
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 10...
...------- o0o -------...
TOK! TOK! TOK!
"Della, buka pintu, dong."
Lama tak ada jawaban. Kuulangi, "Della. Aku ingin tidur di kamar kamu, Del."
Tak lama pintu terbuka. "Ngapain, sih, lu? Malem-malem berisik!"
"Aku ingin tidur sama kamu. Di kamar kamu," aku merengek sambil mengusap-usap kepala yang tadi berbenturan dengan tembok.
Della memperhatikan kepalaku. "Emang ada apa di kamar elu? Terus itu kepala, kenapa juga diusap-usap gitu? Elu ngigo?"
Aku berpikir sejenak. "Aku mimpi buruk. Nih, kepalaku sampai kejedot. Aku takut, Del."
"Hhmmm ... cuma mimpi?" Della mencibir. "Kirain ada pangeran berbulu masuk kamar elu?"
"Pangeran berbulu?" Aku bingung. Jangan-jangan yang dia maksud itu papanya. Itu berarti Della sudah mencium gelagat aku menyukai ....
__ADS_1
"Maksud gue ... genderuwo, Cuy! Hahaha!" Jawab Della lengkap dengan tawanya.
Ah, syukurlah. Tak seperti yang kusangkakan. Masih aman!
"Dasar kamu!"
"Ya, udah. Masuklah. Molor."
"Iya, Del."
Aku memasuki kamar Della dengan perasaan lega. Sempat risau tadi dengan kata-katanya. Ataukah suatu saat kelak dia akan tahu juga tentang perasaanku pada Om Bram? Berbahaya!
...------- o0o -------...
Dilematis ... itulah kata yang paling tepat menggambar kondisi hatiku saat ini. Jatuh cinta teramat dalam pada sosok laki-laki pujaan. Entah karena fisik ataukah sikapnya selama ini? Aku sendiri bingung. Di usia muda dan belum pernah menjalin hubungan serius dengan lelaki mana pun, rasa ini mendadak luluh lantak begitu dekat dengannya. Bramanditya Satriadireja. Seorang laki-laki berusia lebih dari empat puluh tahun dengan segala aura dan pesona luar biasa. Sanggup membuat mata-hati buta serta menghilangkan kewarasan seketika. Terdengar aneh dan tak lazim. Namun itulah yang terjadi.
Mungkinkah karena telah lama aku tak merasakan kehangatan kasih sayang seorang bapak? Begitu pilu hingga tak bisa dilupakan hingga saat ini. Kehilangan sosok panutan di saat tubuh ini masih tumbuh berkembang. Terbujur kaku dan dingin tanpa mampu mengucapkan salam perpisahan atau pun memeluk erat untuk terakhir kali. Aku hanya menangis dan menangis dalam dekapan Mbok. Perempuan tua yang juga ikut menyusul kepergian Bapak sesaat sebelum pengumuman kelulusan sekolah tingkat atasku.
Aroma hangat dan begitu menyejukkan terasa lekat ketika mengenal Om Bram. Mengisi hampir setiap rongga hati yang lama tak tersentuh. Berbarengan dengan gejolak kedewasaan yang kian membuatku butuh akan hadirnya sesosok laki-laki idaman. Entahlah, pilihan ini jatuh padanya. Bukan Andre si laki-laki berdarah Eropa, atau juga Ryan, pemuda sebaya yang pernah membuatku hampir kehilangan kesucian.
"Maaf, Alya. Aku tak ingin merusak hidupku dan hidupmu. Masa depan kita," ujar Ryan seraya melepas dekapannya pada tubuhku yang sudah hampir polos.
"Ryan .... " panggilku perlahan. Memprotes perlakuan pemuda itu mengurungkan pelukan. "Lakukanlah sesukamu. Aku .... "
"Tidak, Lya. Maaf, aku gak bisa," ujar Ryan menjauh.
"Ryan .... " Aku berusaha menarik tubuhnya agar mendekat, tapi dia tetap menolak.
