalu yang meminta ia dan teman-temannya hanya berada di belakang layar saja, sampai Escobar benar-benar terjerat barulah aman.


Sebenarnya Dante sangat ingin menemani Laura. Namun demi kebaikan bersama Dante memilih mengikuti anjuran temannya Xavi. Xavi benar, saat melihat Dante bersama Laura orang-orang pasti mengaitkannya dengan teman-teman nya juga. Dante tidak mau Luca dan yang lainnya terancam.


Hingga Dante mengantar Laura menuju kantor Xavi. Jemari tangan Dante tak lepas menggengam erat tangan Laura, memberikan kekuatan untuk gadis itu. Belum ada kepastian tentang hubungan keduanya. Namun Laura dan Dante sama-sama menikmati kebersamaan mereka. Walau tak sekalipun Laura melewati batasan selama tinggal bersama Dante. Bahkan tak sekalipun ia masuk ke kamar pribadi laki-laki itu.


Tok..


Tok..


"Masuk!"


Terlihat Alex membuka pintu. "Tuan, pergerakan saham milik tuan Escobar telah menyentuh angka terendah. Satu persatu investor menyatakan ingin hengkang", ucap Alex menjelaskan.


Dante mengusap dagunya. "Berikan pada ku daftar perusahaan laki-laki itu, aku ingin tahu bisnisnya bergerak di bidang apa saja".


"Baik tuan. HM...maaf tuan apakah tuan bermaksud mengakuisisi perusahaan tuan Escobar?". Alex bertanya dengan sangat hati-hati.


"Iya. Aku memiliki rencana akan hal itu", jawab Dante dengan senyum smirk diwajahnya.


Beberapa saat kemudian..


Ceklek..


Dante dan Alex melihat siapa yang membuka pintu. Ternyata Xavi dan Laura yang terlihat lebih tenang, tidak seperti pagi tadi.


"Bagaimana dude?"


"Apa kau tidak melihat streaming? atau televisi?", jawab Xavi duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya.

__ADS_1


Sementara Laura menuju balkon. Ia sedang berbicara dengan Alana melalui handphone yang di berikan Dante dengan nomor baru, hanya untuk ia berkomunikasi dengan orang dekat saja.


"Kau bisa lihat dampaknya pada bisnis laki-laki itu sekarang. Sahamnya anjlok hanya dalam hitungan menit saja", ujar Xavi menyandarkan kepalanya pada punggung sofa.


"Iya. Aku sudah melihatnya", jawab Dante.


"Kau bisa langsung mengakuisisi perusahaan bajingan itu. Well... gadis mu sudah aku antar dengan selamat pada mu. Sekarang aku harus kembali kekantor ku, beberapa saat lagi aku ada sidang", ucap Xavi sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Terimakasih untuk semua bantuan mu, dude".


"Tenanglah...kasus ini bukan masalah sulit karena semua bukti ada dan lengkap. Yakinlah Laura pasti memenangkan kasus ini. Aku dan teman-teman yang lain sudah tidak sabar melihat mu melamar gadis itu, Dante. Kami semua tahu kau mencintainya", ucap Xavi menepuk pundak sahabat baiknya itu sambil membalikkan badannya keluar ruangan Dante.


Dante tak bergeming. Ia mencerna ucapan Xavi barusan yang mengatakannya mencintai Laura. "Cinta. Apa benar aku mencintai Laura?", gumam Dante pada dirinya sendiri.


"Kemana Xavi? Apa ia sudah pergi?", tanya Laura yang baru saja selesai berbicara dengan Alana melalui saluran telepon.


Dante tak menggubris pertanyaan Laura, laki-laki itu masih sibuk dengan pikirannya sendiri. "Cinta..."


Spontan Dante menatap gadis cantik itu. "Kau dari mana?"


"Sehabis berbicara dengan Alana. Memangnya ada apa, kenapa kau terlihat berbeda?", selidik Laura menatap lekat wajah Dante.


Dante mengusap tengkuknya, sekilas menundukkan kepalanya.


"Uh... sepertinya teman-teman ku benar. Aku menyukai mu Laura", ucap Dante.


