BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 73


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 73...


...------- o0o -------...


“Alya ….” sapa laki-laki itu begitu kutemui di depan rumah pemilik kontrakan. Ternyata benar, tamu yang dimaksud tadi adalah dia, si Andre. Aku hanya membalasnya dengan senyuman kecut. “Kamu dari kemaren dicari-cari Pak Bram, Della, dan juga aku. Bahkan semaleman aku terpaksa nginep di kontrakannya si Alex. Kamu masih kenal ‘kan temenku yang kontrakannya gak jauh dari sini?”


Plak!


Aku melupakan yang satu itu. Benar adanya. Dulu Andre sempat menceritakan temannya yang bernama Alex itu. Mengapa tidak terlintas sedikitpun di benak ini? Pasti sebelumnya si Bule yang satu ini mengawasi tempat sekitar sini melalui dia.


“Terus, kamu mau ngapain ke sini?” tanyaku judes. Laki-laki itu cengengesan, lantas menjawab, “Ya, nyari kamu, Lya.”


“Buat apa nyari aku?” Kembali kubertanya tanpa sedikitpun mau beramah-tamah dengan dia, salah satu kelompok pembohong itu. Jawab Andre, “Kamu pergi tanpa pamit, Lya. Orang-orang di rumah―”


“Memangnya siapa kamu? Siapa mereka? Urusan sama hubungannya apa denganku?” cecarku terus menghujani Andre dengan berbagai pertanyaan.


Laki-laki itu menggaruk kepala. Aku tahu, pasti bukan karena faktor ketomber. Namun pusing mendapatkan pertanyaan demi pertanyaan dariku. Sampai-sampai si Bule ini pun balik bertanya, “Kok, kamu nanyanya ‘gitu sih, Lya?”


“Terserah aku dong, mau tanya apa juga. Lagian yang berkepentingan datang ke sini itu siapa? Kamu atau aku?” Aku semakin bersemangat untuk bersikap apatis dan jutek.


Andre tampak mengernyit. Pasti merasa aneh dengan sikapku ini. Pastilah … masa tidak, sih.


“Kamu ini kenapa sih, Lya? Kamu marah?”


“Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya?” tanyaku kembali bertanya-tanya untuk menanyai yang bertanya. “Baik, aku jawab yaaa … kelihatannya ‘gimana?” Lagi-lagi aku malah mempertanyakan penanya pertanyaan. Duh, ribet amat nulis kalimat di paragraph ini!


Andre kembali menggaruki kepalanya. Kali ini bahkan lebih lama durasinya ketimbang yang pertama tadi. Hhmmm, pusing-pusing deh itu otak, Ndre!

__ADS_1


“Kamu ini jadi aneh begini,” keluh Andre tampak kebingungan. “Kamu sehat ‘kan, Lya?”


“I’m just fine, dong. Emangnya do you think apa?”


Andre menggeleng-geleng. Mungkin keheranan dan itu semakin menambah semangatku untuk terus tidak menunjukkan muka bersahabat pada sosok tersebut. “A-aku bingung ….” desah laki-laki berkulit putih itu. “Kemaren-kemaren kamu masih normal, Lya. Kenapa sekarang jadi berubah? Aku bikin kesalahan sama kamu ya, Lya?”


Nah, ini dia! Mengapa justru baru sekarang dia bicara seperti itu? Mengapa tidak dari awal-awal saja mengaku dan jujur kalau sebenarnya dia dan mereka sedang mempecundangiku?


“Kalo kamu waras, kamu pasti nyadar sendiri dong, Ndre! Gak usah nanya macem-macem ‘gitu sama aku,” kataku ketus. “Tanyain dong, kenapa aku kayak ‘gini sekarang, begitu!”


“Tadi ‘kan aku nanyanya begitu, Lya.”


O, iya! Baru sadar aku. Hhmmm ….


“Ya, terus … jawabannya apa biar kamu gak nanya-nanya?” Aku masih bertahan bersikap judes, biar sosok yang satu ini lekas angkat kaki dari sini. Mengganggu saja. Pagi-pagi kok, sudah bertamu. Mending lagi kalau sambil membawakan menu sarapan atau apalah, begitu. Contoh, nasi kuning yang ditaburi telur balado. Terus memakai toping bihun dan bawang goreng. Selain itu, kuliner untuk pagi-pagi masih banyak lagi. Bubur sukabumi, bubur cianjur, bubur bogor, dan terus ke sana sampai ke daerah Jabodetabek.


“Loh, yang seharusnya ngejawab ‘kan kamu, Lya. Bukan aku. Masa nanya sendiri, dijawab sendiri?” protes Andre mirip netizen lokal yang suka julid urusan konten orang lain.


