BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 71


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 71...


...—---- o0o —----...


Seturun dari taksi, aku membeli kartu perdana terlebih dahulu untuk mengganti nomor lama, agar tidak bisa lagi dihubungi oleh keluarga Om Bram atau juga Andre. Pokoknya tidak ingin kembali berhubungan dengan orang-orang itu lagi. Semuanya harus dikubur dalam-dalam dan aku pergi menghilang tanpa meninggalkan satu jejak pun.


Hari ini … detik ini … aku memantapkan diri untuk segera menjauh dari Om Bram. Tidak peduli lagi dengan harapan semula agar bisa bersanding bersama lelaki tersebut. Kekecewaan hati ini sudah tidak lagi dapat ditawar-tawar. Walaupun rasa itu masih tersisa.


"Ya, ampun … Alya? Kenapa, Ndok?" tanya Mbak Darmi begitu kuhubungi menggunakan nomor baru. "Apa yang terjadi dengan kamu? Kok, mendadak begitu, Ndok?"


Aku menarik napas berat sebelum menjawab melalui ponsel. "Ndak, Mbak. Ora ono opo-opo. Alya hanya ingin pulang saja. Kangen karo Mbak."


(Tidak ada apa-apa. Kangen pada Mbak.)


Kupalingkan wajah ini ke sekitar area terminal. Memperhatikan beberapa orang yang sibuk dengan berbagai aktivitasnya masing-masing.


"Owalaahh … tak kiro ono opo toh, Ndok," ujar Mbak Darmi dari seberang sana. "Lah, terus … piye karo kuliahmu? Durung wisuda kok ditinggal? Nanti kalo Le-mu takon, piye jawabne?"


(Ya, ampun … dikira ada apa, Dek. Terus, bagaimana kuliahmu? Belum wisuda kok ditinggal? Nanti kalau Uwak-mu tanya, bagaimana jawabnya, coba?)


Aku mendengkus sejenak. Mencari-cari alasan yang tepat agar Mbak Darmi tidak lagi bertanya-tanya atau menaruh kecurigaan.

__ADS_1


"Untuk sementara, Alya cuti dulu deh, Mbak," kataku akhirnya. "Lagipula, kalo kuliah itu 'kan, bisa dilanjut kapan-kapan."


Sepiker menderu sebentar. Mungkin Mbak Darmi mendengkus juga di sana. Sampai kemudian membalas kata, "Yo, wis. Sakarepmu bae-lah, Ndok. Mbak di sini hanya bisa ngelingi, mumpung kamu masih muda, opo ndak dipikir dulu? Rampungin kuliahmu sampai selesai. Baru setelah itu, mulih."


(Ya, sudah terserah kamu saja, Dek. Mbak di sini hanya bisa mengingatkan, mumpung kamu masih muda, apa tidak dipikir-pikir dulu? Selesaikan kuliahmu sampai beres. Setelah itu, barulah pulang kampung)


Aku tidak bisa menjelaskan duduk persoalannya. Lagipula malu rasanya jika harus berterus terang. Masa gara-gara seorang lelaki pujaan, aku menyerah di tengah jalan? Apalagi perjalan hidupku di kota besar ini belum begitu lama. Masih tersisa setengahnya lagi untuk bisa menyelesaikan jenjang pendidikan ini.


Namun, bagiku jelas-jelas tidak akan menyelesaikan masalah jika tetap berada di kota ini. Pasti Om Bram atau juga Della akan terus-terusan mendatangi, membujuk, dan meminta aku agar kembali tinggal bersama mereka. Tidak. Aku tidak mau. Percuma saja. Selama masih bertemu lelaki tersebut, hati ini tidak akan pernah merasa tenang.


"Apa Mbak saja yang datang berkunjung ke tempat kosan kamu, Ndok?" tanya Mbak Darmi berlanjut begitu lama aku tidak merespons ucapannya tadi. "Mbak hanya menyayangkan saja dengan pendidikan kamu. Kedua orangtuamu sudah menitipkankanmu karo aku, jadi sedikitnya … Mbak-mu ini merasa ikut bertanggungjawab dengan masa depan kamu loh, Ndok? Kamu paham, toh?"


Kupikir, iya juga, sih. Ada benarnya juga Mbak Darmi berkata. Perjalananku tidak sebentar dan biaya yang sudah keluar pun tidaklah sedikit. Apa mungkin aku harus menyerah begitu saja, mengorbankan harapan sendiri serta orang-orang tersayang di kampung.


Dulu masih ingat akan wejangan dari Si Mbok, 'Kamu itu anakku satu-satunya, Alya. Bapakmu sudah meninggal. Ndak ada lagi harapan untuk aku, Mbok-mu, kecuali ingin sekali melihat kamu jadi orang sukses dan berpendidikan tinggi. Ojo koyok Mbok-mu atau Bapak-mu iku, loh. SD saja ora tamat.'


Sekarang Mbok dan Bapak sudah tiada. Harapan satu-satunya yang bisa membantu hanya Mbak Darmi, anaknya Pak Le Sunyoto. Sebagian harta warisan sudah dijual dan kupergunakan untuk biaya hidup dan kuliah di Jakarta ini.