Laura mengeryitkan alisnya. Kata-kata itu sudah sering di dengar Laura terucap dari bibir Dante. Tidak ada yang aneh.


"Tapi bukan hanya sekedar suka, aku juga jatuh hati padamu Laura. Aku mencintaimu", ucap Dante tegas. Ia yakin dengan perasaannya saat ini. Sejak pertama membantu Laura, kemudian beberapa hari mereka tinggal bersama semakin membuat perasaan Dante berkembang untuk Laura. Ia senang berbicara dengan gadis itu, ia senang melihat Laura memasak untuknya, ia juga senang bisa berdekatan dan menyentuh Laura.


Laura melebarkan kedua matanya. "Dante... A-pa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan? Bukankah diri mu tidak mau berkomitmen?"

__ADS_1


"Semuanya berubah. Sejak aku mengenalmu, Laura", tegas Dante menatap lembut manik coklat terang Laura yang juga menatap Dante.


"Maukah kau mencobanya dengan ku, Laura?"


"Dante, A-ku...A-ku bukanlah gadis yang baik. K-au tahu itu. Kehidupan masa laluku akan selalu menjadi bagian hidup ku. Kau pasti menginginkan wanita baik-baik yang sempurna untuk mendampingi mu", ucap Laura nyaris tak terdengar. Laura menundukkan kepalanya.


Dante menggenggam jemari tangan Laura, membawa keatas pahanya. "Aku laki-laki dewasa Laura. Aku juga bukan laki-laki suci. Bagiku masa lalu akan selalu menjadi masalah lalu. Yang terpenting saat ini, menyongsong masa depan yang lebih baik. Aku akan menerima mu apa adanya, dengan kelebihan dan kekurangan mu. Karena yang ku lihat diri mu saat ini. Laura Mancini yang bersama ku beberapa hari ini, wanita apa adanya yang polos dan hobi memasak makanan enak untuk ku. Itulah yang membuatku jatuh cinta padanya", ujar Dante menatap lembut Laura yang juga menatap manik hitam Dante dengan mata berkaca-kaca.


"D-Dante...A-ku".


Laura tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Kristal bening menyentuh wajahnya. Ia terharu mendengar kata-kata Dante. Laki-laki yang membuat nya merasa aman dan terlindungi setelah ayahnya. Laki-laki yang mendekap tubuhnya dengan hangat di saat masalah berat menderanya.


Laura menghambur memeluk tubuh Dante. "Aku juga mencintaimu Dante. Aku menyayangimu", ucap Laura dengan suara bergetar.


Dante memejamkan matanya sambil mengusap lembut punggung Laura. Dante mengangkat dagu Laura dan membingkai wajahnya. Perlahan Dante mendekatkan wajahnya menyatukan bibirnya pada bibir Laura yang terasa dingin dan bergetar.


"Sepertinya kita harus segera menemui ayah mu di Australia. Aku sudah tidak sabar menikahi putrinya", ucap Dante sambil mengusap bibir Laura.


"Semoga masalah dengan Escobar cepat selesai sehingga kita bisa menikah", ucap Dante lagi.


Wajah Laura merona, mendengar perkataan Dante. Perasaannya benar-benar bahagia saat ini. Ternyata dibalik kejadian yang menimpanya, takdir mendekatkan nya dengan laki-laki yang sering di temui nya. Namun tidak pernah sekalipun bertegur sapa.


Laura menyandarkan wajahnya pada dada bidang Dante sambil memainkan kancing kemeja laki-laki itu. Keduanya berpelukan mesra di sofa berukuran besar di ruang kerja Dante.


"HM...kenapa kau selama ini tidak mau menikah, Dante? Kau tampan dan kaya pasti banyak wanita antri menginginkan mu", tanya Laura. Sebenarnya pertanyaan yang sangat ingin ditanyakan nya pada Dante sejak beberapa hari yang lalu tapi ditahannya dalam hati saja.


Dante mengecup pucuk kepala Laura sambil mengusap lembut punggung nya. "Karena ternyata takdir tahu mana yang baik untuk ku, mengirim kan wanita yang bisa membuat perasaan ku bergetar dan aku jatuh cinta padanya".


...***...


TINGGALKAN JEJAK YA 🙏

__ADS_1


__ADS_2