Baru saja aku mau menimpali, tiba-tiba Mbak Darmi muncul dari belakang. Serunya sambil memperhatikan Andre, “Ya, ampuuunnn … ada tamu kok, ndak diajak masuk sih, Ndok? Ayo, masuk yuk, Mas,” ajaknya seraya mendekat dan menarik lengan lelaki tersebut.


“Opo, Ndok? Cah bagus koyok ngene ojo ditinggal metu. Luwih becik diajak mlebu supaya atos dalemne. Hi-hi!” kata Mbak Darmi seraya cekikikan genit.


(Apa, Dik? Anak ganteng seperti ini jangan diantepin. Mendingan diajak masuk supaya keras **********)


Haduh, si Mbak! Tidak boleh bertemu barang bagus, langsung keluar aslinya. Yang paling menyebalka, tentu saja si Andre itu. Dia cengengesan sendiri begitu ditarik-tarik Mbak Darmi.


“Ayo, Cah bagus … sampean mau pesan opo?” tanya Mbak Darmi begitu Andre duduk di kursi.


“Gak usah deh, Mbak. Saya ke sini juga cuman mau ketemu sama Alya,” jawab Andre merasa senang sendiri kini.


Sejenak, Mbak Darmi melirik-lirik padaku dan Andre. “Sampean berdua ini … sepasang kekasih?” tanyanya sambil memperagakan kedua kuncup jemari tangannya diadu-adukan.


“Kita―” Belum selesai aku menjawab, buru-buru Andre memotong.

__ADS_1


“Iya, Mbak! Bener!” katanya dengan nada bersemangat. “Saya sama Alya … sudah lama ngejalin hubungan serius. Iya ‘kan, Lya?” tanyanya padaku.


“Idiihhh … najis!” kataku menirukan gaya artis pendatang baru saat diwawancarai wartawan infotainment di stasiun TV. “Sejak kapan kamu sama aku pacaran? Weeewww … ngaku-ngaku aja!”


“Huuss, Alya! Ojo ngono, Ndok! Ora ono sopan santun dadi wong wedok,” omel Mbak Darmi.


(Hus, Alya! Jangan begitu, Dik! Tidak ada sopan-sopannya jadi anak perempuan)


“Lagian … dianya juga kurang ajar, Mbak!” kataku membela diri. “Ngaku-ngaku pernah pacaran. Preeettt!”


“Huuss! Prat-pret … prat-pret! Opo iku? Koyok swarane wong kentut!”


Andre mesem-mesem sendirian.


“Apaan lu ketawa-ketawa? Emang elu ngerti bahasa Jokaw?” tanyaku kesal sekali melihat tampang Andre itu.


Jawab Andre langsung menghentikan cengengesannya, “Maaf, Alya, maaf ….”


Hhmmm, merasa enak dia. Kali ini ada yang membela. Mbak Darmi. Entah apa alasannya. Apa karena kakakku itu baru melihat cowok keren? Huh, padahal … kelakuannya tidak beda jauh dengan papanya. Pembohong besar. Siapa lagi kalau bukan si ….


“Sebentar ya, Cah Bagus. Saya buatin kopi saja, mau?” Mbak Darmi menawari Andre minuman dan langsung diangguki laki-laki tersebut. “Tunggu, ya. Saya mau ke dapur dulu.”


“Oh, iya, Mbak!” sahut Andre kembali mesem-mesem ke arahku.


Begitu Mbak Darmi pergi ke dapur, aku langsung mendekati Andre dan langsung berkata, “Heh, kenapa malah duduk? Bukannya kamu mau segera pergi?”


Jawab Andre, “Looohhh, kalo aku pergi, terus siapa yang minum kopi buatan Mbak tadi. Eh, siapa namanya, ya? Dia Mama atau Tantemu, sih?”


Aku tidak ingin menjawab. Namun menggerak-gerakan pipi sebelah kanan sebagai tanda protes atas keberadaannya di sini.


“Aku datang ke sini tanpa sepengetahuan Pak Bram maupun Della loh, Lya,” imbuh Andre berkata. “Perasaanku dari kemaren, mikirnya … kayaknya kamu bakalan balik lagi ke kontrakan lama di sini. Makanya aku nyuruh si Alex buat mata-matain kamu dari kemaren sore. Begitu dapet kabar, Subuh ini aku langsung datang ke TKP.”


“Pentingnya apa buatku?” Aku semakin tidak menyukai pembicaraan ini. Ingin secepatnya laki-laki itu pergi menjauh dan tidak pernah lagi bertemu.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2