BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 24


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 24...


...------- o0o -------...


“Lya! Bisa waras gak, sih, lu?” seru Della kesal rupanya. Bram mendelik. Tawaku terhenti perlahan.


“Bisa ... bisa banget!” Aku menepuk paha Della keras-keras. Dia sampai meringis seraya mengusap-usap. “Aku cinta sama Om Bram sebagaimana aku mencintai kedua orangtua sendiri, apa itu salah?”


Della dan Bram menarik napas panjang. Lega kini, mungkin. Laki-laki itu menggelengkan lesu. “Enggak. Gak ada yang salah, kok, Lya. Kamu benar,” ujarnya dengan bibir gemetar menahan haru.


“Hhmmm ... gue pikir laen, Cuy. Haduh! Apa otak gue aja yang kebanyakan makan sikap telmi elu,” seru Della seraya menyandarkan punggung di kursi. “Memangnya kamu mikir apa, sih, Del? Kok, bisa sampai mengira yang macam-macam begitu?” Aku kini yang tak habis heran melihat sikap mereka berdua. “Kagak! Gue sehat! Waras!” jawab gadis itu kesal.


“Terus sekarang bagaimana?” Kulihat Bram melihat-lihat ke arah lain sambil garuk-garuk kepala. Seketika dia menoleh dan menodongkan telunjuknya padaku. “Kitaaa ... Aha, kita makan sekarang. Tuh, pesanannya sudah datang!”


Seorang pekerja kantor berpakaian serba biru masuk ke dalam ruangan, setelah sebelumnya mengetuk pintu. “Maaf, Pak. Agak lama,” kata pegawai tersebut. Dia menaruh makanan di atas meja.


“Lama amat, sih, Mas?” Della cemberut menatap pegawai tersebut. “Iya, maaf, Mbak. Tadi di belakang agak repot,” jawabnya diiringi senyum. “Tapi masih untung juga Mas datang,” lanjut Della. “Kalo enggak, bisa jantungan kita di sini.” Mata gadis itu melirik sejenak padaku.


“Del .... “ Bram mengingatkan.


“Maksudnya bagaimana, sih, Del?” Aku menebak-nebak.


“Udah, gak usah dibahas,” Della berkilah. “Kalo gak segera makan, kita semua bisa jantungan di sini.”


Bram tiba-tiba tersedak. Hampir saja tawanya pecah. “Papah batuk?” Spontan kusodorkan minuman.


Papah? What! Garing banget kesannya dan tak sedap didengar. Della sempat menoleh sejenak. Memperhatikanku sedemikian rupa.


“Terima kasih, Sayang,” ujar Bram dengan wajah bersemu merah. Tersenyum manis menerima minuman yang kuberikan.

__ADS_1


Duh, Tuhan! Entah mengapa tiba-tiba aku merindukan saat-saat dulu. Kala di mana laki-laki itu memperlakukan diri ini dengan sensasi yang sanggup membuatku mabuk kepayang. Sekarang? Ah, terasa biasa saja.


“Iya, Pah,” jawabku datar. Terus terang tak ingin balas menatap mata itu untuk kedua kali. Tidak dan tak akan mau.


Della menyikutku. “Papah? Gak salah, kan, apa yang gue denger!” Dia tertawa di balik tangannya. Terheran-heran aku bertanya, “Lho, kenapa? Katanya tadi—“


“Aneh aja kedengerannya, Cuy.” Della tergelak.


“Del .... “ Bram mengingatkan.


Pekerja yang mengantarkan makanan tadi sempat ikut tersenyum. “Saya permisi dulu, ya, Pak dan juga Mbak-Mbak.”


“Terima kasih, ya, Mas,” ujar Della di antara sisa tawanya tadi.


Hhmm ... sandiwara macam apa ini? Aku harus kelihatan tegar sementara hati ini ingin berteriak kuat. Memaki dunia yang tak berlaku adil. Adakah hal yang lebih pantas kudapatkan selain keadaan saat ini?


“Alya gak makan?” Suara Bram menghentak lamunan. “Aku sedang makan, Om eh, Pah!” kutepuk mulut ini seketika. Salah sedikit.


Della dan Bram saling pandang. “Makan apaan, Cuy? Dari tadi elu cuma ngaduk-ngaduk minuman,” seru Della mengejutkan.