"Kalau kamu mau, sekarang juga Mbak berangkat deh, ke Jakarta, Ndok," ucap Mbak Darmi di pengujung obrolan. "Kamu ndak usah mulih dulu. Tetep di sana melanjutkan pendidikan kamu. Piye, Ndok?"


Aku berpikir beberapa saat, kemudian menjawab, "Yo, wis-lah, Mbak. Alya manut Karo Mbak Darmi."


(Ya, sudahlah kalau begitu. Alya menurut saja apa kata Mbak Darmi)


"Nah, begitu dong," ujar Mbak Darmi terdengar semringah. "Itu baru keponakan Mbak. He-he.'


Namun sekarang masalahnya adalah di mana Mbak Darmi harus menemuiku? Berhubung sudah lama tidak lagi menetap di kontrakan lama. Dia tahunya aku masih menetap di sana. Sama sekali tidak mengetahui tentang hubunganku dengan keluarga Om Bram.

__ADS_1


Ah, perkara itu nanti saja dipikirkan. Sekarang yang menjadi fokus benak ini adalah menghilang untuk sementara waktu. Paling-paling juga, mereka akan mencari-cariku di tempat kuliah. Perihal tersebut akan kutangani kelak.


"Nanti kalau Mbak sudah sampai di Jakarta, hubungi Alya dulu, ya? Jangan langsung ke tempat kontrakan. Takutnya Alya lagi ndak ada di tempat," kataku beralasan.


"Oohhh, iya … iya. Itu sudah pasti," balas Mbak Darmi dari seberang telepon. "Yo, wis … Mbakne siap-siap dulu, ya? Mau berangkat hari ini juga."


"I-iya, Mbak. Hati-hati di jalan," kataku mengingatkan.


Usai sudah percakapan kami. Selanjutnya aku harus berpikir, akan dimana untuk seharian ini menetap. Setidaknya sampai menunggu Mbak Darmi datang keesokan hari. Perkiraan, mungkin akan tiba di waktu petang atau mungkin juga malam.


Apa aku coba saja mendatangi tempat kosanku yang dulu? Siapa tahu masih belum ditempati orang lain. Terpenting sekarang adalah jangan sampai Mbak Darmi tahu bahwa aku sudah lama tidak menetap di sana. Mencoba saja terlebih dahulu. Mudah-mudahan memang masih kosong.


Berbekal tabungan yang masih tersisa banyak, aku segera bergegas mencari angkutan umum untuk menuju tempat kosan yang dulu. Untungnya, uang kiriman dari Mbak Darmi setiap bulan, tidak pernah sekalipun aku pergunakan. Selama tinggal bersama keluarga Om Bram, biaya hidup serta kuliah sepenuhnya ditanggung oleh lelaki tersebut. Bukan apa-apa, dia sendiri yang pernah melarangku untuk mengeluarkan uang sendiri.


Sekarang yang kupikirkan, pasti Om Bram sedang mencari-cari. Andre, Della, atau juga Bi Mamas. Mereka pasti panik begitu mengetahui bahwa aku sudah tidak ada di rumah. Hi-hi. Kasihan sekali. Makanya, jangan suka mempermainkan perasaan orang. Apalagi aku perempuan. Perawan pula. Eh?


Tidak bisa dibayangkan, jika nomor ponselku yang sebelumnya masih aktif, mereka pasti akan sibuk menghubungi. Waduh, apa yang harus dilakukan? Membiarkan? Tidak mengindahkan? Memblokir nomor-nomor orang-orang tersebut? Hi-hi-hi. Lucu sekali.


Lucu? Ya, begitulah. Membayangkan raut wajah mereka yang panik atau risau begitu mengetahui kalau aku sudah kabur. Hi-hi. Om Bram … Bi Mamas … atau Della ….


Della? Ya, Tuhan … a-aku kok, mendadak jadi tidak tega. Tiba-tiba saja sedih. Dia baru saja pulang dari rumah sakit, terus mendapatiku tidak ada di rumah. Bagaimana, ya? Belum pula aku tidak ikut menjemputnya. Pasti bakal turut bertanya-tanya. Lantas apa yang bakal dijawab oleh Om Bram nanti. Hhmmm, yakin sekali kalau laki-laki itu tidak akan mengatakan yang sesungguhnya. Bohong lagi dan lagi.


Apakah aku menghubungi Della saja, ya? Mengabarkan situasi dan keberadaanku kini. Cukup dia seorang yang mengetahui nomor baru ini. Toh, lama-lama juga dia akan menemukanku di kampus. Soal Andre? Biarlah untuk sementara aku hindari saja dia.


Dengan perasaan risau dan ragu, perlahan-lahan aku mengusap layar ponsel. Mencari-cari nomor Della dan mengirimnya sebuah pesan.


[Del, ini aku. Alya. Tolong jangan dulu menghubungi aku via telepon. Cukup melalui pesan kayak 'gini aja. Maafin aku, ya? Aku gak ikut jemput kamu di rumah sakit. Aku lagi ada urusan penting.]

__ADS_1


Beberapa saat aku termenung, berpikir antara mengirimkan pesan tersebut atau mengurungkannya. Kirim … enggak, kirim … enggak. Kirim? Enggak! Kirim? Enggak?


...BERSAMBUNG...


__ADS_2