__ADS_1
Pemuda itu melempar botol minuman di pinggir kasur, lalu berucap, "Semua gara-gara minuman laknat ini! Aku tak berniat menidurimu, Lya. Tadinya hanya ingin membuktikan efek obat pemberian salah satu temanku." Ryan mendengkus keras. "Sasaranku sebenarnya bukanlah kamu, Lya. Tapi ... Ratna!"
"Aku tak peduli apa pun yang kamu bicarakan itu, Ryan," kataku masih memaksa menarik tubuhnya. "Aku hanya inginkan kamu."
Kembali Ryan mendorong tubuhku hingga terjerembap di atas kasur. "Tidak, Lya. Maafkan aku."
"Ayolah, Ryan. Aku sudah tak tahan."
Kembali aku harus menerima penolakan pemuda itu. Otak ini rasanya sulit dikontrol. Hentakan kewanitaanku kian menguat. Melupakan rasa malu yang seharusnya melindungi kesucian dan muruah. Semua terjadi setelah beberapa saat meneguk minuman pemberian Ryan. Perlahan namun pasti, kegelisahan mendekap hasrat. Berharap sentuhan-sentuhan jemari dan bibir dia berlanjut menyusuri area sensitif tubuh ini.
"Pakai kembali bajumu, Lya. Aku tak ingin apa yang kita lakukan ini, diketahui oleh Bu Bariah. Pemilik rumah kontrakanku." Ryan menyodorkan sehelai baju yang sempat terlepas tadi. Dia bangkit sambil menarik kembali celana panjangnya yang sudah melorot sebatas lutut. Kemudian bergegas mengambil segelas air mineral untuk kuminum. "Ayo, aku antar kamu pulang sampai kontrakanmu. Mumpung belum pagi."
Setengah sadar, aku menuruti permintaan Ryan. Pikiran kacau dan masih dalam pengaruh obat yang dia maksud.
"Ryan .... " Aku memeluk pemuda itu saat hendak membantu berdiri. "Aku ingin .... "
"Sudahlah, Lya. Ayo, kita pulang," kata Ryan menepis dekapanku dengan kasar.
Laki-laki sialan! Tak tahu diri! Tadi dia memaksaku meminum air mineral dalam kemasan botol itu. Sekarang seakan-akan tak merasa bersalah membiarkan gejolak hasrat ini menghentak kuat. Ataukah mungkin dia tak normal?
"Antara kita tak pernah terjalin hubungan apa-apa, Lya. Kita cuma teman biasa. Lagipula ... aku tak mempunyai rasa apa-apa sama kamu. Maafkan aku, ya," tutur Ryan setelah tiba mengantarku hingga depan pintu kos, menggunakan sepeda motornya. "Aku pamit pulang, ya, Lya."
Pemuda itu langsung tancap gas begitu aku masuk ke dalam kamar. Berbaring di atas kasur dengan sisa perasaan aneh yang membelai setiap persendian. Begitu rindu akan sentuhan-sentuhan lembut di sepanjang lekuk tubuhku. Hanya bisa memeluk guling dengan erat, hingga kantuk pun datang menyergap.
Setelah kejadian itu, Ryan seperti berusaha menghindar tiap kali hendak berpapasan denganku. Ada saja alasan yang dikemukakan jika dipinta berbicara secara empat mata. Sampai kemudian, kami pun tak pernah lagi bertegur sapa. Semua kembali seperti sedia kala. Saling terdiam bagai tak pernah berjumpa sama sekali. Kecewa? Sebenarnya tidak. Toh, sebelumnya aku tak menaruh perasaan apa pun padanya. Hanya geram saja karena dia sempat menyentuh sebagian tubuh ini dengan percuma.
Hari-hariku dilewati dengan resah dan tak bersemangat. Itulah makanya, lebih betah berdiam di dalam perpustakaan ketimbang berbaur dengan teman-teman kuliah lain. Di samping karena alasan efisiensi ekonomi, juga karena ingin kembali ke niat awal untuk sungguh-sungguh belajar demi masa depan. Di tempat itu pula aku bertemu Della. Gadis cantik berkulit putih, anak orang kaya, namun menutup diri dari pergaulan. Tak ada teman dekat maupun sosok kekasih yang pernah terlihat. Aneh ....
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...