“Masa, sih?” Aku memperhatikan minuman di tangan. Tak ada yang aneh. Kecuali putaran air dingin dalam gelas. “Minumanku tidak pakai es batu, ya?”


Bram lagi-lagi tersenyum. “Ternyata kamu lucu juga, Alya.”


“Ah, Om Bram ini. Eh, Papah .... “ Mendadak seperti kehilangan gaya gravitasi bumi. Kulihat kedua kaki masih menapak di lantai. Lantas rasa apakah yang terbang? Leher inikah yang memanjang?


Sial! Jujur, sih, aku tersiksa sekali harus memanggil laki-laki itu ‘Papah’. Lebih nyaman dan indah seperti dulu, Om Bram. Bram, Om Bram, Bram, Om Bram! Panggilan ‘Papah’ seperti hendak menjauhkan asa ini. Ataukah justru dengan status sekarang ini, aku bisa bergerilya dengan aman tanpa harus khawatir kecurigaan Della? Bisa lebih dekat dengan Bram bertamengkan hubungan anak-bapak, misalnya.


“Cuy, makan!” Della menyentak.


Aku menoleh. “Apaan, sih?”


“Makan! M-a-k-a-n!” Della memperagakan jarinya menyuap ke mulut.


“Iya, Del. Ini juga mau makan, kok.” Kuambil sesendok nasi dari tempat nasi. Dan .... “Uhuk! Ya, ampun!”

__ADS_1


“Kenapa lagi, sih?” Della terkejut.


“Nasiku dingin?!”


Della memperhatikan makananku. Kemudian beralih pada segelas minuman yang sudah habis seperempatnya. Tak lama gelaknya pecah membahana. Bram pun tak dapat menahan tawa.


“Oh, maaf. Rupanya .... “ Aku segera berlari ke toilet yang ada di dalam ruangan Om Bram. Kumuntahkan semua makanan yang masih berada dalam mulut. Dingin.


Sial! Mengapa aku bisa seceroboh itu, sih? Rasanya tak ingat sama sekali pernah menuangkan isi gelas minuman itu ke tempat nasi. Faktanya seperti itu. Hhmmm ... ini pasti gara-gara Om Bram. Sebisa mungkin melakoni akting berpura-pura bahagia, nyatanya masih saja ambyar.


Kulihat wajahku di balik cermin. Pantaskah cinta ini kubiarkan melebur sendiri, ataukah layak untuk dipertahankan? Lebih pantas mana jika harus bersanding di samping Bram, sebagai anak atau pasangan tak seumuran?


‘Hai, kaca! Berilah aku jawaban! Please!’


Lama termenung menatap diri di sana. Bimbang harus melangkah seperti apa. Sekarang ragu ke luar ruangan toilet ini, akibat kekonyolan yang diperbuat tadi. Di saat-saat seperti ini ingin rasanya berteriak sekencang mungkin. Yakin sekali, penyanyi sekelas Whitney Housten maupun Mariah Carrey akan kalah beradu oktav.


“Alya, kamu baik-baik saja, kan?” tanya Bram begitu aku kembali ke ruangan semula. “Ndak apa-apa. Om,” jawabku singkat. “Serius, Cuy?” Della turut perhatian.


Aku menganngguk pelan.


“Gue barusan pesenin makanan tambahan. Elu makan dulu, deh, gih.” Della menambahkan.


“Ndak usah, deh, Del. Aku kenyang.”


“Kenyang apaan? Elu, kan, belum makan.”


“Nanti saja di rumah.”


Bram menengahi. “Ya, sudah. Bawa aja makanan ini ke rumah, ya. Papah masih lama pulangnya. Malam ini ada jadwal pertemuan dengan klien kerja.”


“Gak pulang lagi, Pah?” Della cemberut. Bram tersenyum. “Mungkin agak maleman. Soalnya akan berlanjut makan malam bersama nanti.”


“Oke. Kita pulang sekarang, deh,” ujar Della akhirnya. “Gimana, Cuy? Kita balik sekarang, ya.”


“Aku bilang juga masih kenyang, Del. Nanti saja makan di rumah, deh,” jawabku setengah malas menjawab. Della dan Bram melongo.

__ADS_1


“Beneran, ya. Elu kayaknya butuh istirahat panjang, deh.” Della menggeleng-geleng.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2